Headlines News :

Latest Post

Tampilkan postingan dengan label babad pati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label babad pati. Tampilkan semua postingan

Legenda Sendang Sani di Pati

Desa Sani tidak begitu dikenal oleh masyarakat kebanyakan. Walaupun begitu Desa Sani mempunyai kenangan tersendiri yang tidak mudah dilupakan oleh penduduknya. Desa Sani sebenarnya berasal dari sebuah sendang yang ditempati oleh seekor bulus, penjelmaan dari seorang abdi Sunan Bonang.
Pada Zaman dahulu, khususnya di Jawa, banyak berdiri kerajaan-kerajaan Islam. Khususnya kerajaan Demak yang didirikan oleh Raden Patah. Di Demak terkenallah para wali yang giat menyebarkan agama islam. Para Wali itu berjumlah sembilan orang dengan sebutan “Wali Songo”. Di antara kesembilan wali itu terdapatlah seorang wali bernama Sunan Bonang. Pada suatu hari Sunan Bonang akan pergi ke Gunung Muria untuk menjumpai Sunan Muria. Beliau ditemani oleh dua orang abdinya. Di tengah perjalanan beliau merasa haus dan kegerahan karena matahari yang begitu teriknya bersinar. Kemudian beliau menyuruh salah seorang abdinya mencari air untuk minum dan wudlu.

Abdi tersebut diberi petunjuk oleh Sunan Bonang untuk mencari sumber air di bawah sebuah pohon rindang. Untuk memudahkan pekerjaan, Sunan Bonang membekali abdinya dengan sebuah tongkat sakti untuk ditancapkan di bawah pohon tersebut. Maka dalam waktu yang tidak terlalu lama, abdi itu pun berhasil menemukan pohon rindang seperti yang diinginkan oleh Sunan Bonang. Dengan segera ditancapkannya tongkat sakti ke tanah. Dan ajaib! Dari tempat itu keluarlah air yang memancar terus-menerus. Maka dalam waktu yang singkat tempat itu telah menjadi sebuah sendang. Karena gembiranya lupalah ia akan pesan Sunan Bonang. Ia segera turun ke sendang untuk minum dan mandi , menghilangkan dahaga dan kegerahannya.

Karena dirasa abdinya tak junjung kembali, maka Sunan Bonang memutuskan untuk mencarinya. Setelah mencarinya kesana kemari, akhirnya ditemukan juga abdinya itu. Betapa terkejutnya Sunan Bonang ketika melihat abdinya sedang asyik mandi. Maka dengan segera ditegurnyalah abdi itu. Dikutuknya abdi itu, “Lho kamu saya suruh, tidak membawa air, malah mandi seperti Bulus”. Maka dalam sekejap saja abdi Suanan Bonang berubah menjadi seekor bulus. Ketika bulus bercermin di air sendang, menangislah ia melihat bentuk tubuhnya dari manusia menjadi seekor bulus. Ia minta maaf kepada Sunan Bonang, tetapi perkataan atau kutukan tidak mungkin ditarik kembali. Tidak mungkin sudah meludah dijilat balik, demikian pepatah mengatakan. Abdi Sunan Bonang yang telah menjadi bulus tidak diperkenankan ikut menuntaskan perjalanan ke Gunung Muria. Ia disuruh tinggal di sendang untuk menjaga sendang tersebut.

Sunan Bonang berujar, “Aku namakan sendang ini Sendang Sani dan kelak tempat ini akan diberi nama desa Sani”. Setelah berujar demikian maka Sunan Bonang pun kembali menuntaskan perjalanan bersama abdinya yang seorang lagi. Beliau melanjutkan perjalanan ke Gunung Muria untuk berunding dengan Sunan Muria mengenai masalah keagamaan. Demikian sekelumit cerita tentang asal-usul desa Sani. Tentang kebenarannya belum diketahui secara pasti. Sampai sekarang Sendang itu masih tetap asri seperti dulu.

Untuk menghormati penghuni sendang tersebut, maka oleh masyarakat dibuatkanlah suatu tempat khusus. Konon, barang siapa yang berani mengganggu tempat tinggal bulus tersebut, maka orang yang mengganggunya akan jatuh sakit. Dari cerita di atas hendaknya kita dapat mengambil hikmah. Bahwa apabila kita mendapat suatu kepercayaan untuk melaksanakan suatu pekerjaan hendaknya kita laksanakan sebaik-baiknya dan dengan penuh rasa tanggung jawab. Pepatah mengatakan “Sekali Lancang, seumur hidup orang tak akan percaya”. Sekali orang melakukan kesalahan atau berdusta orang tidak akan mempercayainya lagi.

Asal Mula Nama Kabupaten Jepara

Asal mula nama Jepara berasal dari perkataan Ujung Para, Ujung Mara dan Jumpara yang kemudian menjadi Jepara, yang berarti sebuah tempat pemukiman para pedagang yang berniaga ke berbagai daerah. Menurut buku “Sejarah Baru Dinasti Tang (618-906 M) mencatat bahwa pada tahun 674 M seorang musafir Tionghoa bernama I-Tsing pernah mengunjungi negeri Holing atau Kaling atau Kalingga yang juga disebut Jawa atau Japa dan diyakini berlokasi di Keling, kawasan timur Jepara sekarang ini, serta dipimpin oleh seorang raja wanita bernama Ratu Shima yang dikenal sangat tegas. Jepara baru dikenal pada abad ke-XV (1470 M) sebagai bandar perdagangan yang kecil yang baru dihuni oleh 90-100 orang dan dipimpin oleh Aryo Timur dan berada dibawah pemerintahan Demak. Kemudian Aryo Timur digantikan oleh putranya yang bernama Pati Unus (1507-1521). Pati Unus mencoba untuk membangun Jepara menjadi kota niaga. Pati Unus dikenal sangat gigih melawan penjajahan Portugis di Malaka yang menjadi mata rantai perdagangan nusantara. Setelah Pati Unus wafat digantikan oleh ipar Faletehan / Fatahillah yang berkuasa (1521-1536). Kemudian pada tahun 1536 oleh penguasa Demak yaitu Sultan Trenggono, Jepara diserahkan kepada anak dan menantunya yaitu Ratu Retno Kencono dan Pangeran Hadirin (suami). Namun setelah tewasnya Sultan Trenggono dalam Ekspedisi Militer di Panarukan Jawa Timur pada tahun 1546, timbulnya geger perebutan tahta kerajaan Demak yang berakhir dengan tewasnya Pangeran Hadiri oleh Aryo Penangsang pada tahun 1549.Kematian orang-orang yang dikasihi membuat Ratu Retno Kencono sangat berduka dan meninggalkan kehidupan istana untuk bertapa di bukit Danaraja. Setelah terbunuhnya Aryo Penangsang oleh Sutowijoyo, Ratu Retno Kencono bersedia turun dari pertapaan dan dilantik menjadi penguasa Jepara dengan gelar NIMAS RATU KALINYAMAT.

Pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat (1549-1579),Jepara berkembang pesat menjadi Bandar Niaga utama di Pulau Jawa, yang melayani eksport import. Disamping itu juga menjadi Pangkalan Angkatan Laut yang telah dirintis sejak masa Kerajaan Demak. Sebagai seorang penguasa Jepara, yang gemah ripah loh jinawi karena keberadaan Jepara kala itu sebagai Bandar Niaga yang ramai, Ratu Kalinyamat dikenal mempunyai jiwa patriotisme anti penjajahan. Hal ini dibuktikan dengan pengiriman armada perangnya ke Malaka guna menggempur Portugis pada tahun 1551 dan tahun 1574. Adalah tidak berlebihan jika orang Portugis saat itu menyebut sang Ratu sebagai “RAINHA DE JEPARA’ SENORA DE RICA”, yang artinya Raja Jepara seorang wanita yang sangat berkuasa dan kaya-raya.

Serangan sang Ratu yang gagah berani ini melibatkan hamper 40 buah kapal yang berisikan lebih kurang 5.000 orang prajurit. Namun serangan ini gagal, ketika prajurit Kalinyamat ini melakukan serangan darat dalam upaya mengepung benteng pertahanan Portugis di Malaka, tentara Portugis dengan persenjataan lengkap berhasil mematahkan kepungan tentara Kalinyamat.Namun semangat Patriotisme sang Ratu tidak pernah luntur dan gentar menghadapi penjajah bangsa Portugis, yang di abad 16 itu sedang dalam puncak kejayaan dan diakui sebagai bangsa pemberani di Dunia.

Dua puluh empat tahun kemudian atau tepatnya Oktober 1574, sang Ratu Kalinyamat mengirimkan armada militernya yang lebih besar di Malaka. Ekspedisi militer kedua ini melibatkan 300 buah kapal diantaranya 80 buah kapal jung besar berawak 15.000 orang prajurit pilihan. Pengiriman armada militer kedua ini di pimpin oleh panglima terpenting dalam kerajaan yang disebut orang Portugis sebagai ““QUILIMO”.Walaupun akhirnya perang kedua ini yang berlangsung berbulan-bulan tentara Kalinyamat juga tidak berhasil mengusir Portugis dari Malaka, namun telah membuat Portugis takut dan jera berhadapan dengan Raja Jepara ini, terbukti dengan bebasnya Pulau Jawa dari Penjajahan Portugis di abad 16 itu. Sebagai peninggalan sejarah dari perang besar antara Jepara dan Portugis, sampai sekarang masih terdapat di Malaka komplek kuburan yang di sebut sebagai Makam Tentara Jawa. Selain itu tokoh Ratu Kalinyamat ini juga sangat berjasa dalam membudayakan SENI UKIR yang sekarang ini jadi andalan utama ekonomi Jepara yaitu perpaduan seni ukir Majapahit dengan seni ukir Patih Badarduwung yang berasal dari Negeri Cina.

Menurut catatan sejarah Ratu Kalinyamat wafat pada tahun 1579 dan dimakamkan di desa Mantingan Jepara, di sebelah makam suaminya Pangeran Hadirin. Mengacu pada semua aspek positif yang telah dibuktikan oleh Ratu Kalinyamat sehingga Jepara menjadi negeri yang makmur, kuat dan mashur maka penetapan Hari Jadi Jepara yang mengambil waktu beliau dinobatkan sebagai penguasa Jepara atau yang bertepatan dengan tanggal 10 April 1549 ini telah ditandai dengan Candra Sengkala TRUS KARYA TATANING BUMI atau terus bekerja keras membangun daerah.

Asal Mula Desa Wirun

Ing kabupaten Pati ana desa sing diarani desa Wirun. Desa Wirun ana ing kecamatan Winong kabupaten Pati propinsi Jawa Tengah. Sejarah ngadege desa Wirun ana ing jaman Majapahit. Nalika jaman semana ana wanita sing Jenenge Lasiah utawa sing diundang kanthi jeneng mbah Ndhawik. Nalika semana Lasiah lagi nggoleki kang mase sing jenenge Citra Bangsa Lan Rante Wulung, Citra Bangsa uga lagi mbabad alas ana ing kabupaten Pati. Citra Bangsa wis mbabad alas Sing diwenehi jeneng Alas Mojorembun, dijenengake Majarembun amarga ing alas kuwi ditemokake wit Maja ing jaman Majapahit. Desa Mojorembun uga isih sakelurahan karo desa Wirun. sawise mubeng anggone nggoleki Citra Bangsa lan ketemu ing Mojorembun, dheweke uga mbabad alas ing sisihe alas sing dibabad Citra Bangsa. Nalika mbabad alas Lasiah uga ndhuduk sumur ana ing tengah sawah, lan ing sisishe sumur kuwi ana wit ase singumure wis tuwa banget lan nganti saiki sumur lan wi asem kuwi iseh. Sumur kuwi diarani sumur sawah, amarga panggonane ing tengah sawah. Nadyan sumur kuwi digawe lan ora disemen nanging banyu ing sumur kuwi tetep bening lan ora tau asat nadyan lagi etiga dawa. Uga banyu ing sumur kuwiora asin kaya sumur-sumur liyane sing ana ing desa,. Mula akeh wong sing padha ngangsu kanggo ngombe, lan sing ngangsu sing sumur kuwi ora mung wonng saka desa wirun nanging uga saka desa-desa sisihe. Sumur kuwi sing dadi peninggalane. Lan ana ing cedhake sumur kuwi Lasiah di Makamke.
Desa kuwi dijenengke desa Wirun amarga nalika kuwi Lasiah pinter miru jarik. Amarga kepintarane miru jarik, mula desa kuwi dijenengake desa wirun. Amarga kepinterane miru jarik, akeh wong sing kepengin njaluk lan njukuk sarta nduweni jarike Lasiah. Jarik sing di wiru Lasiah keprungu tekan ngendi-endi, saengga akeh wong sing kenal karo Lasiah amarga kepinterane mau. Mula akeh wong sing padha mara Salah sijine sing kepengin nduweni jarike Lasiah yaiku Danyang (wong sing mbabad alas ngedegake desa) Pulorejo (Mbingung), danyang Bumiharjo (Mbothok) lan Dhanyang desa Tanggel.

Amarga ora diwenehi mula wong-wong kuwi pada tumindak serik lan nduweni kekarepan sing ala. Saengga padha meksa supaya diwenehi jarike. Pungkasane jarike Lasiah dicolong. Ngerti yen jarike dicolong, Lasiah susah lan nesu. Saengga kakane uaga melu nesu, muka kakange njaluk karo Lasiah supaya bisa nemukake jarike. Lasiah pamitan karo kakange kanggo nggoleki lan ngoyak wong sing nyolong jarike. San saya suwe Lasiah ngerti sapa wonge sing nyolong jarike. Wong sing nyolong jarike yaiku danyang Mbingung. Mula kanthi tekad sing kuat Lasias ngoyak danyang Mbingung kanggo njaluk supaya jarike mbalik.

Ana ing tengah sawah (alas) lasiah perang karo danyang Mbingung. Ing peperngan kuwi danyang mbingung kalah lan mlayu. Lan lasiah kasil njukuk jarike sing dicolong. Nanging kanca-kancane padha ora trima lan padha ngoyak Lasiah, Lasiah mlayu ndhelik ana ing tengah alas. Ngerti yen adhine lagi dioyak-oyah, Cirtra Bangsa nggoleki Lasiah ana ing alas. Sawise ketemu, lasiah didhelikake. Amarga Lasiah iseh digoleki mula Lasiah nyamar supaya wong-wong padaha ora ngerti. Sawise wis ora geger maneh Lasiah bali ana ing desa Wirun. Lasiah banjur ngomong yen wong Wirun ora kena rabi karo wong Mbingung. Mula nganti wektu sing suwe ora ana sing wani nglanggar omongane mau. Nanging kairing majune jaman siki wis ana sing nglanggar pantangan kuwi. Lasiah uga ngomong yen sumur ing tengah sawah kuwi banyune ora asin, ora kaya banyu ing sumur-sumur liyane ing desa. Amarga yen sumur kuwi asin mula ora ana sing bakal ngangsu lan oara bakal ana sing ngopeni.

Sawise kuwi Lasiah nerusake anggone mbabad alas kanggo nggedhekake desane. Lan nglestarekake uga nularake kepinterane miru jarik karo anak putune. Amarga pinter Lasiah (mbah Ndhawik) pinter miru jarik mula yen ana reja-rejane jaman desa kiwi dijenengka desa Wirun. Mula kuwi Lasiah njaga lan nduweni tanggung jawab sing abot supaya jarike ora ilang maneh. Lsiah susah yen jarike ilang maneh. Kanggo ngormati perjuangane Lasiah sing ngadegake lan mbabad alas ing tanah Wirun, mula yen saben taun dianakake tasyukuran lan kirim donga. Tasyukuran kuwi diarani sedekah bumi, utawa nyedekahake asil bumi, lan ngresiki desa biyasane dianakake saben sasi Apit. Lan dianakake tanggapan, biyasane kethoprak sing dhuwite saka dhuwit sing dikumpulake dening warga desa Wirun.

Jejak Prabu Angling Dharma

Prabu Angling Dharma adalah seorang tokoh legenda dalam tradisi Jawa, yang dianggap sebagai titisan Batara Wisnu. Salah satu keistimewaan beliau adalah kemampuannya untuk mengetahui bahasa segala jenis binatang. Selain itu, ia juga disebut sebagai keturunan Arjuna, seorang tokoh utama dalam kisah Mahabharata. Beliau bersama patihnya, Batik Madrim mampu menjadikan Mlowopati menjadi besar dengan memenangi beberapa peperangan penting.
Selain itu beliau juga dikenal sebagai seorang raja yang arif dan bijaksana juga tersohor bisa menundukan bangsa jin.Tersohor juga dengan berbagai macam benda pusaka peninggalanya seperti : Keris Polang Geni, Panah Pasopati, dan lain sebagainya.

Akan tetapi siapa yang tahu bahwa makam dan beberapa peninggalan penting dari Prabu Angling Dharmo berada di kota Pati Jawa Tengah, tepatnya di desa Mlawat (Mlowopati) kecamatan Sukolilo. Kalau dari desa saya, kira-kira berjarak 15 Km-an. Selain itu, di sana juga terdapat makam sang Patih, Batik Madrim. Terdapat juga gua yang sangat dalam yaitu gua Eyang Pikulun Naga Raja Guru Prabu Angling Darma juga tempat pemandian yang sampai sekarang masih di sakralkan oleh penduduk setempat. Dan desa Mlawat sampai sekarang masih menjadi salah satu objek wisata sebagai peninggalan bersejarah yang kerap dikunjungi wisatawan.

Tapi sungguh perihal ini, sepertinya sangat perlu diadakan penelitian lebih lanjut dan kemudian menjadi bagian kekayaan sejarah Indonesia karena semua tertuliskan dan didukung data-data yang valid. Selama ini tentang keberadaan makam Prabu Angling Dharma masih simpang siur karena hanya bersifat sejarah dari mulut ke mulut. Mungkin jika Anda adalah warga Bojonegoro akan menolak dengan keras dan bersikukuh mengatakan bahwa makam Prabu Angling Dharma berada di Bojonegoro. Jika tidak demikian, sebutan “Laskar Angling Dharma” sebagai warga Bojonegoro mungkin akan ditarik kembali.

Prabu Angling Dharma memang pernah bersinggah di Bojonegoro saat mengalami masa hukuman dan kutukan menjadi burung Belibis. Beliau dihukum oleh Dewi Uma dan Dewi Ratih karena melanggar janji sendiri untuk tidak menikah lagi sebagai wujud cintanya kepada Dewi Setyowati yang mati bunuh diri. Dianggap melanggar janji saat Dewi Uma dan Dewi Ratih menguji keteguhan janji itu dengan cara menyamar menjadi nenek-nenek dan gadis cantik menyerupai Dewi Setyowati. Dan runtuhlahlah iman sang Prabu. Kemudian beliau dikutuk kedua kalinya oleh seorang putri raksasa yang cantik dan pemakan manusia sebagai burung Belibis. Dan pada perjalanan selanjutnya sampailah beliau di Wonosari, Bojonegoro dan kisah selanjutnya beliau memperistri Dewi Srenggono, Trusilo, dan Mayangkusuno dan kemudian mempunyai beberapa putra.

Dan hal terpenting yang perlu dicatat adalah sang Prabu pernah kembali ke kerajaan Mlowopati beserta istri dan putranya karena saat itu Mlowopati diserang Raja Raksana Pancadnyono. Dan atas kembalinya sang Raja Mlowopati, dimenangilah peperangan itu walaupun Batik Madrim dan pasukanya sempat kwalahan. Akan tetapi belum diketahui secara pasti apakah sang Prabu menetap di Mlowopati sampai akhir hayat atau tidak. Sehingga sampai saat ini masih menjadi perdebatan yang panjang perihal letak makam Prabu Angling Dharma.

Selain di Bojonegro, tak sedikit yang menganggap bahwa makam Angling Dharma terdapat di tanah Sunda beserta kerajaanya. Dan lebih menarik lagi oleh beberapa orang juga disebutkan Angling Dharma pernah di Temanggung (lereng Gunung Sumbing), tepatnya di daerah Kedu, arah ke Parakan.

Walaupun demikian, saya masih meyakini bahwa makam Prabu Angling Dharma berada di desa Mlawat, kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jateng. karena di sana juga terdapat Sendang Nogorojo dan Sendang Nogogini (Nogogini adalah istri dari Naga Pertala, sahabat Angling Dharma).

Salam KWS_Pati....

Mengenal Bagian-Bagian Pada Keris dan Kegunaannya

Keris adalah sejenis pedang pendek yang berasal dari pulau Jawa, Indonesia.
Keris purba telah digunakan antara abad ke-9 dan 14. Selain digunakan sebagai senjata,keris juga sering dianggap memiliki kekuatan supranatural. Keris terbagi menjadi tiga bagian yaitu mata, hulu, dan sarung. Beberapa jenis keris memiliki mata pedang yang berkelok-kelok. Senjata ini sering disebut-sebut dalam berbagai legenda tradisional, seperti keris Mpu Gandring dalam legenda Ken Arok dan Ken Dedes.

Keris sendiri sebenarnya adalah senjata khas yang digunakan oleh daerah-daerah yang memiliki rumpun Melayu atau bangsa Melayu.Pada saat ini, Keberadaan Keris sangat umum dikenal di daerah Indonesia terutama di daerahpulau Jawa dan Sumatra, Malaysia, Brunei, Thailand dan Filipina khususnya di daerah Filipina selatan (PulauMindanao). Namun, bila dibandingkan dengan Indonesia dan Malaysia, keberadaan keris dan pembuatnya di Filipina telah menjadi hal yang sangat langka dan bahkan hampir punah.
Tata cara penggunaan keris juga berbeda di masing-masing daerah. Di daerah Jawa dan Sunda misalnya, keris ditempatkan di pinggang bagian belakang. Sementara di Sumatra, Malaysia, Brunei dan Filipina, keris ditempatkan di depan. Sebenarnya keris sendiri memiliki berbagai macam bentuk, ada yang bermata berkelok kelok (7, 9 bahkan 13), ada pula yang bermata lurus seperti di daerah Sumatera. Selain itu masih ada lagi keris yang memliki kelok tunggal seperti halnya rencong di Aceh atau Badik di Sulawesi.

Bagian-bagian keris

Sebagian ahli tosan aji mengelompokkan keris sebagai senjata tikam, sehingga bagian utama dari sebilah keris adalah wilah (bilah) atau bahasa awamnya adalah seperti mata pisau. Tetapi karena keris mempunyai kelengkapanlainnya, yaitu wrangka (sarung) dan bagian pegangan keris atau ukiran, maka kesatuan terhadap seluruh kelengkapannya disebut keris.

Pegangan keris

Pegangan keris ini bermacam-macam motifnya , untuk keris Bali ada yang bentuknya menyerupai patung dewa, patung pedande, patung raksaka, patung penari , pertapa, hutan ,dan ada yang diukir dengan kinatah emas dan batu mulia .Pegangan keris Sulawesi menggambarkan burung laut. Hal itu sebagai perlambang terhadap sebagian profesi masyarakat Sulawesi yang merupakan pelaut, sedangkan burung adalah lambang dunia atas keselamatan. Seperti juga motif kepala burung yang digunakan pada keris Riau Lingga, dan untuk daerah-daerah lainnya sebagai pusat pengembangan tosan aji seperti Aceh, Bangkinang (Riau) , Palembang, Sambas, Kutai, Bugis, Luwu, Jawa, Madura dan Sulu, keris mempunyai ukiran dan perlambang yang berbeda. Selain itu, materi yang dipergunakan pun berasal dari aneka bahan seperti gading, tulang, logam, dan yang paling banyak yaitu kayu. Untuk pegangan kerisJawa, secara garis besar terdiri dari sirah wingking ( kepala bagian belakang ) , jiling, cigir, cetek, bathuk (kepala bagian depan) ,weteng dan bungkul.

Wrangka atau Rangka

Wrangka, rangka atau sarung keris adalah bagian (kelengkapan) keris yang mempunyai fungsi tertentu, khususnya dalam kehidupan sosial masyarakat Jawa, karena bagian wrangka inilah yang secara langsung dilihat oleh umum . Wrangka yang mula-mula (sebagian besar) dibuat dari bahan kayu (jati , cendana, timoho , kemuning, dll) , kemudian sesuai dengan perkembangan zaman maka terjadi perubahan fungsi wrangka (sebagai pencerminan status sosial bagi penggunanya ). Kemudian bagian atasnya atau ladrang-gayaman sering diganti dengan gading. Secara garis besar terdapat dua macam wrangka, yaitu jenis wrangka ladrang yang terdiri dari bagian-bagian : angkup, lata, janggut, gandek, godong (berbentuk seperti daun), gandar, ri serta cangkring. Dan jenis lainnya adalah jenis wrangka gayaman (gandon) yang bagian-bagiannya hampir sama dengan wrangka ladrang tetapi tidak terdapat angkup, godong dan gandek. Aturan pemakaian bentuk wrangka ini sudah ditentukan, walaupun tidak mutlak. Wrangka ladrang dipakai untuk upacara resmi , misalkan menghadap raja, acara resmi keraton lainnya (penobatan, pengangkatan pejabat kerajaan, perkimpoian, dll) dengan maksud penghormatan. Tata cara penggunaannya adalah dengan menyelipkan gandar keris di lipatan sabuk (stagen) pada pinggang bagian belakang (termasuk sebagai pertimbangan untuk keselamatan raja ). Sedangkan wrangka gayaman dipakai untuk keperluan harian, dan keris ditempatkan pada bagian depan (dekat pinggang) ataupun di belakang (pinggang belakang). Dalam perang, yang digunakan adalah keris wrangka gayaman , pertimbangannya adalah dari sisi praktis dan ringkas, karena wrangka gayaman lebih memungkinkan cepat dan mudah bergerak, karena bentuknya lebih sederhana. Ladrang dan gayaman merupakan pola-bentuk wrangka, dan bagian utama menurut fungsi wrangka adalah bagian bawah yang berbentuk panjang ( sepanjang wilah keris ) yang disebut gandar atau antupan ,maka fungsi gandar adalah untuk membungkus wilah (bilah) dan biasanya terbuat dari kayu ( dipertimbangkan untuk tidak merusak wilah yang berbahan logam campuran ) Karena fungsi gandar untuk membungkus , sehingga fungsi keindahannya tidak diutamakan, maka untuk memperindahnya akan dilapisi seperti selongsong-silinder yang disebut pendok . Bagian pendok ( lapisan selongsong ) inilah yang biasanya diukir sangat indah , dibuat dari logam kuningan, suasa ( campuran tembaga emas ) , perak, emas . Untuk daerah diluar Jawa (kalangan raja-raja Bugis , Goa, Palembang, Riau, Bali ) pendoknya terbuat dari emas , disertai dengan tambahan hiasan seperti sulaman tali dari emas dan bunga yang bertaburkan intan berlian. Untuk keris Jawa , menurut bentuknya pendok ada tiga macam, yaitu (1) pendok bunton berbentuk selongsong pipih tanpa belahan pada sisinya , (2) pendok blewah (blengah) terbelah memanjang sampai pada salah satu ujungnya sehingga bagian gandar akan terlihat , serta (3) pendok topengan yang belahannya hanya terletak di tengah . Apabila dilihat dari hiasannya, pendok ada dua macam yaitu pendok berukir dan pendok polos (tanpa ukiran).

Wilah

Wilah atau wilahan adalah bagian utama dari sebuah keris, dan juga terdiri dari bagianbagian tertentu yang tidak sama untuk setiap wilahan, yang biasanya disebut dapur, atau penamaan ragam bentuk pada wilah-bilah (ada puluhan bentuk dapur). Sebagai contoh, bisa disebutkan dapur jangkung mayang, jaka lola , pinarak, jamang murub, bungkul , kebo tedan, pudak sitegal, dll. Pada pangkal wilahan terdapat pesi , yang merupakan ujung bawah sebilah keris atau tangkai keris. Bagian inilah yang masuk ke pegangan keris ( ukiran) . Pesi ini panjangnya antara 5 cm sampai 7 cm, dengan penampang sekitar 5 mm sampai 10 mm, bentuknya bulat panjang seperti pensil. Di daerahJawa Timur disebut paksi, di Riau disebut puting, sedangkan untuk daerah Serawak, Brunei dan Malaysia disebut punting.

Pada pangkal (dasar keris) atau bagian bawah dari sebilah keris disebut ganja (untuk daerah semenanjung Melayu menyebutnya aring). Di tengahnya terdapat lubang pesi (bulat) persis untuk memasukkan pesi, sehingga bagian wilah dan ganja tidak terpisahkan. Pengamat budaya tosan aji mengatakan bahwa kesatuan itu melambangkan kesatuan lingga dan yoni, dimana ganja mewakili lambang yoni sedangkan pesi melambangkan lingganya. Ganja ini sepintas berbentuk cecak, bagian depannya disebut sirah cecak, bagian lehernya disebut gulu meled , bagian perut disebut wetengan dan ekornya disebut sebit ron. Ragam bentuk ganja ada bermacammacam, wilut , dungkul , kelap lintah dan sebit rontal.

Luk, adalah bagian yang berkelok dari wilah-bilah keris, dan dilihat dari bentuknya keris dapat dibagi dua golongan besar, yaitu keris yang lurus dan keris yang bilahnya berkelok-kelok atau luk. Salah satu cara sederhana menghitung luk pada bilah , dimulai dari pangkal keris ke arah ujung keris, dihitung dari sisi cembung dan dilakukan pada kedua sisi seberang-menyeberang (kanan-kiri), maka bilangan terakhir adalah banyaknya luk pada wilah-bilah dan jumlahnya selalu gasal ( ganjil) dan tidak pernah genap, dan yang terkecil adalah luk tiga (3) dan terbanyak adalah luk tiga belas (13). Jika ada keris yang jumlah luk nya lebih dari tiga belas, biasanya disebut keris kalawija ,atau keris tidak lazim .

Sejarah Asal keris

Sejarah Asal keris yang kita kenal saat ini masih belum terjelaskan betul. Relief candi di Jawa lebih banyak menunjukkan ksatria-ksatria dengan senjata yang lebih banyak unsur Indianya. Keris Budha dan pengaruh India-Tiongkok Kerajaan-kerajaan awal Indonesia sangat terpengaruh oleh budaya Budha dan Hindu. Candi di Jawa tengah adalah sumber utama mengenai budaya zaman tersebut. Yang mengejutkan adalah sedikitnya penggunaan keris atau sesuatu yang serupa dengannya. Relief di Borobudur tidak menunjukkan pisau belati yang mirip dengan keris. Dari penemuan arkeologis banyak ahli yang setuju bahwa proto-keris berbentuk pisau lurus dengan bilah tebal dan lebar. Salah satu keris tipe ini adalah keris milik keluarga Knaud, didapat dari Sultan Paku Alam V. Keris ini relief di permukaannya yang berisi epik Ramayana dan terdapat tahun Jawa 1264 (1342Masehi), meski ada yang meragukan penanggalannya. Pengaruh kebudayaan Tiongkok mungkin masuk melalui kebudayaan Dongson (Vietnam) yang merupakan penghubung antara kebudayaan Tiongkok dan dunia Melayu. Terdapat keris sajen yang memiliki bentuk gagang manusia sama dengan belati Dongson.

Perjalanan Keris Mpu Gandring

Keris Mpu Gandring adalah senjata pusaka yang terkenal dalam riwayat berdirinya Kerajaan Singhasari di daerah Malang, Jawa Timur sekarang. Keris ini terkenal karena kutukannya yang memakan korban dari kalangan elit Singasari termasuk pendiri dan pemakainya, ken Arok.Keris ini dibuat oleh seorang pandai besi yang dikenal sangat sakti yang bernama Mpu Gandring, atas pesanan Ken Arok, salah seorang tokoh penyamun yang menurut seorang brahmana bernama Lohgawe adalah titisan wisnu. Ken Arok memesan keris ini kepada Mpu Gandring dengan waktu satu malam saja, yang merupakan pekerjaan hampir mustahil dilakukan oleh para "mpu" (gelar bagi seorang pandai logam yang sangat sakti) pada masa itu. Namun Mpu Gandring menyanggupinya dengan kekuatan gaib yang dimilikinya. Bahkan kekuatan tadi "ditransfer" kedalam keris buatannya itu untuk menambah kemampuan dan kesaktian keris tersebut. Setelah selesai menjadi keris dengan bentuk dan wujud yang sempurna bahkan memiliki kemampuan supranatural yang konon dikatakan melebihi keris pusaka masa itu. Mpu Gandring menyelesaikan pekerjaannya membuat sarung keris tersebut. Namun belum lagi sarung tersebut selesai dibuat, Ken Arok datang mengambil keris tersebut yang menurutnya sudah satu hari dan haris diambil. Kemudian Ken Arok menguji Keris tersebut dan terakhir Keris tersebut ditusukkannya pada Mpu Gandring yang konon menurutnya tidak menepati janji (karena sarung keris itu belum selesai dibuat) selebihnya bahkan dikatakan untuk menguji kemampuan keris tersebut melawan kekuatan supranatural si pembuat keris (yang justru disimpan dalam keris itu untuk menambah kemampuannya). Dalam keadaan sekarat, Mpu Gandring mengeluarkan kutukan bahwa Keris tersebut akan meminta korban nyawa tujuh turunan dari Ken Arok. Dalam perjalanannya, keris ini terlibat dalam perselisihan dan pembunuhan elit kerajaan Singhasari yakni :

Terbunuhnya Tunggul Ametung
Tunggul Ametung, kepala daerah Tumapel (cikal bakal Singhasari) yang saat itu adalah bawahan dari Kerajaan Kadiri yang saat itu diperintah oleh Kertajaya yang bergelar "Dandang Gendis" (raja terakhir kerajaan ini). Tumapel sendiri adalah pecahan dari sebuah kerajaan besar yang dulunya adalah Kerajaan Jenggala yang dihancurkan Kadiri, dimana kedua-duanya awalnya adalah satu wilayah yang dipimpin oleh Airlangga.
Ken Arok membunuh Tunggul Ametung untuk mendapatkan istrinya yang cantik, Ken Dedes. Ken Arok sendiri saat itu adalah pegawai kepercayaan dari Tunggul Ametung yang sangat dipercaya. Latar belakang pembunuhan ini adalah karena Ken Arok mendengar dari Brahmana Lohgawe bahwa "barang siapa yang memperistri Ken Dedes akan menjadi Raja Dunia".
Sebelum Ken Arok membunuh Tunggul Ametung, keris ini dipinjamkan kepada rekan kerjanya, yang bernama Kebo Ijo yang tertarik dengan keris itu dan selalu dibawa-bawanya kemana mana untuk menarik perhatian umum. Bagi Ken Arok sendiri, peminjaman keris itu adalah sebagai siasat agar nanti yang dituduh oleh publik Tumapel adalah Kebo Ijo dalam kasus pembunuhan yang dirancang sendiri oleh Ken Arok. Siasatnya berhasil dan hampir seluruh publik Tumapel termasuk beberapa pejabat percaya bahwa Kebo Ijo adalah tersangka pembunuhan Tunggul Ametung. Ken Arok yang saat itu adalah orang kepercayaan Tunggul Ametung langsung membunuh Kebo Ijo yang konon, dengan keris pusaka itu.

Terbunuhnya Ken Arok
Setelah membunuh Tunggul Ametung, Ken Arok mengambil jabatannya, memperistri Ken Dedes yang saat itu sedang mengandung dan memperluas pengaruh Tumapel sehingga akhirnya mampu menghancurkan Kerajaan Kediri. Ken Arok sendiri akhirnya mendirikan kerajaan Singhasari.
Rupanya kasus pembunuhan ini tercium oleh Anusapati, anak Ken Dedes dengan ayah Tunggul Ametung. Anusapati, yang diangkat anak oleh Ken Arok mengetahui semua kejadian itu dari ibunya, Ken Dedes dan bertekat untuk menuntut balas. Anusapati akhirnya merancang pembalasan pembunuhan itu dengan menyuruh seorang pendekar sakti kepercayaannya, Ki Pengalasan.
Pada saat menyendiri di kamar pusaka kerajaan, Ken Arok mengamati pusaka kerajaan yang dimilikinya. Salah satu pusaka yang dimilikinya adalah keris tanpa sarung buatan Mpu Gandring yang dikenal sebagai Keris Mpu Gandring. Melihat ceceran darah pada keris tersebut, ia merasa ketakutan terlebih lebih terdengar suara ghaib dari dalam keris tersebut yang meminta tumbal. Ia ingat kutukan Mpu Gandring yang dibunuhnya, dan serta merta mebantingnya ke tanah sampai hancur berkeping-keping. Ia bermaksud memusnahkannya. Namun ternyata keris tersebut melayang dan menghilang. Sementara Anusapati dan Ki Pengalasan merancang pembunuhan tersebut, tiba-tiba keris tersebut berada di tangan Anusapati. Anusapati menyerahkan keris kepada Ki Pengalasan yang menurut bahasa sekarang, bertugas sebagai "eksekutor" terhadap Ken Arok. Tugas itu dilaksanakannya, dan untuk menghilangkan jejak, Anusapati membunuh Ki Pengalasan dengan keris itu.

Terbunuhnya Anusapati
Anusapati mengambil alih pemerintahan Ken Arok, namun tidak lama. Karena Tohjaya, Putra Ken Arok dari Ken Umang akhirnya mengetahui kasus pembunuhan itu. Dan Tohjaya pun menuntut balas.
Tohjaya mengadakan acara Sabung Ayam kerajaan yang sangat digemari Anusapati. Ketika Anusapati lengah, Tohjaya mengambil keris Mpu Gandring tersebut dan langsung membunuhnya di tempat. Tohjaya membunuhnya berdasarkan hukuman dimana Anusapati diyakini membunuh Ken Arok. Setelah membunuh Anusapati, Tohjaya mengangkat dirinya sebagai raja menggantikan Anusapati.
Tohjaya sendiri tidak lama memerintah. Muncul berbagai ketidak puasan baik dikalangan rakyat dan bahkan kalangan elit istana yang merupakan keluarganya dan saudaranya sendiri, diantaranya Mahisa Campaka dan Dyah Lembu Tal. Ketidakpuasan dan intrik istana ini akhirnya berkobar menjadi peperangan yang menyebabkan tewasnya Tohjaya. Setelah keadaan berhasil dikuasai, tahta kerajaan akhirnya dilanjutkan oleh Ranggawuni yang memerintah cukup lama dan dikatakan adalah masa damai kerajaan Singashari. Sejak terbunuhnya Tohjaya, Keris Mpu Gandring hilang tidak diketahui rimbanya.

Sejarah Gunung Merapi

Sewaktu Pulau Jawa diciptakan para desa, keadaannya tidak seimbang. Karena miring ke barat. Ini disebabkan di ujung barat terdapat Gunung Jamurdipo.

Atas prakarsa Dewa Krincingwesi, gunung tersebut dipindahkan ke bagian tengah agar terjadi keseimbangan. Pada saat yang bersamaan, di tengah Pulau Jawa terdapat dua empu kakak beradik, yakni Empu Rama dan Permadi. Keduanya tengah membuat keris pusaka Tanah Jawa. Mereka oleh para dewa telah diperingatkan untuk memindahkan kegiatannya tetapi keduanya bersikeras. Mereka tetap akan membuat pusaka di tengah Pulau Jawa. Maka, Dewa Krincingwesi murka. Gunung Jamurdipo kemudian diangkat dan dijatuhkan tepat di lokasi kedua empu itu membuat keris pusaka. Kedua empu itu, akhirnya meninggal. Terkubur hidup-hidup karena kejatuhan Gunung Jamurdipo. Untuk memperingati peristiwa tersebut, Gunung Jamurdipo kemudian diubah menjadi Gunung Merapi. Artinya, tempat perapian Empu Rama dan Permadi. Roh kedua empu itu kemudian menguasai dan menjabat sebagai raja dari segala makhluk halus yang menempati Gunung Merapi.
Mitos tentang asal-usul Gunung Merapi ini ternyata juga muncul dengan versi lain di Korijaya. Menurut cerita yang terjadi di sana, ketika di dunia ini belum terdapat kehidupan manusia kecuali para dewa di Kahyangan, keadaan dunia pada saat itu tidak stabil, miring dan tidak seimbang. Batara Guru lantas memerintahkan para dewa untuk memindahkan Gunung Jamurdipo yang semula terletak di Laut Selatan, agar Pulau Jawa menjadi seimbang. Gunung itulah yang kemudian dijadikan batas utara Jogyakarta. Sebelum Batara Guru memerintahkan para dewa untuk memindahkan gunung itu, Empu Rama dan Permadi diutus membuat keris pusaka Tanah Jawa. Padahal gunung itu akan dipindahkan di tempat kegiatannya. Karena kedua empu itu diperintah Batara Guru, tak maulah mereka pindah dari situ. Sebab, ada sabda pandhita ratu, datan kenging wola-wali. Artinya, perkataan ratu tidak boleh berubah-ubah atau plin-plan.

Maka, terjadilah pertempuran. Empu Rama dan Permadi menang atas dewa-dewa. Mendengar hal itu, Betara Guru lantas memerintahkan Batara Bayu agar kedua empu itu dihukum. Dikubur hidup-hidup karena membangkang Jamurdipo. Akhirnya, menurut mitos itu, Jamurdipo ditiup dari Laut Selatan oleh Batara Bayu dan terbang kemudian jatuh tepat di atas perapian. Kejadian ini akhirnya mengubur mati kedua empu yang dinilai pembangkang itu. Karena dipindahkan ke perapian, maka Gunung Jamurdipo akhirnya dinamakan Gunung Merapi. Kedua empu itu akhirnya menjadi penguasa makhluk halus yang tinggal di Merapi.
Sesudah peristiwa itu, Barata Narada diutus Batara Guru untuk memeriksa Gunung Merapi. Ternyata ia menemukan ular naga yang belum menghadap para dewa karena terhalang air mata gunung yang bernama Cupumanik. Narada kemudian membawa Cupumanik menghadap para dewa. Cupumanik yang menyebabkan semuanya jadi terlambat, akhirnya dihukum mati. Tetapi Batara Guru murka melihat kenyataan, bahwa Cupumanik menggunakan kesaktiannya sehingga hukuman mati itu tak membawa hasil.

Oleh Batara Guru tubuh Cupumanik kemudian diangkat dan dibanting di atas tanduk lembu Andini. Andini adalah kendaraan pribadi Batara Guru. Tubuh Cupumanik hancur lebur, berantakan dan dari tubuhnya muncul seorang putrid cantik. Namanya Dewi Luhwati. Akibat bantingan yang luar biasa itu, salah satu tanduk Andini patah menjadi dua. Sedang kecantikan Dewi Luhwati membuat Batara Guru terpesona dan jatuh cinta.

DEWI RAYUNGWULAN

Beberapa abad yang silam, di sekitar Gunung Muria bagian tenggara berdiri sebuah kadipaten. Tepatnya di daerah JawaTengah di sekitar kota Pati sekarang. Nama kadipaten itu adalah Carangsoka. Daerahtrya subur makmur, rakyat hidup dan bahagia dan sejahtera. Tanah dan wilayah Carangsoka meliputi sungai Juwana sampai pantai Jawa Tengah bagian utara timur.
Adapun yang menduduki tahta adalah Raden Puspahandungjaya, yang seorang adipati arif dan bijaksana, sehingga sangat dicinta segenap rakyatnya. Adipati Puspahandungjaya mempunyai istri seorang wanita yang ayu patuh anggun, penuh setia dan serta bakti kepada sang suami, yang dikenal sebagai Sang Prameswari. Dalam menjalankan roda pemerintahan Adipati Puspahandungjaya didukung para oleh punggawa Kadipaten Carangsoka. Mereka secara sungguh-sungguh bekerja penuh tanggung jawab, disiplin, dan penuh kejujuran. Para punggawa Kadipaten Carangsoka adalah : Ki Ageng Singapadu di Desa Nguren sebagai patih merangkap jaksa, Raden Sukmayana sebagai penguasa wilayah Majasemi, Kembangjaya di Bantengan Trangkil sebagai ahli perang siasat yang sangat disegani, Sondong Makerti di Wedarijaksa merupakan prajurit yang ahli beladiri, dan Singanyidra adalah prajurit pilihan Kadipaten Carangsoka.

Adipati Puspahandungjaya dengan Sang Prameswari sangat bahagia. Apalagi setelah dikaruniai seorang puteri yang cantik dan jelita, yang diberi nama Dyah Ayu Dewi Rayungwulan. Dewi Rayungwulan saat usianya meningkat remaja, kecantikan dan keayuannya semakin bersinar- sinar.Bicaranya santun, perilakunya sangat sopan sehingga menjadi buah bibir setiap ralgyat di Kadipaten Carangsoka, dan merupakan bahan pembicaraan para adipati serta pangeran dari kadipaten-kadipaten tetangga. Ketika Dewi Rayungwulan telah dewasa, para pangeran dari kadipaten tetangga ingin mempersunting. Mereka ingin mendapat kesempatan untuk meminangnya. Namun karena pengaruh Puspahandungjaya Sang Adipati yang berwibawa, tidak sembarang pangeran berani mengemukakan pangeran hasratnya, kecuali Josari anak tunggal Adipati Yudapati dari Kadipaten Paranggaruda. Terdorong rasa ingin meminang Dewi Rayungwulan untuk dijodohkan dengan Pangeran Josari, sang Adipati Yudapati menyuruh patihnya yang bernama Singapati disertai beberapa demang membentuk rombongan menuju Kadipaten Carangsoka dengan membawa emas, intan dan pakaian yang indah sebagai tanda pinangan. Mereka diterima oleh Adipati Puspahandungjaya dengan ramah dan sangat terbuka. Para utusan merasa senang dengan penerimaan tulus penuh kehangatan. Suasana Kadipaten C arangsoka sangat nyaman, bila dibandingkan dengan suasana Paranggaruda. Patih Singapati menyampaikan maksud kedatangannya yaitu ingin meminang Dewi Rayungwulan yang akan dijodohkan dengan pangeran Josari putra mahkota Kadipaten Paranggaruda. Sebagai seorang adipati yang bijaksana, maka pinangan dari Kadipaten Paranggaruda tidak langsung diterima, namun keputusannya diserahkan sepenuhnya kepada putrinya. Sebab yang berhak untuk memberi jawaban adalah Dewi Rayungwulan. Adipati Puspahandungjaya mempersilakan Patih Singapati serta tamu yang lain beristirahat dulu di tempat yang sudah disediakan. Sang Adipati minta waktu sehari semalam untuk menentukan keputusan dari putrinya.

Dewi Rayungwulan tampak tegang dan cemas. Kebimbangan mencekam sangat kuat jelas tersirat pada raut mukanya. Dewi Rayungwulan tidak segera menanggapi apa yang ingin dikehendaki orang tuanya, karena dalam hati sang putri tidak mau menerima pinangan itu.
Dewi Rayungwulan tidak ingin mempunyai seorang suami yangberperilaku tidak terpuji. Menurut sumber yang dapat dipercaya, Pangeran Josari mempunyai cacat fisik, watak yang sombong dan congkak. Setiap hari senang berfoya-foya menghamburkan uang negara, sementara sebagian besar rakyatnya tengah menderita. Adipati Puspahandungjaya dan Prameswari bisa memahami kecemasan hati putrinya, seraya menyetujui apapun keputusan yang ingin diambil Dewi Rayungwulan. Seandainya sang putri menolak, kedua orang tuanya tidak akan keberatan. Asal menolaknya secara halus, agar Adipati Yudapati maupun Pangeran Josari tidak merasa tersinggung sehingga dapat menimbulkan kemarahan. Sebab orang tua manapun tentu tidak tega membiarkan anaknya menjadi istri dari seorang lelaki yang budi pekerti dan perangainya tidak terpuji. 


Hati Dewi Rayungwulan merasa bahagia begitu mengetahui kedua orang tuanya tidak memaksakan kehendaknya. Pada saat yang tepat Dewi Rayungwulan akan mengemukakan jawaban yang sekiranya sangat berat untuk Pangeran Josari. Dewi Rayungwulan selalu mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa memohon agar dapat menemukan jawaban untuk Pangeran Josari. Jawaban harus benar dan tepat, sebab salah memberi jawaban akan berdampak pada kelangsungan kehidupan dalam tangga- rumah.

Pangeran Josari

Pangeran Josari adalah anak tunggai Adipati Yudapati, penguasa Kadipaten Paranggaruda. Adipati Yudapati termasuk penguasa yang sangat disegani oleh para kawula negeri dan seiuruh rakyat di kadipaten Paranggaruda. Tanah dan wilayah Paranggaruda meliputi sungai Juwana ke selatan, sampai pengunungan Kendeng Utara yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Grobogan. Untuk melancarkan tugas-tugas pemerintahan Adipati Yudapati dibantu oleh para Punggawa Kadrp aten P aranggaruda yaitu : Singapati sebagai patih, Yuyurumpung penguasa wiiayah Kemaguhan, Ki Singabangsa di Kedalon, Ki Gagakpati di Tlogomojo, Ki Dandangwiring, Ki Kudasuwengi di Jembangan, dan Ki Sondong Majeruk. Mereka adaiah tokoh prajurit handal di Kadipaten Paranggaruda. Adipati Yudapati menaruh harapan besar kepada putra satu-satunya yaitu Pangeran Josari sebagai calon penggantinya sebagai penerus penguasa Kadipaten Paranggaruda.

Adipati Yudapati menyediakan empat abdi khusus untuk mengurusi Pangeran Josari. Kesehariannya segala permintaan Pangeran Josari kecil selalu dituruti. Mulai bangun tidur pagi sampai menjelang tidur malam. Semua kebutuhan dilayani oleh para abdi kadipaten. Para abdi antara satu dengan yang lain mempunyai tugas sendiri-sendiri yaitu bertugas merawat kamar, menyuapi setiap makan, memandikan setiap hari dan mengajak bermain-main. Pelayanan yang berlebih-lebihan mengakibatkan kehidupan Pangeran Josari kecil menjadi manja dan kerdil jiwanya. Ia tidak pemah merasakan penderitaan, lapar dan tidak mengerti susahnya hidup sehingga hidup ini dianggap indah terus. Apabila membutuhkan pada sesuatu tinggal minta dan saat itu pula para abdi siap melayaninya. Ketika sang Pangeran Josari usianya menjelangdewasa mulai tampak perilakunya yang kurang terpuji. Setiap hari senang menghambur-hamburkan uang untuk berfoya-foya, temperamental, dan berwatak sombong. Keangkuhan tersebut karena Pangeran Josari merasa anak yang seorang adipati kaya raya. keinginan Semua bisa jiwa dipenuhi karena mempunyai uang banyak. Dalam jiwa Pangerang Josari sudah terpatri semboyan uang adalah segalanya. Beberapa hari kemudian. Patih Singapati danpengiringnya tel ah tiba kembali di Kadipaten Paranggaruda. Mereka disambut dengan tidak sabar oleh Adipati Yudapati. Pangeran Josari dengan bertolak pinggang sangat angkuh ingin segera mendengar jawaban penguasa dari Carangsoka.

Patih Singapati dengan duduk bersimpuh di depan Adipati Yudapati melaporkan bahwa Adipati Puspahandungjaya menerima pinangan. Namun Dewi Rayungwulan minta pinangan syarat adalah seperangkat gamelan yang berbunyi sendiri. Apabila persyaratan dipenuhi maka Dewi Rayungwulan akan menerima pinangan Pangeran Josari dari Paranggaruda.
Pangeran Josari mendengar ucapan Patih Singapati, wajahnya mendadak merah padam. Persyaratan tersebut sulit diwujudkan, dan hanya bentuk penolakan secara halus. Pangeran Josari jengkel dan marah, tangannya mengepal danbergetar. Adipati Yudapati mengenal betul tabiat putranya yang pemah tidak mau bersusah payah bila menginginkan sesuatu. Maunya apa yang dikehendaki segera dipenuhi tanpa harus berjuang dan berkorban. Namun, Adipati Yudapati memang sangat menyayangi putera tunggalnya itu bahkan sangat memanjakannya dengan berlebihan. Adipati Yudapati segera memanggil para abdi yangi merupakan ahli dalam pencarian gamelan. Lalu, diperintahkan Yuyurumpung Kemaguhan dan Singapati untuk mencari hingga ketemu seperangkat gamelan yang dapat berbunyi sendiri. Setelah memberi salam hormat Yuyurumpung dan Singapati mohon diri melaksanakan tugas Sang Adipati Yudapati. Singapati dan Yuyurumpung seteiah menerima tugas dari SangAdipati Yudapati hatinya merasa was-was. Tugas tersebut dianggap sangat aneh dan berat untuk berhasil. Namun, tugas seberat apapun dari atasan itu tidak boleh ditolak. Mengenai berhasil dan tidak itu jangan dijadikan kendala. Yang penting setiap tugas harus dijalani dengan sungguh-sungguh. Berhari-hari bahkan berbulan-bulan Patih Singapati dan Yuyurumpung mencari informasi tentang keberadaan dalang yang mempunyai gamelan seperangkat yang bisa berbunyi sendiri. Seluruh daerah Kadipaten Paranggaruda dikelilingi bahkan sampai ke kadipaten tetangga. Namun usaha yang keras tetap dijalankan hingga ditemukannya seperangkat gamelan sebagai syarat pinangan yang diminta oleh Dewi Rayungwulan.

Sementara para abdi memeras keringat mencari gamelan yang bisa berbunyi sendiri, pangeran Josari bersenang-senang dengan para sahabatnya. Berfoya-foya dan bersuka ria
dengan para dayang-dayang kadipaten, yang terpaksa menurutinya meskipun hatinya sangat tidak menerima, semua keinginan Pangeran Josari harus dituruti. Bila ada yang coba-coba membangkang maka tak segan-segan pangeran Josari bertindak kasar, sehingga para abdi banyak yang tidak kuat menerima perlakuan yang semena-mena.

Cerita Yuyurumpung

Yuyurumpung adalah penguasa Kapanewon Kemaguhan, tokoh andalan tamtama Kadipaten Paranggaruda. Yuyurumpung mempunyai bentuk tubuh kekar dan berwajah seram, serta perilakunya kasar. Yuyurumpung bila melihat wanita cantik, dalam hatinya masih ingin memilikinya. Padahal, istri serimya sudah sembilan orang. Sebagai penguasa di Kemaguhan wilayah Rembang, Yuyurumpung memerintah dengan tangan besi dan tidak mempunyai rasa kemanusiaan. Semua lurah di wilayah Kemaguhan tunduk dan patuh setiap ada tugas dari Yuyurumpung. Semua tugas dijaiani bukan karena rasa tanggungjawab melainkan karena terpaksa dan takut. Untuk melaksanakan tugas dariAdipati Yudapati yaitu mencari seperangkat gamelan yang bisa berbunyi sendiri, Yuyurumpung mengadakan sidang iurah. Hadir dalam persidangan adalah hampir semua lurah sewilayah Kapanewon Kemaguhan. Hanya satu orang yang tidak datang yaitu Kudasuwengi, lurah dari Desa Jembangan. Yuyurumpung marah. Ketidakhadiran Kudasuwengi ditanyakan kepada yang hadir tetapi hampir semua tidak tahu, Hanya ada beberapa menjawab Lurah yang pernah melihat para istri selir Yuyurumpung berada di rumah Kudasuwengi.

Kudasuwengi merupakan lurah yang tampan dan gagah berani. Ketidakhadiran dalam rapat memang disengaja oleh Kudasuwengi, setelah mendengar pengaduan para istri Yuyurumpung bahwa sebenarnya ada maksud yang terselubung dibalik pertemuan tersebut. Segala sangsi yang diberikan oleh Yuyurumpung akan dihadapi Kudasuwengi dengan tanpa rasa takut. Menjelang tengah malam, kediaman Kudasuwengi dikepung oleh Yuyurumpung serta para pengikutnya. Ki Singabangsa mendobrak pintu hingga terbuka, kemudian prajurit Kemaguhan masuk rumah. Terjadilah perkelahian sengit, Kudasuwengi dikeroyok beramai-ramai. Yuyurumpung memang sangat licik. dengan main keroyok. Perkelahian yang tidak seimbang ini akhimya Kudasuwengi yang hanya sendirian dapat ditangkap kemudian diikat erat-erat. Yuyurumpung dengan leluasa menyiksa Kudasuwengi hingga babak belur. Masih belum puas menyiksa, Yuyurumpung menyuruh prajuritnya agar Kudasuwengi diseret dengan kuda. Tanpa rasa belas kasihan dan sangat biadab para prajurit selalu mengikuti perintah tuannya. Tubuh Kudasuwengi yang sudah tidak berdaya dan berlumuran darah itu dihubungkan dengan tali panjang yang diikatkan pada pangkal ekor yang kuda. Kemudian, kuda dinaiki Yuyurumpung berlari menyeret tubuh Kudasuwengi. Kudasuwengi berguling- gulingg sepanjang jalan menahan rasa sakit. Darah segar mengucur membasahi seluruh tubuhnya. Melihat peristiwa yang sangat memilukan ini, istri Kudasuwengi memberitahu saudaranya yaitu Ki Gede Singanyidra. Dengan isak tangis dan nafas terengah-engah isteri Kudasuwengi menceritakan semua peristiwa yang menyayat hati. Ki Gede Singanyidra dengan sangat cepat menyusul untuk menyelamatkan Kudasuwengi.

Ki Gede Singanyidra dari kejauhan sudah melihat rombongan Yuyurumpung naik kuda. Ia mempercepat larinya dengan arah memotong jalan. Bagaikan kilat Singanyidra melompat pedangnya cepat menebas pangkal ekor kuda. Kudasuwengi jatuh terpisah dengan kuda yang menyeretnya. Singanyidra dengan cekatan menolong Kudasuwengi ke tempat yang aman. Kuda yang dirunggangi Yuyurumpung terhenyak dan lari cepat sambil melonjak-lonjak kesakitan karena pangkal ekomya putus. Kuda tidak terkendali seperti kerasukan setan, sehingga Yuyurumpung jatuh terlempar keras dari kudanya. Muka Yuyurumpung mengelupas dan darah segar memancar keluar akibat kerisnya sendiri yang menancap pada bola mata sebelah kanan. Yuyurumpung merintih kesakitan tidak bisa bangun karena kaki kirinya patah. Singanldra mengamuk membabi buta dengan pedang saktinya. Para prajurit Kemaguhan mengeroyok Singanyidra namun usaha tersebut hanya sia-sia. Singanyrdra merupakan tokoh prajurit andalan Kadipaten Carangsoka yang sangat berpengalaman dan ahli dalam berperang. Dalam keadaan luka parah Kudasuwengi dibawa Singanyidra ke Majasemi untuk dimintakan pengayoman. Tak berapa lama keluarga Kudasuwengi menyusul mengungsi untuk menghindari amukan Yuyurumpung membalas dendam. Tempat yang dipilih untuk berlindung adalah Majasemi karena penguasanya adil, bijaksana, dan berwibawa. Raden Sukmayana penguasa Majasemi tidak keberatan dan menerima dengan baik kehadiran Kudasuwengi beserta keluarganya tinggal di Majasemi. Penerimaan ini bukan ikut mencarnpuri urusan negeri orang, melainkan atas dasar rasa kemanusiaan semata.

Selama Kudasuwengi berada di Majasemi, Raden Sukmayana bertangungjawab atas keselamatannya. Namun, apabila sudah sembuh, semua terserah kepada Kudasuwengi. Kembali ke Jembangan dipersilakan, atau bila ingin tetap tinggal di Majasemi Raden Sukmayana tidak keberatan.

Raden Kembang Jaya

Raden Kembangiaya adalah seorang pemuda yang tampan dan gagah. Walaupun usianya masih tergolong muda, dijuluki ahli pertapa karena mempunyai kesaktian yang luar biasa. Raden Kembangjaya mempunyai saudara dua yaitu Prameswari Kadipaten Carangsoka dan Raden Sukmayana di Majasemi. Keseharian, waktunya dihabiskan untuk menuntut ilmu di wilayah Bantengan Trangkil. Menjelang usia remaja ia berlatih ilmu kanuragan dan olah keprajuritan. Raden Kembangjaya sangat trampil dan cekatan menggunakan berbagai jenis senjata perang. Adipati Yudapati telah kembali ke Paranggaruda dengan hati yang terluka dan perasaan dendam. Perlakuan terhadap Pangeran Josari tidak dapat diterima begitu saja. Ia tetap menyalahkan Ki Dalang Sapanyana sebagai penyebabnya. Meskipun hati kecil Adipati Yudapati mengakui bahwa Ki Dalang Sapanyana hanya membela diri. Namun, tetap merasa tidak puas sebelum menghukum Ki Dalang Sapanyana.
Kepada Adipati Puspahandungiaya, Adipati Yudapati telah memohon agar menangkap Ki Dalang Sapanyana dan mengirimkannya ke Paranggaruda untuk diadili dan dihukum. Permohonan itu seperti tidak diindahkan oleh Adipati Puspahandungiaya sehingga seolah-olah melindungi Ki Dalang Sapanyana. Hal itu membuat hati Adipati Yudapati sangat sakit dan murka, timbul niat untuk menggempur Carangsoka dengan mengerahkan
semua prajurit Paranggaruda. Adipati Yudapati lalu menyiapkan semua prajurit, miepersenjatai dengan selengkap mungkin. Ia menyusun rencana untuk melaksanakan penggempuran besar-besaran dari berbagai arah ke pusat Carangsoka. Para telik sandi telah melaporkan bahwa di Paranggaruda tengah al digalang persiapan untuk menggempur Carangsoka. Adipati Yudapati telah menyiapkan para prajuritnya. Bahkan telah pula memanggil jago-jago bayaran yang berdarah dingin untuk membunuh. Adipati Puspahandungjaya kemudian meningkatkan kewaspadaan dan menyusun kekuatan untuk menanggulangi gempuran dari Paranggaruda. Ia telah memanggil Senopati Kembangjaya, merundingkan taktik menghadap gempuran itu. Adipati menerima usul Senopati Kembangjaya dan segera memerintahkan untuk menyusul Raden Sukmayana di pertapaan Telamaya di kawasan Gunung Muria.

Siapapun di Carangsoka mengenal betul Raden Sukmayana, kakak Senopati Kembangjaya.
Raden Sukmayana adalah seorang pendekar sakti, memiliki beberapa benda pusaka yang
ampuh antara lain Kuluk Kanigara dan keris Rambut Pinutung. Raden Sukmayana telah bergabung dengan Carangsoka. Para prajurit Carangsoka menjadi bergairah. Semangat tempurnya menjadi membara. Adipati Yudapati dan para prajuritnya yang dibantu jago-jago bayaran tiba. Para prajurit Carangsoka menyambutnya tanpa gentar. Senopati Kembangjaya, Raden Sukmayana, dan Ki Dalang Sapanyana merupakan tiga serangkai yang berhasil mengobarkan semangat tempur para prajuritnya. Adipati Yudapati memimpin langsung para prajurit, dan segera memerintahkan penggempuran. Prajurit-prajurit Paranggaruda bergerak dari berbagai arah berlapis-lapis. Pada mulanya mereka tidak melihat adanya pertahanan yang kuat dari pihak Carangsoka, sangat leluasa memasuki kawasan Carangsoka. Namun, ketika telah memasuki bagian dalam. Mereka sangat terkejut. Para prajurit Carangsoka ternyata telah bersiaga penuh dan memberikan perlawanan.
Pertempuran tak terelakkan dan berlangsung sangat seru. Adu kekuatan dua kelompok besar yang tampak seimbang, saling menikam, menusuk membacok, dan saling memanah. Jerit perempuan bergema nyaring, bergalau dengan suara benturan senjata. Ringkikan kuda berbaur semakin membisingkan suasana.

Adipati Yudapati telah mengatur taktik bergelombang, di mana para prajuritnya membentuk beberapa kelompok besar. Setiap kelompok mendesak dan menggempur tempat-tempat yang diduga lemah pertahanannya. Ternyata pihak Carangsoka telah bersiaga di setiap sudut. Setiap desakan dan gempuran prajurit Paranggaruda dapat ditangkis bahkan dipukul. Senopati Kembangjaya memimpin pasukan membangun kekuatan di bagian pusat Carangsoka. Dengan perkasa mendesak serbuan prajurit Paranggaruda. Memukul mundur bahkan melumpuhkan setiap serangan musuh dengan sangat telak. Korban pun berjatuhan dari pihak Paranggaruda karena tidak sempat menyelamatkan diri. Raden Sukmayana dibantu punggawa dan laskar pilihan menghadapi para jago bayaran yang dikerahkan Paranggaruda. Mereka bertempur bagaikan banteng kerasukan setan, memporak-porandakan para jago bayaran musuh. Bagaikan seonggokbatu besar, menggilas tonggak-tonggak. Luluh lantah kekuatan para jago bayaran musuh, dan terkurung dalam jepitan yang melumpuhkan. Satu persatu para jago bayaran musuh roboh
bermandikan darah dengan senjata memanggang tubuhnya. Ki Dalang Sapanyana ternyata bukan pandai saja memainkan wayang, tetapi mahir pula dalam bertempur. Dibantu para prajurit Carangsoka ia mengamuk dengan dahsyat, memukul mundur para prajurit Paranggaruda. Demikian dahsyat perlawanan dan pertahanan pihak Carangsoka membuat nyali Adipati Yudapati dan para pembesar Paranggaruda menjadi c iut. Prajurit Paranggaruda semakin terkurung dan terdesak. Jumlahnya semakin menipis. Adipati Yudapati sangat pantang untuk menarik mundur prajuritnya.

Pertempuran berlangsung cukup lama. Korban berjatuhan dan bergelimpangan. Sangat mengenaskan dan mengerikan, di kedua belah pihak. Korban yang terbanyak adalah dari pihak prajurit Paranggaruda. Ketika Adipati Yudapati menemui alalnya, dihujam beberapa tombak dan pedang, prajurit Paranggaruda yang tersisa lalu menyerah. Rakyat Carangsoka beserta prajurit yang telah berhasil mengalahkan prajurit Paranggaruda, bersorak riuh dengan gegap gempita. Mereka meneriakkan kemenangan dengan penuh rasa syukur. Adipati Puspahandungjaya menitikkan air mata karena terharu dan bahagia. Keadaan di Carangsoka telah pulih kembali seperti sedia kala. Kehidupan berjalan dengan aman tenteram dan damai. Sebagai wujud penghargaan atas keberhasilan Kembangjaya sebagai panglima perang, ia dinobatkan sebagai Adipati Carangsoka serta memperistri Dewi Rayungwulan. Tak berapa lama antara Carangsoka dan Paranggaruda disatukan Kembangjaya menjadi Kadipaten Pesantenan. Untuk mengatur pemerintahan yang wilayahnya semakin ke bagian selatan, Adipati Raden Kembangjaya memindahkan pusat pemerintahannya dari Carangsoka ke Desa Kemiri dan bergelar Adipati Jayakusuma di Pesantenan. Dalam pemerintahan Adipati Jayakusuma, rasa keadilan betul-betul diwujudkan. Rakyat yang menjadi korban akibat perang, baik dari Carangsoka maupun Paranggaruda disantuni, para prajurit yang berjasa dinaikkan pangkatnya dan diberi jabatan, serta tawanan musuh diampuni. Untuk lebih melancarkan roda pemerintahan Adipati Jayakusuma mengangkat Dalang Sapanyana menjadi Patih di Kadipaten Pesantenan dan bergelar Patih Singasari.

Adipati Jayakusuma hanya mempunyai seorang putra tunggal yaitu Raden Tambra. Setelah ayahnya wafat, Raden Tambra diangkat menjadi Adipati Pesantenan dengan gelar Adipati Tambranegara. Dalam menjalankan tugas pemerintahan Adipati Tambranegara bertindak bijaksana dan sangat memperhatikan nasib rakyatnya. Kehidupan rakyat penuh kedamaian, ketenangan,dan kesejahteraan meningkat. Untuk pengembangan pembangunan dan memajukan pemerintahan di wilayahnya Adipati Raden Tambranegara memindahkan pusat pemerintahan Kadipaten Pesantenan yang semula berada di Desa Kemiri dipindah menuju kearah barat di Desa Kaborongan. Nama Kadipaten Pesantenan ganti menjadi Kadipaten Pati. Adipati Tambranegara berputra tunggal yaitu Raden Tanda, kelak setelah mangganti kedudukan ayahnya sebagai penguasa Kadipaten Pati bergelar Adipati Tandanegara. Adipati Tandanegara dalam memimpin Kadipaten Pati seperti ayahnya yaitu arif, bijaksana, penuh dan wibawa. Adipati Tandanegara tidak berputra. Setelah wafat kekuasaan di Kadipaten Pati diteruskan oleh para penggede yaitu: Ki Gede Jiwanala, Ki Gede Ragawangsa, Ki Gede Plangitan, dan Ki Gede Jambean.

Para penggede yang meneruskan pemerintahan di Kadipaten Pati dapat menjalankan tugas dengan baik. Antara penggede yang satu dengan yang lain bisa hidup rukun, saling membantu dalam segala bidang sehingga rasa aman dapat terwujud dan dinikmati oleh seluruh rakyat Pati.

Ki Ageng Penjawi

Ki Ageng Penjawi bersama Pemanahan dan Jurumertani ketika masih muda, pemah berguru kepada Ki Ageng Sela. Mereka bertiga disebut tiga serangkai, yang masih keturunan Raja Brawijaya V atau Prabu Kertabumi yang bertahta pada tahun l468 – l478 M.
Silsilah KiAgeng Penjawi adalah sebagai berikut:Raja Brawijaya V berputra Raden Bondan Kejawan. Raden Bondan Kejawan mempunyai tiga putra yang bungsu putri bernama Rara Kasihan diperistri Ki Ageng Ngerang. Pasangan antara Ki Ageng Ngerang dengan Rara Kasihan ini menurunkan dua putra orang yaitu Ki Ageng Ngerang II dan seorang putri (diperistri Ki Ageng Sela). Ki Ageng Ngerang II mempunyai putra empat yaitu Ki Ageng Ngerang III, Ki Ageng Ngerang IV, Ki Ageng Ngerang V, dan Pangeran Kalijenar. Ki Ageng Ngerang III mempunyai putra bernama Penjawi.

Silsilah Ki Ageng Pemanahan sebagai berikut : Putra Raden Bondan Kejawan yang nomor dua bernama Ki Ageng Getas Pandawa. Ki Ageng Getas Pandawa berputra Ki Ageng Sela.
Ki Ageng Sela berputra Ki Ageng Enis. Ki Ageng Enis menurunkan putra bernama Pemanahan. Silsilah Ki Jurumertani sebagai berikut : putra Raden Bondan Kejawan yang tertua adalah Ki Ageng Wanasaba. Ki Ageng Wanasaba berputra Pangeran Made Pandan I. Pangeran Made Pandan I berputra Ki Ageng Pakringan yang mempunyai isri bemama Rara Janten. Dari pasangan ini mempunyai empat putra yaitu Ageng Nyai Laweh, Nyai Manggar, Putri, dan Jurumertani. Ki Ageng Penjawi, Ki Ageng Pemanahan dan Ki Jurumertani yang masih keturunan Raja Brawijaya tersebut mempunyai peran besar dalam rangka ikut menyelesaikan konflik keluarga Kerajaan Demak yang memakan korban besar. Kabut tebal menyelimuti bumi sebuah Demak dalam perebutan kekuasaan. Hal tersebut dipicu ulah Bupati Jipang Panolan bemama Arya Penangsang putra yang tidak lain adalah Pangeran Suryawiyata (Pangeran Sedalepen). Arya Penangsang hatinya kecewa setelah mengetahui bahwa sebenamya yang bakal naik tahta mengganti Sultan di Demak sepeninggal Sultan Trenggono adalah dirinya, tetapi yang diangkat justru Jaka Tingkir yang hanya putera menantu Sultan Trenggono.

Kekecewaan Arya Penangsang memunculkan niat jahat untuk membunuh semua keturunan Sultan Trenggono. Untuk mewujudkan cita-cita tidak baik yang itu Arya Penangsang mengadakan pertemuan yang dihadiri oleh laskar Soreng. Di hadapan para Soreng, Arya Penangsang memerintahkan untuk membunuh secara besar-besaran. Pertama kali yang harus dibunuh adalah Pangeran Mukmin beserta istrinya, sebagai balas dendam, karena diketahui bahwa yang melakukan pembunuhan terhadapPangeran Suryawiyata adalah Pangeran Mukmin. Yang kedua, adalah menghabisi Pangeran Hadiri, suami Ratu Kalinyamat. Adapun Sultan Pajang akan dihabisi sendiri oleh Arya Penangsang. Setelah memahami perintah Arya Penangsang, para Soreng mohon pamit untuk melaksanakan tugas sesuai yang diembannya. Para dengan membawa Soreng Keris Brongot Setan Kober tidak mengalami kesulitan untuk melakukan aksinya. Bahkan, rakyat kecil yang dicurigai memihak Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya dibunuh juga. Setelah berhasil membunuh Pangeran Mukmin, para Soreng bergerak memburu Pangeran Hadiri dan Ratu Kalinyamat yang sedang menghadap Sunan Kudus. Beberapa hari para Soreng mengadakan pengintaian dan pencegatan sepanjang jalan antara Kudus hingga Jepara. Ratu Kalinyamat beserta suami dan rombongan ketika dalam perjalanan pulang dihadang oleh para pengikut Arya Penangsang. Terjadilah perkelahian yang hebat. Ratu Kalinyamat, yang nama aslinya adalah Retna Kencana tampak tegar dan cekatan dalam menghindari dan memukul lawannya. Pangeran Hadiri dan pengawalnya dengan gigih melawan serangan-serangan para Soreng yang ingin membunuhnya. Sayang, dalam penghadangan tersebut Pangeran Hadiri terluka oleh Keris Brongot Setan Kober sehingga darah segar bercucuran. Namun Pangeran Hadiri masih tetap bertahan hingga meneruskan perjalanan sampai ke Kalinyamat.

Beberapa hari kemudian luka Pangoan Hadiri bukannya membaik tetapi semakin parah. Berbagai upaya untuk menyembuhkan luka akibat tusukan Keris Brongot Setan Kober sudah dilakukan, namun takdir yang menentukan Tuhan. Pangeran Hadiri wafat. Dengan meninggalnya suami yang tercinta membuat Ratu Kalinyamat sangat bersedih. Sebagai wujud rasa bhakti dan hormat seorang istri kepada suami tercinta, Ratu Kalinyamat memutuskan pergi ke Bukit Danaraja (Jepara) untuk “tapa telanjang” yang artinya menanggalkan busana kebesaran kerajaan dan semua melepas perhiasan. Ratu Kalinyamat mengenakan busana sangat sederhana dengan hati yang sabar memohon keadilan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sultan Hadiwijaya dengan diikuti Ki Pemanahan, Ki Penjawi, dan Ki Jurumertani pergi ke Bukit Danaraja menemui Ratu Kalinyamat dengan maksud untuk menyampaikan rasa bela sungkawa dan membujuk sang Ratu agar mau kembali ke Demak. Ratu Kalinyamat tidak mau pulang ke Demak maupun ke Dalem Kalinyamat dan tetap menjalani bertapa sampai dengan lenyapnya Arya Penangsang dari bumi. Mendengar penuturan Sang Ratu Kalinyamat yang menyentuh perasaan, Sultan Hadiwijaya mengadakan sayembara bahwa barang siapa yang berhasil menaklukan Jipang Panolan dan menangkap Arya Penangsang akan mendapat hadiah Bumi Pati dan Alas Mentaok. Baru saja sayembara selesai diumumkan, sudah ada laporan bahwa Arya Penangsang menantang perang tanding dengan Sultan Hadiwijaya. Mendengar laporan tersebut hati Sultan Hadiwijaya panas membara dan ingin segera berangkat sendiri untuk menemui Arya Penangsang. Ki Jurumertani memberi saran agar Ki Penjawi, Ki Pemanahan dan Danang Sutawujaya dan dia sendiri duperkenankan ikut mengawal. Perang antara Jipang dengan Pajang yang sebenarnya masih ada hubungan keluarga akan benar-benar terjadi. Sebagai panglima perang ditunjuk Ki Penjawi dan Ki Pemanahan. Dengan membawa Tombak Kyai Pleret serta perbekalan perang rombongan menuju perbatasan menghadang Pasukan Arya Penangsang.

Di perbatasan Jipang, Arya Penangsang yang dikawal pasukan Soreng sudah lama menunggu. Dengan naik Kuda Gagakrimang dan Keris Kyai Brongot Setan Kober yang terselip di pinggangnya, Arya Penangsang sesumbar dengan sangat sombong. Tak berapa lama pasukan Pajang tiba dengan gagah berani. Arya Penangsang sesumbar lagi. Ki Penjawi tidak mudah terpancing emosi. Ia tidak gegabah namun memakai pemikiran dan strategi yang cermat.
Setelah persiapan matang, sebagai panglima perang Ki Penjawi memberi komando serbu. Kurang dari hitungan satu detik, pecahlah perang antara Jipang Panolan dengan Pajang. Perkelahian sengit tak dapat dihindarkan. Banyak prajurit yang gugur di tengah palagan. Itulah sebuah resiko peperangan. dalam pertempuran tersebut Arya Penangsang terkena tusukan tombak Kyai Pleret yang dihunjamkan oleh Danang Sutawijaya hingga ususnya terburai keluar. Seketika itu juga Arya Penangsang ingin membunuh Danang Sutawijya. Maka keris yang ada dipinggangnya dihunus, putuslah usus Arya Penangsang oleh Keris Kyai Brongot Setan Kober kerisnya sendiri. Arya Penangsang jatuh dari kuda Gagakrimang dan akhirnya tewas. Sebagai tanda bukti pertanggungjawaban setelah menjalankan tugas, Ki Penjawi segera melapor kepada Sultan Hadiwijaya. Dalam laporannya Ki Penjawi menyampaikan dua hal. Yang pertama segala kekurangan adalah menjadi tanggungjawab Ki Penjawi selaku pimpinan perang. Yang kedua, keberhasilan melumpuhkan Jipang dan menewaskan Arya Penangsang adalah keberhasilan bersama yaitu Danang Sutawijaya, Ki Juru Mertani, Ki Pemanahan, dan Ki Penjawi. Sultan Hadiwijaya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah menyelesaikan tugas dargan hasil yang gemilang. Perseteruan antara Jipang dan Pajang sudah tidak ada lagi sehingga rasa persahabatan untuk hidup aman dapat terwujud. Seperti telah dijanjikan dalam sayembara, sebagai hadiah Hadiwijaya memberi jabatan Patih Pajang kepada Ki Juru Mertani, Alas Mentaok kepada Ki Pemanahan, dan Bumi Pati kepada Ki Penjawi.

Pada hari yang baik Ki Penjawi berangkat menjalankan tugas baru yaitu memimpin bumi Pati dengan rasa senang hati dan penuh tanggung jawab. Rakyat Pati menerima Ki Ageng Penjawi dengan ramah dan setukus hati. Tidak mempermasalahkan asal-usul apakah putra asli daerah atau bukan. Begitu juga Ki Penjawi tidak mempunyai sikap yang sombong, melainkan merendah, ramah, dan tidak membeda-bedakan satu sama lain. Sebagai pemimpin baru, Ki Penjawi tidak segan-segan untuk berkunjung kepada tokoh rakyat Pati diantaranya Ki Gede Ragawangsa, Ki Gede Jiwanala, Ki Gede Plangitan, dan Ki Gede Jambean. Mereka dimintai masukan tentang kondisi daerah Pati guna menyusun langkah-langkah menetukan kebijakan. Langkah awal Ki Penjawi dalam memerintah Pati adalah menata punggawanya. Semua pejabat dari tingkat rendah hingga tertinggi harus memenuhi tiga syarat yaitu jujur, disilpin dan ahli dalam bidang tugasnya. Ki Ageng Penjawi dalam membangun mengutamakan bidang pertanian karena sebagian besar rakyat Pati adalah petani. Mereka ada yang menekuni bidang peternakan, perikanan dan bercocok tanam. Setiap bidang garapan dikerjakan oleh ahlinya, sehingga kalau ada permasalahan bisa diselesaikan dengan baik. Daerah Pati perkembangannya sangat pesat. Rakyat Pati bekerja dengan penuh semangat disertai perasaan aman dibawah kepemimpinan Ki Ageng Penjawi.

Keris Rambut Pinutung dan Kuluk Kanigara

Kuluk adalah mahkota atau penutup kepala penguasa pada jaman dulu.mahkota raja biasanya lebih megah daripada mahkota panglima,bupati dan lain-lain .kuluk kanigara adalah mahkota kerajaan Carangsoka dan terkenal ampuh dan sakti bahkan sangat didambakan orang karena mereka percaya kelak akan menjadi penguasa atau raja besar jika berhasil memilikinya. Pasangan kuluk Kanigara adalah keris rambut Pinutung yang sakti..
Pemilik kuluk Kanigara dan keris rambut Pinutung adalah raden sukmayana, ksatria kadipaten Carangsoka yang terletak di timur gunung Muria. Daerah tersebut terkenal makmur,rakyatnya sejahtera dan damai terutama pada masa pemerintahan adipati Puspa Andungjaya. Beliau didampingi patih Singapadu merangkap jaksa dan berkedudukan di wilayahNguren. Panglima perangnya adalah Sukmayana.

Adipati Andungjaya mempunyai putri jelita bernama dewi Rayungwulan yang menolak menikah dengan Menak Jasari, akhirnya dia menikah dengan ki dalang Sapanyana. Penolakan itu menimbulkan perang yang terhambat oleh sungai Silungangga yang menjadi benteng alam kerajaan Carangsoka. Barang siapamenyeberangi sungai Silugangga dipercaya akan mengalami kekalahan. Pantangan itu membuat prajurit Paranggaruda takut menyeberangi sungai Silugangga. Meskipun begitu mereka tetap menyeberangi sungai Silugangga setelah diejek oleh prajurit Carangsoka. Perangpun terjadi dan pasukan Paranggaruda terdesak. Panglima Yudapati mengobrak-abrik pasukan Carangsoka. Korban berjatuhan di pihak Carangsoka-termasuk patih Singapadu dan raden Singanyidra.
Panglima Sukmayana terluka dan nyawanya terancam.Sedangkan raden Sukmayana diselamatkan adiknya raden Kembangjaya. Dia juga berhasil membunuh panglima Yudapati dengan tusukan sakti keris rambut pinutung. Ki dalang Sapanyana bertarung dengan Menak Jasari yang menewaskan Menak Jasari. Prajurit paranggaruda kalah dan takluk di bawah kekuasaan kadipaten Carangsoka. Akhirnya pemerintahan Paranggaruda berada dibawah kekuasaan Carangsoka yang semakin berkembng .

Cerita Sumur Gumuling


Diriwayatkan cagar budaya ini sebagai tempat beristirahat Ki Dalang Soponyono pada saat melarikan Dewi Ruyung Wulan (Putri dari Adipati Carangsoko). Ki Dalang Soponyono adalah seorang dalang yang sangat terkenal pada saat itu terutama di kawasan Kadipaten Mojosemi, Bantengan, Carangsoko, Pesantenan, Paranggarudo dan sekitarnya, karena mampu membawakan karakter tokoh wayang dalam cerita Mahabarata dan Ramayana yang seolah - olah cerita itu hidup.
Dalam legenda tersebut dikisahkan Ki Dalang Soponyono melarikan Dewi Ruyung Wulan pada saat tampil diperhelatan upacara pernikahannya dengan Raden Jasari (Putra dari Adipati Paranggarudo) karena paksaan untuk dijodohkan. Sebenarnya Dewi Ruyung Wulan lebih tertarik dengan sosok Ki Dalang Soponyono daripada calon suaminya, sehingga mereka berdua mengatur strategi dengan membuat lakon cerita dalam pementasan wayang yang mirip seperti kisah hidupnya yang tragis. Ketika tiba saatnya untuk tampil Ki Dalang Soponyono ditemani oleh dua orang adik perempuannya dan Dewi Ruyung Wulan sebagai waranggono. Lalu pada saat waktu yang telah ditentukan Ki dalang Soponyono dengan kesaktiannya mematikan lampu minyak yang dipergunakan untuk penerangan dan membawa lari Dewi Ruyung Wulan beserta kedua orang adiknya. Kemudian pihak Kadipaten Paranggarudo-pun melakukan pengejaran yang dipimpin oleh Patih Singopati dan Yuyu Rumpung. Dalam pelariannya ke empat orang tadi sampailah di Dusun Bantengan, karena telah menempuh perjalanan yang cukup jauh merasa kehausan dan kelelahan, maka mereka-pun berhenti untuk beristirahat. Dan ditemuilah sebuah sumur di tempat tersebut, namun ketika Ki Dalang bermaksud mengambil air dari dalam sumur untuk diminum ternyata tidak terdapat timba (alat tradisional) untuk mengambil air dari dalam sumur. Kemudian Ki dalang Soponyono dengan kesaktian yang dimilikinya dan atas izin Tuhan Yang Maha Esa maka sumur itu sanggup digulingkan sehingga airnya dapat mengalir untuk diminum.

Sulit dibayangkan sumur yang berada di dalam perut bumi dapat digulingkan namun percaya atau tidak, itulah legenda yang telah beredar dari mulut ke mulut dan telah turun temurun di kalangan masyarakat sekitar Kota Pati. Saat ini kemiringan sumur tersebut tidak dapat dilihat sebagaimana yang telah dikisahkan karena sudah ditutup untuk menghindari hal – hal yang tidak diinginkan dan letak sumur itu dipercaya berada dibawah pohon beringin yang tumbuh diatasnya.

Pintu Gerbang Majapahit Ada di Pati

Pada tahun 1479 Kerajaan Majapahit hancur karena adanya Kerajaan Demak (Raden Patah dan Wali Sanga). Pada Tahun 1486, Pati yang merupakan lereng gunung Muria, masih merupakan hutan belantara. Pada suatu hari, Sunan Muria pulang dari Sarasehan (pertemuan) di padepokan sunan ngerang. Sesampainya di barat kota Pati, sekitar jam 3 sore atau waktu ashar, kebetulan di tepi hutan tadi terhalang sungai yang sedang banjir. Sunan Muria mau menyeberang, tetapi tak ada perahu.
Lalu beliau mengadakan sayembara, barang siapa yang bisa menyeberangkannya kalau laki-laki akan ia jadikan sebagai saudara sinorowedi (saudara sejati) kalau perempuan akan ia jadikan istri. Kebetulan di sebelah baratnya ada seorang wanita yang sedang menggembalakan kerbau bernama Dewi Sapsari putri Ki Gedhe Sebo Menggolo. Setelah mendengar sayembara tersebut, Dewi Sapsari dengan menunggang kerbau menyeberang ke timur. Lalu ia menyeberangkan Sunan Muria. Sesampai di tepi sungai sebelah barat, Sunan Muria menepati janjinya. Ia lalu ingin bertemu orang tua dari Dewi Sapsari dan akan menyuntingnya sebagai istri. Lalu Sunan Muria menikahi Dewi Sapsari.

Sepeninggal beliau pulang ke padepokan Gunung Muria, Dewi Sapsari hamil. Lalu ia melahirkan seorang putra dan diberi nama Raden Bambang Kebo Nyabrang, sesuai pertemuannya dengan suaminya yaitu Sunan Muria. Setelah dewasa, anak itu menanyakan siapa sebenarnya ayahandanya itu kepada kakeknya. Lalu kakeknya berkata kalau ia masih memiliki keturunan dengan Sunan Muria yang ada di padepokan Gunung Muria.
Setelah mendengar hal tersebut, R. Bambang Kebo Nyabrang pergi berangkat ke Gunung Muria. Sesampainya di padepokan, ia bertemu dangan Sunan Muria. Tetapi Sunan Muria tidak mudah percaya dengan anak itu. Lalu Sunan Muria memerintah Raden Bambang Kebo Nyabrang untuk membawa Pintu Gerbang Majapahit ke hadapannya kalau ia mau diakui sebagai anak. Lalu berangkatlah R. Bambang Kebo Nyabrang ke Bajang Ratu yang merupakan bekas Kerajaan Majapahit. Yang sekarang menjadi Kota Trowulan Kabupaten Mojokerto Jawa Timur. Ia harus segera berangkat karena ia hanya diberi waktu 1x 24 jam.

Di lain tempat, yaitu di padepokan Sunan Ngerang, terdapat salah seorang muridnya yang bernama Raden Ronggo yang ingin menyunting putri Sunan Ngerang, yang bernama Roro Pujiwat. Roro Pujiwat mau diperistri apabila Raden Ronggo bersedia memboyong Pintu Gerbang Majapahit ke padepokan.
Lalu R. Ronggo pun berangkat ke bekas Kerajaan Majapahit. Tetapi, ia kecewa karena sesampainya di sana barang tersebut sudah tak ada (sudah diboyong oleh R. Kebo Nyabrang). Lalu Raden Ronggo segera mengejarnya ke arah barat. Sesampainya di barat kota Pati, R. Rongo masuk kawasan hutan. Disana ia melihat pohon Kenanga yang berbentuk mirip kurungan(sangkar). Kemudian ia menamai dukuh tersebut dengan nama Sekar Kurung. Lalu ia melanjutkan misinya untuk mengejar R. Kebo Nyabrang. Dan ia pun menemukan R. Kebo Nyabrang yang sedang istirahat. Pintu itu pun dimintanya. Tetapi tidak diberikan oleh R. Kebo Nyabrang. Akhirnya timbul peperangan. Dalam peperangan tersebut, penyangga pintu tersebut tercecer sehingga tempat tersebut di beri nama “Njelawang” (Ganjel Lawang). Kemudian mereka menuju ke barat saat itu jam dua belas siang saat semua orang harus beristirahat dan melaksanakan sholat Dhuhur. Maka tempat tersebut diberi nama dukuh “Nduren” (samu barang kudu leren). Mereka bertarung selama 35 hari. Lalu Sunan Muria turun ke arah timur. Ia pun melihat dua orang bertarung dengan jelas. Dalam Bahasa Jawa, jelas diartikan “cetho welo-welo”, sehingga tempat tersebut diberi nama Dukuh Towelo/ Trowelo. Lalu Sunan Muria turun ke tempat kedua orang tersebut bertarung. Lalu beliau berkata “Wis padha lerena sak kloron padha bandhole”. Lalu berhentilah kedua orang tersebut bertarung. Sehingga tempat tersebut hingga sekarang di namai dukuh “Rendhole” (sak kloron padha bandhole). Sunan Muria pun lalu mengakui R. Kebo Nyabrang menjadi anaknya. Dan beliau menyuruh anaknya tersebut untuk menjadi penjaga gerbang ini. Setelah Sunan Muria berkata “jaganen !!” (jagalah) maka ia pun langsung meninggal dan hilang nyawanya karena sebagai seorang penjaga harus tidak terlihat.

R. Ronggo diberi “katek“ oleh Sunan Muria untuk dibawa ke padepokan. Tetapi sesampainya di sana Roro Pujiwat tidak menerimanya. Raden Ronggo pun marah dan mengejarnya hingga ke barat. Sesampinya di sungai Juwana Roro Pujiwat berhenti. R. Ronggo yang marah lalu melempar katek tersebut kearah Roro Pujiwat. Roro Pujiwat meninggal. Katek tersebut hilang seperti kilat. Sehingga sampai sekarang dinamai “Segelap”.

Hari Jadi Kota Pati

Kabupaten Pati, adalah sebuah kabupaten di ProvinsiJawa Tengah. Ibukotanya adalah Pati. Kabupaten ini berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Rembang di timur, Kabupaten Blora dan Kabupaten Grobogan di selatan, serta Kabupaten Kudus dan Kabupaten Jepara di barat.
Untuk penelitian Hari Jadi Kabupaten Pati berpangkal tolak dari beberapa gambar yang terdapat pada lambang Daerah Kabupaten Pati. Gambar yang dimaksud yang berupa, 

“KERIS RAMBUT PINUTUNG DAN KULUK KANIGARA”
Menurut cerita rakyat dari mulut ke mulut yang terdapat juga pada kitab babad Pati dan kitab babad lainnya dua pusaka itu merupakan lambang kekuasaan dan kekuatan yang juga merupakan simbol kesatuan dan persatuan. Barang siapa yang memiliki dua pusaka tersebut, akan mampu menguasai dan berkuasa memerintah di pulau jawa. Adapun yang memiliki dua pusaka tersebut adalah Raden Sukmayana penggede Majasemi andalan Kadipaten Carangsoko. Menjelang akhir abad ke XIII sekitar tahun 1290 Masehi di pulau jawa fakum penguasa pemerintahan yang berwibawa. Kerjaan Pajajaran mulai runtuh, Kerajaan Singosari surut, sedang Kerajaan Majapahit belum berdiri. Di pantai utara Jawa Tengah sekitar Gunung Muria bagian timur muncul Penguasa lokal yang memangkat dirinya sebagai Adipati, wilayah kekuasaannya disebut Kadipaten.
Ada dua pusaka lokal di wilayah itu, yaitu ;

  1. Penguasa Kadipaten Paranggaruda, Adipatinya bernama “Yudhapati”. Wilayah kekuasaannya meliputi sungai Juwana ke selatan, sampai Pegunungan Gamping Utara berbatasan dengan wilayah Kabupaten Grobogan. Mempunyai seorang putra bernama Raden Jasari.
  2. Penguasa Kadipaten Carangsoko, Adipatinya bernama “Puspa Andungjaya”, wilayah kekuasaannya meliputi semua sungai Juwana sampai Pantai Utara Jawa Tengah bagian Timur. Adipati Carangsoko mempunyai seorang putri bernama Rara Rayungwulan.
Kedua Kadipaten tersebut hidup rukun dan damai, saling menghormati dan saling menghargai untuk melestariakan kerukunan dan memperkuat tali persaudaraan itu kedua Adipati tersebut bersepakat untuk mengawinkan putra putrinya itu. Utusan adipati Paranggaruda untuk meminang Rara Rayungwulan telah diterima, namun calon mempelai putri minta bebana agar pada saat pahargyan boja wiwaha daup (resepsi) dimeriahkan dengan pagelaran wayang dengan dalang kondang yang bernama “Sapanyana”. Untuk memenuhi beban itu, Adipati Paranggaruda menugaskan panggede kemaguhan yang bernama Yuyurumpung agul-agul Paranggaruda sebelum melaksanakan tugasnya lebih dulu Yuyurumpung berniat melumpuhkan kewibawaan Kadipaten Carangsoko dengan cara menguasai dua pusaka milik Sukmayana di Majasemi. Dengan bantuan “Sondong Majeruk” kedua pusaka itu dapat dicurinya namun sebelum dua pusaka itu diserahkan pada Yuyurumpung, dapat kembali oleh Sondong Makerti dari Wedari. Bahkan Sondong Majeruk tewas dalam perkelahian dengan Sondong Makerti. Dan pusaka itu diserahkan kembali kepada Raden Sukmayana. Usaha Yuyurumpung untuk menguasai dan memiliki dua pusaka itu gagal. Walaupun demikian Yuyurumpung tetap melanjutkan tugas untuk mencari dalang Sapanyana agar perkawinan putra Adipati Paranggaruda tidak mengalami kegagalan.
Pada malam pahargyan bojana wiwaha (resepsi) perkawinan dapat diselenggarakan di Kadipaten Carangsoka dengan Pagelaran Wayang oleh Ki Dalang Sapanyana. Di luar dugaan pahargyan baru saja dimulai, tiba-tiba mempelai putri meninggalkan kursi pelaminan menuju ke panggung dan seterusnya melarikan diri bersama Dalang Sapanyana. Pahargyan pekawinan antara “Raden Jasari” dan “Rara Rayungwulan” gagal total. Adipati Yudhapati merasa dipermalukan, Emosi tak dapat dikendalikan lagi. Sekaligus menyatakan permusuhan terhadap Adipati Carangsoka. Dan peperangan tak dapat dielakkan. Raden Sukmayana dari Kadipaten Carangsoka memimpin prajurit Carangsoka, mengalami kekalahan dan kemudian wafat. Raden Kembangjaya (adik ipar Raden Sukmayana) menerusakan peperangan. Dengan dibantu oleh Dalang Sapanyana, dan menggunakan kedua pusaka itu dapat menghancurkan prajurit Peranggaruda. Adipati Paranggaruda, Yudhapati gugur dalam palagan membela kehormatan dan gengsinya. Oleh Adipati Carangsoka, karena jasanya Raden Kembangjaya dikawinkan dengan Rara Rayungwulan kemudian diangkat menjadi pengganti Carangsoka. Sedang dalang Sapanyana diangkat menjadi patihnya dengan nama “Singasari”. Untuk mengatur pemerintahan yang semakin wilayahnya kebagian selatan, Adipati Raden Kembangjaya memindahkan pusat pemerintahannya dari Carangsoka ke Desa Kemiri dengan mengganti nama “Kadipaten Pesantenan”. Dengan gelar “Adipati Jayakusuma” di pesantenan. Adipati Jayakusuma hanya mempunyai seorang putra tunggal yaitu “Raden Tambra”. Setelah ayahnya wafat, Raden Tambra diangkat menjadi Adipati Pesantenan dengan gelar “Adipati Tambranegara”.
Dalam menjalankan tugas pemerintahan Adipati Tambranegara bertindak arif dan bijaksana menjadi Songsong Agung yang sangat memperhatikan nasib Rakyatnya, serta menjadi pengayom bagi hamba sahayanya. Kehidupan rakyatnya penuh dengan kerukunan, kedamaian, ketenangan, dan kesejahteraannya semakin meningkat. Untuk dapat mengembangkan pembangunan dan memajukan pemerintahan di wilayahnya Adipati Raden Tambranegara memindahkan pusat pemerintahan Kadipaten Pesantenan yang semula berada di desa Kemiri munuju kearah barat yaitu, di desa Kaborongan, dan mengganti nama Kadipaten Pesantenan menjadi Kadipaten Pati. Dalam prasasti Tuhannaru, yang diketemukan di desa Sidateka, wilayah Kabupaten Majakerta yang berada di Musium Trowulan. Prasasti itu terdapat pada delapan Lempengan Baja, dan bertuliskan huruf Jawa kuna. Pada lempengan yang ke empat antara lain berbunyi bahwa Raja Majapahit, Raden Jayanegara menambah gelarnya dengan ABHISEKA WIRALANDA GOPALA pada 13 Desember 1323. Dengan patihnya yang setia dan berani bernama DYAH MALAYUDA dengan gelar RAKAYI. Pada saat pengumuman itu bersamaan juga dengan pisuwanan agung dari Kadipaten pantai utara Jawa Tengah bagian Timur termasuk Raden Tambranegara berada di dalamnya. Raja Jayanegara dari Majapahit mengakui wilayah kekuasaan para Adipati itu, dengan memberi status sebagai tanah predikan, dengan syarat bahwa para Adipati itu setiap tahun harus menyerahkan Upeti berupa bunga.
Bahwa Adipati Raden Tambranegara juga hadir dalam Pisuanan agung di Majapahit itu terdapat juga dalam Kitab Babad Pati, yang disusun oleh K. M. Sosrosumarto dan S. Dibyasudira, diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 1980. Halaman 34, Pupuh Dandanggula pada: 12 yang lengkapnya berbunyi bahwa “Tambranegara Pati Sumewo maring Majalengka Brawijaya kedua, Majalengka adalah Majapahit. Kratonnya ing satanah jawi angalih Majapahit, ingkang jumeneng Ratu Brawijaya ingkang kaping kalih, Ya Jaka pekik nama, Raden Tambranegara Sumewa maring, Kraton Majalengka” Bardasarkan hal tersebut, jelaslah bahwa Raden Tambranegara Adipati Pati turut serta hadir dalam Pisowanan agung di Majapahit.
Maka dengan demikian diperkirakan bahwa pindahnya Kadipaten Pesantenan dari Desa Kemiri ke Desa Kaborongan dan menjadi Kabupaten Pati itu diperkirakan pada bulan Juli dan Agustus 1323. sebagai hari kepindahan Kadipaten Pesantenan di Desa Kemiri ke Desa Kaborongan menjadi Kabupaten Pati, menjadi momentum HARI JADI KABUPATEN PATI. Dengan surya sengkala “KRIDANE PANEMBAH GEBYARING BUMI”, yang bermakna “Dengan bekerja keras dan penuh do’a kita gali Bumi Pati untuk meningkatkan kesejahteraan lahiriah dan batiniah”. Tanggal 7 Agustus 1323 sebagai HARI JADI KABUPATEN PATI telah ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Pati Nomor: 2/1994 tanggal 31 Mei 1994.

Pati Kota Paranormal

Bila ada kesempatan, berjalan-jalanlah ke Kota Pati Jawa Tengah. Di sini, dunia perdukunan alias “orang pintar” diakui sebagai budaya masyarakat yang umurnya setua peradaban Nusantara sendiri. Pemakai jasa mereka pun tak pernah surut jumlahnya.

Pati sejak lama dikenal sebagai pusat dunia bisnis gaib. Kota ini kondang dikenal sebagai markas besar Paguyuban Paranormal Indonesia, yang dipimpin Eddy Rusmanto alias Boss Eddy. Wajah Kota Pati sebagai kota paranormal juga bisa dilihat dari maraknya baliho besar yang menawarkan jasa alternatif pemecahan masalah di beberapa sudut kota. Padahal, kota kecil dengan penduduk kurang dari seratus ribu jiwa ini semula lebih dikenal sebagai kota kaum pensiunan. Maklum, suasananya adem-ayem. Gerak industri yang bergema sampai di tingkat nasional hanyalah produk kacang garing dari dua perusahaan.

Namun, Pati di setiap akhir pekan, ratusan tamu datang dari luar. Mereka adalah para pasien sejumlah paranormal yang buka praktek di situ. Dari mana sebetulnya datangnya paranormal ini? Ibarat industri dodol di Garut, satu laris yang lain ikut-ikutan, begitu pula yang terjadi di Pati. Satu-dua orang ngetop, yang lain ikutnongol. Menurut istilah mereka sendiri, hal tersebut bagian dari pengaderan. Namun, sesungguhnya munculnya paranormal di kota ini bukan kebetulan semata.

Pati punya sejarah panjang dengan dunia gaib nan keramat. Misalnya, di kota ini ada makam tokoh-tokoh spiritualis kondang di Jawa, seperti Mutamakin, Syeh Jangkung, Saridin, Sunan Kalijogo, Sunan Jafar Sodiq (Sunan Kudus), dan Sunan Raden Mas Said (Sunan Muria). Selain itu, di kawasan Gunung Patiayam puluhan tahun lalu berdiri perguruan yang dipimpin Nyi Senggoropati. Tokoh yang sudah meninggal pada 1987 di usia 110 tahun ini merupakan guru bagi sebagian besar paranormal yang kini aktif berpraktek di Pati.

Sekalipun bibit “orang sakti” bertaburan, praktis sampai sepuluh tahun lalu paranormal di kota ini masih menjalani kegiatan mereka dengan cara lama. Tahun 1992, pola ini mulai berubah dengan berdirinya Paguyuban Paranormal Indonesia dan Yayasan Swakarsa, yang sama-sama menghimpun paranormal. Paguyuban digerakkan oleh Boss Eddy, sementara Swakarsa oleh Ki Umar. Dalam perkembangannya, Paguyuban terlihat lebih menonjol, beranggotakan 6.000 orang, 1.300 orang di antaranya aktif berbisnis paranormal di berbagai daerah.

Di Pati tercatat paranormal besar yang buka praktek ada 15 orang. Yang tergolong sukses besar ada tujuh orang: Boss Eddy, Mbak Har, Mbah Roso, Anisa Dewi, David Gombak, Dewi Sedap Malam, dan Jeng Asih. Mereka mulai menuai sukses pada tahun 1997. Ada beberapa faktor yang membuat nama mereka melambung. Pertama, kegiatan mereka mulai diliput oleh media klenik. Bersamaan dengan itu, mereka tak ragu lagi beriklan. Yang tak kalah penting, krisis ekonomi ikut meningkatkan jumlah pasien. Biasanya, saat itu para tamu datang minta tolong agar tak kehilangan jabatan, usaha laris, dan yang lainnya. Seiring dengan waktu, jasa alternatif yang mereka tawarkan pun kian beragam dengan nama-nama ajian yang menggelitik.

Rata-rata tempat hunian para dukun sukses ini paling mewah di lingkungannya. Rumah bertingkat, perabotan mewah, serta mobil berjejer di garasi. Boss Eddy, misalnya, setelah sukses bisa memiliki rumah produksi, pemancar radio FM, serta pabrik obat tradisional. Bos yang satu ini memang seperti tak akan kesulitan mendapatkan dana segar. Setiap hari, paling tidak ada kiriman Rp 10 juta via wesel dari pasien yang berobat jarak jauh. Angka itu belum terhitung pasien yang datang langsung.

Rutinnya nama mereka menghiasi lembar iklan di media klenik juga bisa dijadikan ukuran kemakmuran. Dalam setahun, paling tidak seorang dukun sukses menganggarkan Rp 200 juta untuk belanja iklan. Angka ini biasanya merupakan 20 persen pendapatan total mereka. Alhasil, pukul rata pemasukan seorang dukun kondang setahunnya berkisar Rp 1 miliar.

Meski tak memberikan pajak langsung, kegiatan paranormal ini terbukti menyulut kegairah perekonomian Pati. Bagai pulut, dukun-dukun kondang ini mampu mendatangkan banyak tamu dari luar daerah. Dulu jumlah hotel di sini hanya 15 buah. Saat ini sudah ada 22 hotel pelbagai kelas. Sebagian besar tamu hotel adalah juga klien paranormal. Tamu yang datang dari pelbagai kalangan, mulai pengusaha, artis, sampai pejabat.

Maraknya bisnis klenik di Pati ini diakui Boss Eddy sangat membanggakan hatinya. Ia ingin Pati benar-benar jadi kota tujuan wisata spiritual seperti halnya Gunung Kawi di Jawa Timur. Bahkan ia tak menutupi hasratnya bila satu saat julukan kota paranormal resmi disandangkan pada Pati. Ninik L. Karim, psikolog dari Universitas Indonesia, menilai menjamurnya bisnis ini karena bertumpuknya soal yang tidak bisa lagi dijawab secara rasio, serta desakan kebutuhan. Rasa tak aman dalam hidup bagi sebagian orang perlu dicarikan jalan pintas alias mengunjungi paranormal. Menurut Cholil Bisri, pimpinan Pondok Pesantren Roudlatut Tholibien, Rembang, Jawa Tengah setiap masalah punya pemecahan, tergantung seseorang memilih jalan terang atau sebaliknya. Ia menilai fenomena ini merupakan cerminan masyarakat yang resah, sekalipun begitu banyaknya paranormal sejatinya tak mendatangkan kerugian ataupun keuntungan. “Manfaat mereka, ya, untuk meramaikan isi dunia,” kata Cholil sebagaimana yang dilansir di sebuah media.

Mungkin betul, dunia butuh mereka. Saat semua jalan dirasa buntu, umbar janji dari paranormal bisa memberikan harapan dan hiburan tersendiri. Bagi sebagian orang, mendatangi paranormal dipercaya sebagai upaya paling manjur. Bagi yang tak percaya, paling tidak senyum bisa terbit kala membaca nama-nama ajaib aneka jampi yang ditawarkan para dukun.

MEREKA YANG JADI PARANORMAL

Paranormal kini sudah jadi profesi. Kerja mereka bukan lagi sekadar kebajikan yang cukup dibalas dengan ucapan terima kasih. Beberapa tahun terakhir, kaum paranormal mulai menunjukkan bahwa pekerjaan ini bisa dijalankan secara profesional, memanfaatkan teknologi telepon seluler dan internet, serta mampu menjanjikan limpahan uang. Profil beberapa paranormal asal Pati di bawah ini adalah cermin dunia dukun yang sedang berubah. Inilah paranormal yang ada di Pati….

Bos Eddy Panggilan Bos di depan namanya menunjukkan ketokohannya di jagat paranormal. Di lingkungan Paguyuban Paranormal Indonesia (PPI), Bos Eddy alias Eddy Rusmanto, 42 tahun, disebut sebagai Guru Besar. Sejumlah murid datang dan pergi, menimba ilmu di Padepokan Perhimpunan Alternatif Indonesia di Pati, yang dikelolanya selama ini. Lama dikenal sebagai paranormal yang mengubah citra dunia perdukunan menjadi profesi modern, Eddy menabrak konvensi lama bahwa dukun tidak boleh memasang tarif. Ia mempekerjakan empat staf yang dilengkapi lima unit komputer agar bisa melayani pasien secara maksimal. Terobosan lain adalah mengiklankan bisnisnya. Iklan merupakan bagian strategi. Suhartini alias Mbak Har adalahistri Eddy, yang juga paranormal. Eddy menghabiskan Rp 200 juta setahun untuk promosi. Belanja iklan ini menggambarkan penghasilannya. Sekali memasang susuk, ia bisa meraup Rp 2 juta hingga Rp 10 juta. Untuk pasien asing, tarif bisa melejit sampai angka Rp 50 juta hingga Rp 100 juta. Sukses di dunia perdukunan, Eddy melebarkan bisnisnya ke usaha farmasi, stasiun radio, permainan anak-anak, pasar swalayan mini, dan rumah produksi. Paranormal ini memusatkan semua bisnisnya di atas lahan seluas 2 hektare. Nilai aset usahanya sekitar Rp 6 miliar.

Bisnis miliaran ini ternyata berawal dari urusan sepele. Pada 1983, saat Eddy masih remaja tanggung, cintanya pernah ditolak seorang gadis. Terdorong sakit hati, Eddy mencari dukun tangguh yang akhirnya ia temukan di Pati. Kendati perbuatan itu membuatnya diusir dari rumah. Dalam enam bulan ia berhasil menguasai ilmu pelet. Eddy lalu berguru ke K.H. Chambali di Serang, Banten, selama tiga tahun hingga khatam ilmu kebal. Tak jelas apakah Eddy menggunakan ilmu pelet untuk meminang Mbak Har, gadis sekampung berwajah manis yang kini menjadi istrinya itu. Sejak 1986, Eddy resmi menjadi paranormal dan nekat membuka sebuah padepokan. Ayahnya yang dulu mengusirnya serta kakaknya pernah berguru kepada Eddy. Pasien Eddy berasal dari dalam dan luar negeri. Bos Eddy semakin menggaungkan nama kota Pati karena mendirikan padepokan Senggoropati, di Jl Raya Pati – Gabus 1 A setiap hari tetap ramai dikunjungi pasien, baik yang ingin berobat alternatif maupun konsultasi spiritual.

Sejumlah murid yang digodok dari Padepokan Senggoropati, kini berkiprah dan melejit sebagai ahli metafisika kondang, beberapa di antaranya membuka sanggar dan praktik di Kota Pati.

Mbah Roso Sang Pangeran Pengasih, begitulah julukan Imam Suroso karena kemampuannya memberikan aji-aji pengasih. Kendati baru berusia 36 tahun, ia populer dengan sebutan Mbah Roso. Selain menjadi paranormal, Suroso menjalani profesi sebagai perwira menengah polisi yang bermarkas di Kepolisian Wilayah (Polwil) Pati, Jawa Tengah. Spesialisasi Suroso adalah menaklukkan hati orang, dari soal mengajuk hati atasan agar karir tak terancam, masalah jodoh, melariskan usaha, hingga merukunkan suami-istri. Senjata andalannya tentu bukan bedil atau gas air mata adalah Ilmu Puter Giling. Pasiennya terdiri atas pejabat, artis, dan pengusaha. Beberapa tokoh publik juga mengunjungi Suroso seraya meminta sang dukun merahasiakan identitas mereka. Kelompok ini biasanya meninggalkan kartu nama di ruang kerja Suroso setelah memberikan kode “RHS” alias rahasia di atas kartu tersebut. Suroso mengelola bisnisnya dengan cara modern: 10 orang pegawai membantu Suroso menangani administrasi dan keuangan. Di kantornya ada faksimile dan enam unit komputer yang dilengkapi internet dan e-mail?sebagian pasien memang berkonsultasi lewat e-mail. Ayah dua anak ini mewarisi kemampuan supernatural dari neneknya, Sugiyah salah satu dukun kondang di Pati pada 1976. Ia pernah mengajar di sebuah SMP di Pati selama dua tahun sebelum beralih profesi menjadi polisi. Ia memperdalam pengetahuannya pada Bos Eddy serta sejumlah kiai ternama, antara lain K.H. Sahal Mahfudz dan K.H. Mustafa Bisri. Pria yang rajin puasa mutih dan sudah menunaikan ibadah haji ini mengaku ilmunya tidak menyimpang dari ajaran agama Islam. Sejak 1990, dengan seizin atasannya di Polwil Pati, ia membuka praktek paranormal profesional di Padepokan Bumi Walisongo, Pati. Suroso meraup Rp 10 juta-Rp 12 juta per bulan dari praktek di Pati dan Jakarta.

Jeng Asih Peralihan karir Suhartini alias Jeng Asih, 35 tahun, tidak tanggung-tanggung: dari seorang guru madrasah sanawiah, ia ber-”metamorfosis” menjadi “Ratu Susuk Indonesia” serta ahli membenahi organ seks kaum wanita. Dengan ramuannya, ia mengaku bisa “menyulap” perempuan separuh baya menjadi seolah perawan tingting. Istri Mbah Roso ini menggunakan susuk sebagai “senjata” andalannya. Dia menciptakan susuk multiguna dari baja, emas, dan bahan logam lainnya yang “diisi” dengan mantra dan doa untuk kecantikan, menambah potensi seksual pria, atau menangkal santet. Suhartini memperoleh kemampuan paranormal dari pamannya, Jupri, pada 1975. Ia juga berguru pada Bos Eddy. Profesi guru madrasah ia tanggalkan pada 1996 karena profesi paranormal memang lebih menjanjikan ketimbang pegawai negeri. Setiap kali berpraktek, Suhartini melayani 30-40 pasien, baik di Jakarta maupun di Pati. Tarif mahar alias imbalan yang dipatok Suhartini bergerak antara Rp 200 ribu dan Rp 1 juta. Setiap bulan wanita ini mengaku bisa mengantongi Rp 20 juta. Basis pendidikan agama Islam yang ia peroleh saat mondok di Pesantren Maslakul Huda milik K.H. Sahal Mahfudz dan pesantren K.H. Mustafa Bisri membuat Suhartini banyak menggali khazanah literer Islam untuk memperkaya kemampuan paranormalnya.

Dewi Sedap Malam Krisis ekonomi tak hanya membuat orang lari ke dunia paranormal, tapi juga melahirkan paranormal. Siti Kasiyati, 48 tahun, adalah salah satu contohnya. Tadinya, wanita ini mencari rezeki sebagai kontraktor bangunan di Pati dan sekitarnya. Tatkala krisis ekonomi menghantam usahanya pada 1999, ibu tiga anak ini tidak kehilangan akal. Siti langsung “menyulap” dirinya menjadi ahli pengobatan alternatif. Spesialisasinya? Membenahi organ seksual kaum wanita. Usaha baru ini terbukti laris. Sejumlah pejabat wanita menjadi pelanggan tetapnya saban ia buka praktek di Hotel Mega, Jakarta Pusat. Siti Kasiyati alias Dewi Sedap Malam menarik bayaran antara Rp 500 ribu dan Rp 1,5 juta untuk setiap pasien. Sekali praktek di Pati, Kudus, atau Jakarta, Dewi bisa mengantongi Rp 5 juta. Wanita ini juga melayani pengobatan jarak jauh. Ia mengaku menerima sekitar 55 pucuk surat dari pasiennya dari Papua, Ambon, Makassar, Bandung, Medan, dan juga dari Hong Kong, Taiwan, dan Australia setiap hari. Kakak kandung Mbah Roso ini sudah mahir memijat saraf dan meramu jamu sejak 1971. Saat bisnis konstruksinya terhantam krisis, Suroso mendesaknya beralih profesi–pilihan yang terbukti tidak keliru.

David Gombak Bermodalkan ijazah SMU, David Iman Kristian, 45 tahun, pernah bekerja serabutan dan menjadi sopir angkutan. Ia juga sempat menjadi pemadat dan hidup dengan cara tidak keruan. Suatu ketika, seorang perempuan tua yang menumpang mobil angkutannya tersentuh melihat keadaan David. Wanita itu, Nyonya Senggoropati, kemudian memberinya ilmu linuih. “Ilmu ini bisa dijadikan duit,” David menirukan ucapan nyonya itu kepadanya. Singkat cerita, David kemudian berguru pada si Nyonya: ia menguasai aneka aji pengasih, ilmu putih, bahkan ilmu hitam. Tapi, hingga gurunya wafat, David tak kunjung mampu menggunakan ilmunya untuk mencari duit. Pertemuannya dengan seorang wartawan majalah klenik di Surabaya pada 1992 mengubah jalan hidup paranormal ini. Wartawan itulah yang “membaptisnya” menjadi paranormal profesional. Sejak saat itu, nama David Iman Kristian diubahnya menjadi David Gombak. Nama terakhir ini adalah julukan bagi keturunan Cina yang punya kelebihan. Lalu, apa kelebihannya sebagai dukun? Ia menguasai ilmu Lamuran Anjasmara yang dipercaya dapat mempertahankan kondisi fisik seseorang. Sekitar 60 persen pemakai Lamuran Anjasmara adalah pesohor yang sering kita lihat di televisi. Kini ucapan mendiang gurunya sudah terbukti. Setiap bulan ia mengaku memperoleh jutaan rupiah dari praktek keliling di beberapa kota besar. Separuh penghasilannya ia gunakan untuk membayar iklan di media massa.

Mbah Yitno Pensiunan pegawai negeri ini masih tipikal dukun masa lalu yang pantang meminta bayaran. Prayitno (nama lengkap Mbah Yitno), 56 tahun, tak mematok tarif jasanya. Berapa pun pemberian pasien dia terima. Tak mengherankan, dia lebih sering menerima uang pas sebesar Rp 10 ribu atau Rp 20 ribu di tempat prakteknya di Kampung Dosuman, Kelurahan Pati Timur. Yitno hanya meminta pasiennya membayar bila servis yang dia berikan adalah pemasangan susuk?yang harga materinya memang mahal. Pasien Prayitno tersebar hingga jauh ke luar Pati. Namun, teknologi komunikasi modern memungkinkan Yitno membaca mantra dari jarak ribuan kilometer dengan medium (segelas air putih). Soal jodoh, karir, usaha, dan keturunan adalah spesialisasinya sejak Prayitno menjadi paranormal pada 1991.
 
DMCA.com
*Layanan ini disediakan oleh PT Globalj4v4 Sdn. | Halaman Awal ini juga disediakan oleh PT Globalj4v4 Sdn. | Semua layanan lain yang tidak memiliki tanda “*” akan menuju ke situs web pihak ketiga, yang kontennya mungkin tidak sesuai dengan undang-undang di wilayah Anda. Anda, bukan PT Globalj4v4 Tbk, bertanggung jawab penuh atas akses ke dan penggunaan situs web pihak ketiga.
Hak Cipta © 2015 PT Globalj4v4 Sdn (Co. Reg. BlogID. 2825584887500486077). Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.
Kampus Wong Sinting | Globalj4v4 | Globalw4r3 | Google