Headlines News :

Latest Post

Tampilkan postingan dengan label Kisah Teladan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Teladan. Tampilkan semua postingan

Syech Abdul Qodir Jailani


Nama lengkap beliau adalah Abu Soleh Muyhidin Abdul Qadir bin Musa Aljaelani Alhasani Alhuseini , dilahirkan di suatu tempat bernama “JAELAN” pada tanggal 1 romadhon tahun 471 H suatu daerah yang terletak dibagian luar dari negeri THABARISTAN. Beliau masih ada nasab dengan Rosululloh SAW.Beliau sejak muda gemar menuntut ilmu diantara guru-guru beliau adalah Syeck Abi al wafa’ , Syeck Abil Khaththab al kalwadzani, dan Syeck Abil Husein Abu ya’la, dan masih banyak guru-guru lainnya . Syech Abdul Qodir Al jaelani dengan penuh jeripayah berusaha memperoleh ilmu -ilmu agama seperti ilmu Fiqh, ilmu adad, ilmu thoriqoh sehingga dirinya menyebabkan menjadi seorang yang a’lim .


Beliau selalu dalam keadaan suci ( mempunyai wudhu terus) mengerjakan sholat subuh masih menggunakan wudhu’ yang diambil ketika hendak mengerjakan sholat isya’. Apabila berhadast maka beliau cepet-cepat mengambil air wudhu’. Setiap malam sehabis sholat isya hingga menjelang sholat subuh waktu nya dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada Alloh SWT dengan memperbanyak dzikir, tafakkur dan bertawajjuh kehadiratNYa. Sehingga beliau kurang tidur. Bagi beliau mempunyai pendirian hidup yang selalu didasarkan kepada tuntunan ajaran islam, beliau lebih suka makam rumput yang halal dari pada roti yang diperoleh dengan jalan Syubhat(samar) ini sikap kehati-hatian terhadap kehidupan dunia ini terutama terhadap benda apa saja yang syubhat kedudukannya apalagi terhadap benda yang jelas-jelas haram hukumnya.

Pada tahun 521 H/1127 M, dia mengajar dan berfatwa dalam semua madzhab pada masyarakat sampai dikenal masyarakat luas. Selama 25 tahun Syech Abdul Qadir Jaelani menghabiskan waktunya sebagai pengembara Sufi di padang pasir Irak dan akhirnya dikenal oleh dunia sebagai tokoh sufi besar dunia Islam. Selain itu dia memimpin madrasah dan ribath di Baghdad yang didirikan sejak 521 H sampai wafatnya di tahun 561 H. Madrasah itu tetap bertahan dengan dipimpin anaknya Abdul Wahab (552-593 H/1151-1196 M), diteruskan anaknya Abdul Salam (611 H/1214 M). Juga dipimpin anak kedua Abdul Qadir Jaelani, Abdul Razaq (528-603 H/1134-1206 M), sampai hancurnya Bagdad pada tahun 656 H/1258 M.

Diceritakan dalam kitab Manakib Syeck Abdul qodir al jalelani bahwa beliau melihat Cahaya agung yang memenuhi ufuk dan dari balik cahaya itu kemudian keluarlah sebuah gambaran tubuh ,lalu terdengar lah suara memanggil beliau: “Hai Abdul Qodir …!! Akulah Tuhan Mu !! sekarang aku nyatakan kepadamu bahwa semua yang haram aku halalkan padamu.” Maka berkatalah Syeck Abdul Qodir Al Jaelani :”aku berlindung kepada Alloh Dari syaithon yang terkutuk”, kemudian beliau ditanya,”Dari manakah kamu mengetahui bahwa dia aku ini syaithon…? Beliau menjawab dari perkataanmu “Telah aku halalkan yang haram padamu.”sebab aku (Syeck Abdul Qodir Al jaelani) tahu bahwa Alloh tidak pernah memerintahkan untuk berbuat kejahatan.”

Dikisahkan pula pada saat ibunya sudah berusia 60 tahun. Kemudian setelah ia menanjak ke masa remaja, ia pun minta izin pada sang ibu untuk pergi menuntut ilmu. Oleh sang ibu, ia dibekali sejumlah uang yang tidak sedikit, dengan disertai pesan agar ia tetap menjaga kejujurannya, jangan sekali-sekali berbohong pada siapapun. Maka, berangkatlah Syechk Abdul Qodir muda untuk memulai pencarian ilmunya. Namun ketika perjalanannya hampir sampai di daerah Hamadan, tiba-tiba kafilah yang ditumpanginya diserbu oleh segerombolan perampok hingga kocar-kacir. Salah seorang perampok menghampiri Syeck Abdul Qodir, dan bertanya, “Apa yang engkau punya?” Syeck Abdul Qodir pun menjawab dengan terus terang bahwa ia mempunyai sejumlah uang di dalam kantong bajunya. Perampok itu seakan-akan tidak percaya dengan kejujuranSyeck Abdul Qodir, kemudian ia pun melapor pada pemimpinnya. Sang pemimpin rampok pun segera menghampiri Syeck Abdul Qodir dan menggeledah bajunya. Ternyata benar, di balik bajunya itu memang ada sejumlah uang yang cukup banyak. Terheran-heran kepala rampok itu lalu berkata kepada Syeck Abdul Qodir: “Kenapa kau tidak berbohong saja ketika ada kesempatan untuk itu?” MakaSyeck Abdul Qodir pun menjawab: “Aku telah dipesan oleh ibuku untuk selalu berkata jujur dan tidak boleh berbohong . Dan aku tak sedikitpun ingin mengecewakan ibuku ” Sejenak kepala rampok itu tertegun dan merenung dengan jawaban syeck Abdul Qodir, lalu berkata: “Sungguh engkau sangat berbakti pada ibumu, dan engkau pun bukan orang sembarangan.” Kemudian ia serahkan kembali uang itu padaSyeck Abdul Qodir dan melepaskannya pergi. sejak saat ituKepala perampok beserta anak buahnya diberi Hidayah Oleh Alloh SWTdan bertaubat untuk tidak melakukan perbuatan merampok lagi.

Dan diantara Karomah Syeck Abdul Qodir Al Jaelani yang di terangkan dalam kitab Lubabul ma’ni, pernah ada seorang wanita berkunjung kepada Syeck Abdul Qodir Al jaelani dengan membawa anaknya agar berguru kepadanya, kemudian diperintahkan agar ia bermujahadah dan menlajani cara-cara hidup nya para ulama shalapus sholeh, lalu pada suatu saat wanita tadi melihat anaknya sangat kurus dan mengetahui anaknya makan roti yang basi dan buruk dan ketika wanita itu masuk ketempat Syeck Abdul Qodir Al jaelani dilihatnya ada tulang-tulang ayam bekas dimakan daging-dagingnya, maka wanita itu menanyakan tentang hal itu, kemudain Syeck Abdul qodir Al jaelani meletakkan tangannya diatas tulang-tulang ayam itu seraya berkata ” Bangkitlah dengan izin Alloh yang telah mengidupkan tulang-tulang yang telah hancur.” Makabangkitlah tualng-tulang itu menjadi ayam kembali seraya berkokok” laa ilaha illalloh muhammad rosululloh syeck abdul qodir waliyulloh..”

Peristiwa ini adalah merupakan Khoriqul ‘adat (diluar kebiasaan ) atau karomah yang diberikan Alloh SWT kepada wali-wali alloh, meskipun demikian itu menurut akal manusia biasa digambarkan sebagi suatu kejadian yang sama sekali tidak dapat diterima oleh oleh akal itu sendiri , akan tetapi bagaimana pun kenyataan peristiwa itu membuat akal manusia menjadi sadar untuk berkesimpulan betapa besar kekuasaan Alloh.


Silsilah beliau Al Arifbillah Assayyid Abdul Qadir al Jailani r.a

  1. Sayyidina Ali bin Abi Thalib
  2. Sayyid Hasan
  3. Sayyid Hasan al Mutsanna
  4. Sayyid Abdullah al Mahdi
  5. Sayyid Musa al Jun
  6. Sayyid Dawud
  7. Sayyid Muhammad
  8. Sayyid Yahya Azzahid
  9. Sayyid Abdullah
  10. Sayyid Musa
  11. Syekh Abdul Qadir al Jailani r.a
Syeikh Abdul Qadir al Jailani adalah seorang yang diagungkan pada masanya. Diagungkan oleh para syekh, ulama, dan ahli zuhud. Beliau banyak memiliki keutamaan dan karamah.

Golongan Manusia Menurut Syekh Abdul Qodir Jailani

Menurut Syekh Abdul Qadir Jailani, bahwa manusia itu dapat dikelompokkan menjadi empat golongan, yaitu :
  1. Manusia yang tidak mempunyai lisan dan hati, senang berbuat maksiat, menipu serta dungu. Berhati-hatilah terhadap mereka dan jangan berkumpul dengannya, karena mereka adalah orang-orang yang mendapat siksa.
  2. Manusia yang mempunyai lisan, tapi tidak mempunyai hati. Ia suka membicarakan tentang hikmah atau ilmu, tapi tidak mau mengamalkannya. Ia mengajak manusia ke jalan Allah Swt. tapi ia sendiri justru lari dari-Nya. Jauhi mereka, agar kalian tidak terpengaruh dengan manisnya ucapannya, sehingga kalian terhindar dari panasnya kemaksiatan yang telah dilakukannya dan tidak akan terbunuh oleh kebusukan hatinya.
  3. Manusia yang mempunyai hati, tapi tidak mempunyai ucapan (tidak pandai berkata-kata). Mereka adalah orang-orang yang beriman yang sengaja ditutupi oleh Allah Swt. dari makhluk-Nya, diperlihatkan kekurangannya, disinari hatinya, diberitahukan kepadanya akan bahaya berkumpul dengan sesama manusia dan kehinaan ucapan mereka. Mereka adalah golongan waliyullah (kekasih Allah) yang dipelihara dalam tirai Ilahi-Nya dan memiliki segala kebaikan. Maka berkumpullah dengan dia dan layanilah kebutuhannya, niscaya kamu juga akan dicintai oleh Allah Swt.
  4. Manusia yang belajar, mengajar dan mengamalkan ilmunya. Mereka mengetahui Allah dan ayat-ayat-Nya. Allah Swt. memberikan ilmu-ilmu asing kepadanya dan melapangkan dadanya agar mudah dalam menerima ilmu. Maka takutlah untuk berbuat salah kepadanya, menjauhi serta meninggalkan segala nasihatnya.
Semoga kita semua tidak termasuk kepada golongan yang pertama dan yang kedua dan semoga pula kita dilindungi dari golongan seperti itu.

Kanjeng Syech Abdul Qodir Jailani dan Kuda Berbulu Emas


Singkat cerita pemuda ini memang sudah lama mendengar berita tentang Kanjeng Syech yang sangat terkenal itu. Dalam hati kecilnya dia ingin belajar pada beliau. Pemuda ini bernama Somad yang tinggal di sebuah desa kecil cukup jauh dari kediaman kanjeng syech.

“Ayah, ibu, saya mohon ijin untuk belajar kepada kanjeng syech”, kata pemuda ini berpamitan kepada kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya paham betul dengan tekad anak mereka ini karena sejak kecil dia memang cenderung kepada agama dan para tokoh-tokohnya. Dengan berbekal secukupnya dia berangkat. Pemuda ini berpenampilan sederhana karena demikian yang ia pahami tentang agama. Dia belum tahu persis dimana rumah kanjeng syech tapi dia yakin akan menemukan rumah sang guru karena syech ini terkenal dan mencari kediaman orang yang terkenal tidaklah sulit. Setelah bertanya beberapa kali ternyata rumah kanjeng syech tidak ditengah-tengah kota melainkan di pinggiran kota. Sampai di pertigaan masuk ke kampung si pemuda bingung dia harus lewat jalan yang mana. Dia bertanya pada penduduk setempat.

“Permisi ,pak, dimana arah kediaman kanjeng syech ?”

“Oh…anak ambil jalan yang kekanan nanti ada gang kecil anak belok kiri jangan lurus. Nah …nanti ada rumah itu rumah kanjeng syech”

“Terimakasih, pak, “ si pemuda segera ambil jalan ke kanan seperti yang ditunjukkan bapak itu.
“Waduh….lupa aku, itukan jalan belakang yang biasa aku lewati jalan menuju kandang kuda.. Kalau tamu seharusnya dari depan tidak dari belakang” kata bapak itu sambil celingukan mencari si pemuda tetapi si pemuda sudah tidak kelihatan. Ternyata bapak ini salah satu dari 3 orang pembantu kanjeng syech yang ditugaskan mengurusi kuda-kuda beliau. Ternyata benar, di ujung gang kecil itu banyak istal/kandang kuda. Si pemuda terkagum-kagum melihat kuda-kuda itu karena bulu dan buntut kuda itu berwarna keemasan. Belum pernah dia melihat bulu kuda berwarna emas seperti itu. Kuda itu tinggi besar,gagah sekali. Dia terus berjalan memperhatikan kandang kuda. Luar biasa ,alas kandang untuk tempat tidur kuda digelar karpet dan kandangnya dari kayu pilihan yang diukir. Kandang itu bersih sekali, tidak tampak kotoran berceceran. “Wah….wah…wah….luar biasa , ini kuda siapa,ya ?” tanya pemuda didalam hati. Dia terus berjalan, sekarang dia melewati kamar-kamar yang berjejer. Tampak bagus dan rapi. Di dalam salah satu kamar dia melihat banyak barang-barang seni yang mahal-mahal . Disamping kamar yang berjejer itu ada ruangan besar seperti aula. Bangunan aula itu megah sekali. Tampak jelas bahwa bahan dasar yang dipakai untuk membangun aula ini tidak sembarangan dan pasti dari bahan-bahan pilihan. Dia melihat disitu banyak orang berkumpul. Sepertinya mereka mengenakan seragam dan seragam mereka cukup baik dari warna maupun bahannya. Tampak beberapa orang mengawasi si pemuda dan jika si pemuda menatap mereka, orang-orang itu mengangguk sambil tersenyum. Si pemuda kelihatan kebingungan, “Jangan-jangan aku salah masuk rumah , masak ini rumah kanjeng syech” kata si pemuda mulai cemas. Dalam bayangan si pemuda rumah kanjeng syech seharusnya tidak demikian melainkan sebuah gubuk atau rumah sederhana. Tetapi yang dia temui sangat bertentangan dengan bayangannya. Dia pun jadi ragu-ragu. Dalam keadaan seperti itu tiba-tiba ada orang yang mendatangi si pemuda dan bertanya dengan sopan :

“ Salam sejahtera, nak, saya lihat anak kebingungan. Anak siapa, dari mana dan hendak bertemu siapa ?”

“Saya Somad, pak,..ee..saya dari desa ujung kulon. Saya mencari kediaman kanjeng syech. Apa benar ini tempat tinggal kanjeng syech ?” tanya si pemuda.

“Benar, nak, ini kediaman kanjeng syech dan kami adalah murid-murid beliau”

“Kalau saya ingin bertemu kanjeng syech bisa,pak”

“Oooh…bisa, bisa, nak, hanya saja sekarang kanjeng syech sedang mengunjungi sahabat beliau yang sedang sakit. Kalau anak muda sudi kiranya menunggu beliau bersama kami”.

“Terimakasih,pak, “ jawab si pemuda. Kemudian si pemuda bergabung dengan para tamu di ruang tamu. Tidak henti-hentinya matanya mengawasi ruang tamu itu. Ruang tamu kanjeng syech begitu lebar dengan karpet tebal mahal terbentang memenuhi ruangan tersebut. Dinding ruang tamu itu dihiasi dengan tulisan-tulisan kaligrafi indah. Ornamen-ornamen yang terpasang memberi kesan mewah pada ruangan itu. Lampu-lampu hias bergelantungan disana sini. Diatas karpet dihidangkan berbagai macam makanan dan minuman untuk menjamu tamu-tamu yang datang. Semua pemandangan dan keadaan yang ditemui si pemuda dari pertama hingga akhir memberi informasi ke otaknya dan membentuk satu kesimpulan bahwa kanjeng syech kaya raya dan bergelimang dengan kemewahan. Si pemuda merenung. Tidak seperti yang dibayangkanya jika ini benar kediaman kanjeng syech. Mengapa orang yang selama ini terkenal zuhud dan dan kesolehannya ternyata hidup dalam kemewahan dan serba enak?, pikir si pemuda. Ini tidak benar, tidak sesuai dengan ajaran. Tidak tampak konsep zuhud berjalan di tempat ini pikirnya. Wali kadunyan istilahnya, mereka sering mengatakan seperti itu. Maksudnya seorang ulama yang hidup dengan materi duniawi yang melimpah dan menyukai cara hidup seperti itu. Hati pemuda berontak karena tidak sesuai dengan pendiriannya. Dia harus segera pergi agar tidak terjebak dengan keadaan disitu dan tidak terkena v irus cinta dunia, pikirnya. Si pemuda berdiri dan segera berpamitan.

“Tidak menunggu kanjeng syech,mas, sebentar lagi beliau pulang” kata santri menahan si pemuda

“Saya harus kembali sekarang,pak”jawab si pemuda tanpa memberikan jawaban yang jelas. Dia segera berdiri dan keluar dari ruang tamu kanjeng syech. Kali ini dia tidak salah jalan, Dia melewati pintu gerbang depan. Belum jauh dia melangkah terdengar suara gemerincing dari kejauhan. Si pemuda menghentikan langkahnya. Dia sembunyi di balik pohon sambil mengawasi siapa gerangan yang akan lewat. Dadanya berdegup kencang, “Jangan-jangan itu kanjeng syech “ pikirnya. Suara gemerincing semakin dekat dan tampak dari jauh sebuah kereta kencana mendekat. Kereta itu tampak berkilau terkena sinar matahari. Empat ekor kuda berwarna keemasan menarik kereta itu. Luar biasa bagusnya kereta kencana itu dan….oh….itu kanjeng syech….gumam si pemuda. Penampilan beliau yang gagah dan berwibawa. Dari wajah beliau terpancar aura yang menentramkan hati. Ahh….itu hanya tampilan luar, aku sudah tahu siapa kanjeng syech itu sebenarnya, dia hanyalah orang biasa yang senang hidup mewah bergelimang harta. Seharusnya ulama tidaklah demikian. Jika beliau paham ilmu agama mengapa beliau berpenampilan seperti itu ? kata si pemuda menilai kanjeng syech. Dia segera meninggalkan tempat itu sambil sedikit menggerutu. “Wali taek”, katanya.

Sampe di rumah, dia segera menemui kedua orang tuanya. Bapak dan ibunya heran kenapa si pemuda cepat sekali pulang. Belum sempat mereka bertanya si pemuda sudah menerangkan bahwa kanjeng syech yang selama ini dijunjung tinggi oleh masyarakat dan terkenal itu tidaklah seperti apa yang mereka sangka. Si pemuda kemudian menceritakan perjalananya ke kediaman kanjeng syech dan mengemukakan alasan kenapa dia pulang. Kedua orang tua si pemuda diam tidak memberi komentar apa-apa.

“Terserah padamu saja, semua ini adalah keputusanmu dan pasti ada hikmah dibalik ini semua” kata bapak pemuda itu.

“Ya ,pak, saya mau belajar ditempat lain saja” pemuda memutuskan.


Kejadian yang menimpa Somad sepulang dari kediaman Kanjeng Syech

Hari berganti hari, tidak terasa sudah 1 bulan si pemuda terbaring di tempat tidur. Dia jatuh sakit sejak pulang dari kediaman kanjeng syech. Penyakit aneh yang dideritanya badannya panas 3 hari dan setelah turun panasnya seluruh tubuh tidak bisa digerakkan, lumpuh istilahnya tapi dia sadar dan bisa diajak berbicara. Kedua orang tuanya sangat sedih melihat keadaan putra mereka. Sudah banyak ahli pengobatan yang dimintai tolong menyembuhkan putra mereka tapi belum juga kelihatan hasilnya. Dan sekarang sudah empat bulan si pemuda terbaring dan belum tampak perubahan pada dirinya. Kesedihan bertambah dalam dirasakan oleh kedua orang tuanya tetapi si pemuda masih optimis penyakitnya bisa disembuhkan. “Saya mohon bapak jangan putus asa, mohon dicoba sekali lagi barangkali Tuhan kiranya berkenan menunjukkan jalan kesembuhan”. Setelah berkata demikian bapak si pemuda teringat teman lamanya yang juga ahli pengobatan tetapi jaraknya cukup jauh dari rumah mereka. Si bapak segera bersiap berangkat menemui temannya. Perjalanan dua hari akan dia tempuh demi mencari kesembuhan untuk putranya. Tidak sulit bagi si bapak mencari rumah temannya karena dulu dia sering berkunjung ke rumah sobatnya itu. Setelah bertemu dia menceritakan penyakit anaknya kepada temannya itu. Temannya diam seperti bermeditasi mencari petunjuk. Tiba-tiba :

“ Wah…..ini penyakit langka dan tidak biasa. Barangkali anakmu pernah menyakiti seseorang atau berbuat zholim pada seseorang yang bukan orang biasa.Penyakit ini hanya bisa diobati dengan obat yang sulit didapat dan mahal harganya”.

“Kalau boleh tahu apa obat penyakit anak saya ?”

“Obatnya memakan 10 hati kuda dan kudanya bukan kuda biasa”

“Sepuluh hati kuda ? Kuda apa ?”

“Kuda yang bulu dan buntutnya berwarna emas”

“Matek aku…, dimana saya bisa mendapatkan kuda seperti itu?”

“Itulah sulitnya. Andaipun ada belum tentu yang punya mau menjual kuda itu karena langka. Seumpama dijual tentunya harganya mahal sekali”

Bapak si pemuda terdiam putus asa. Dia tidak tahu lagi harus bagaimana. Selain sulit mencari obat untuk anaknya, kalaupun ada belum tentu bapak itu sanggup untuk membayar karena tidak mungkin kuda langka seperti itu dijual dengan harga biasa.

“Terimakasih banyak atas bantuanmu. Kami mohon doa semoga kami bisa menemukan obat ini dan anak kami bisa pulih kembali. Jika ada berita penting tolong segera disampaikan kepada saya”.

“Sama-sama, semoga kamu berhasil dan anakmu segera pulih”. Bapak pemuda pamit dan segera pulang. Sampai di rumah si bapak menjelaskan perihal obat anaknya kepada istrinya. Ibu si pemuda menangis mendengar penjelasan itu. Ibu si pemuda juga berpikiran sama dengan bapak Somad , tidak tahu harus berbuat apa untuk bisa menolong anaknya. Dengan berat hati keduanya menemui si pemuda yang terbaring dan menjelaskan kepadanya obat yang bisa menyembuhkanya. Somad tidak bisa berkata sepatah katapun, tampak matanya berkaca-kaca kemudian dia meneteskan air mata. Ada penyesalan dalam batinya. Dia teringat ketika dia mendatangi kediaman kanjeng syech. Dia melihat perjalan itu seperti film yang diputar ulang dan tiba pada saat dia melalui jalan belakang dia tersentak kaget karena dia melihat dalam bayangan itu dia berjalan melalui istal/kandang kuda dan ….yach….tidak salah lagi kuda yang ada di kandang itu bulu dan buntutnya berwarna emas. Kanjeng syech lah yang punya kuda seperti itu. Dia berteriak memanggil kedua orang tuanya dan menceritakan bahwa yang punya kuda berbulu emas ialah sang ulama terkenal yang berjuluk kanjeng syech yang pernah ia datangi rumahnya. Dia memohon kepada bapaknya agar menemui kanjeng syech dan memohon kepada beliau sudi kiranya memberikan hati kuda itu untuk obat anaknya. Tapi sepertinya si bapak sangat keberatan dengan permintaan putranya itu karena untuk bertemu dengan kanjeng syech saja dia sudah segan apalagi meminta hati kuda berbulu emas ? Wow… rasanya seperti memikul gunung dan menyelam ke dasar lautan. Sungguh tidak kuasa untuk menyampaikan permintaan seperti itu.

“Dicoba dulu, pak, ini namanya ikhtiar siapa tahu kanjeng syech berkenan membantu kita. Paling tidak beliau bisa memberi saran dan nasehat” ibunya mengusulkan. Si bapak berpikir pasti ada hubungan antara penyakit anaknya dan sosok kanjeng syech. Tidak mungkin penyakit aneh seperti ini muncul begitu saja.

“Nak, coba kamu ceritakan bagaimana sebenarnya kejadian yang kamu alami ketika kamu berkunjung ke rumah kanjeng syech”. Si pemuda pun menceritakan dari pertama sampai terakhir apa yang dia alami dan temui ketika dia berkunjung ke rumah kanjeng syech dan termasuk persangkaan dia terhadap beliau. Si bapak mendengarkan dengan seksama penuturan si anak. “Inilah hikmah yang sebenarnya. Ya Tuhan , maafkan putraku yang telah menyakiti kekasihMu, yang dia tahu hanyalah sebatas ilmunya saja. Oleh karena itu engkau arahkan hatinya kesana dan engkau ciptakan sakit putra hambaMu yang hina ini untuk Engkau ajarkan kapada dia ilmuMu yang sebenarnya. Semua ini berjalan sesuai dengan ilmu, kehendak dan keputusanMu. Tolonglah aku ,Wahai Sang Maha Pengasih….”demikian doa si bapak dalam hatinya.Setelah hening sebentar si bapak melanjutkan :“Baiklah kalau begitu bapak akan menemui kanjeng syech dan menceritakan perihal sakitmu serta memohon saran kepada beliau”. Besok harinya pagi-pagi benar bapak Somad berangkat menuju kediaman kanjeng syech. Sampai diluar pintu gerbang, bapak si pemuda ditemui oleh salah seorang santri kanjeng syech : “ Salam sejahtera. Silahkan , pak, bapak sudah ditunggu oleh kanjeng syech”. Si bapak terkejut mendengar penuturan santri kanjeng syech itu, berarti beliau sudah mengetahui kedatanganya. Benar saja, begitu si bapak masuk pintu gerbang, tampak kanjeng syech berdiri di depan pintu rumah menunggu dia sambil tersenyum.

“Bagaimana perjalananya, pak? Bapak pasti lelah mari silahkan masuk dan beristirahat sejenak” sambut kanjeng syech dengan ramah. Oh…ini kanjeng syech, orangnya tinggi besar, kulitnya kemerah-merahan, wajah beliau tampan dan berjenggot. Kanjeng syech masuk lagi kedalam. Para pelayan segera menghidangkan makanan dan minuman.

“Mari silahkan , pak “para pelayan mempersilahkan. Benar apa yang dikatakan si Somad, rumah kanjeng syech megah dan indah, beliau memang orang berada. Tidak lama kemudian kanjeng syech muncul kembali dan duduk bersama tamu-tamu yang lain. Bapak si Somad segera menghadap : “ Maap kanjeng syech, kedatangan saya kemari untuk minta saran dan nasehat, apa yang harus saya lakukan untuk mengobati anak saya”

“ Anak bapak sakit ?”

“Benar, kanjeng syech. Anak saya lumpuh”

“Sudah lama sakitnya ?”

“Belum, kanjeng syech, kira-kira empat bulan yang lalu”. Kemudian si bapak menceritakan awal mula penyakit anaknya dan obat yang dia cari yaitu hati kuda berbulu emas.

“Aneh juga sakitnya ya….. Tapi bapak ndak usah kawatir. Kalau obatnya hati kuda berbulu emas kebetulan saya punya kuda jenis seperti itu” kata kanjeng syech dengan tenang. Bapak si pemuda mengucap sukur sambil memegangi wajahnya namun ada satu permasalahan berat, berapa dia harus membayar untuk menebus seekor kuda berbulu emas ? apalagi persyaratannya sepuluh ekor ? bapak si pemuda termenung kembali, wajahnya kelihatan murung. Dia bertanya di dalam hatinya apakah dia sanggup untuk menebus kuda-kuda itu.

“Bapak tidak usah memikirkan uang penebus kuda” kata kanjeng syech. Si bapak teerkejut karena kanjeng syech tahu apa yang dipikirkannya.

“Jika bapak butuh silahkan dimanfaatkan.Kami ikhlas membantu bapak sampai anak bapak sembuh” ujar kanjeng syech menenangkan si bapak. Bapak si Somad menangis tersedu-sedu, dia tidak tahu harus berterimakasih dengan cara apa kepada kanjeng syech yang sangat penolong itu.

“Terimakasih ,kanjeng syech, saya tidak tahu harus bagaimana membalas budi baik kanjeng syech kepada keluarga kami. Hanya doa-doa yang bisa kami panjatkan semoga kanjeng syech dan seluruh warga disini selalu mendapat rahmat dan barokah dari Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang”

“Aaa…miii….n” gemuruh suara para santri, para tamu dan jama’ah yang hadir. Ternyata mereka dari tadi mengikuti dengan seksama dialog antara kanjeng syech dan bapak si Somad.

“Ali, temani bapak ini ke kandang. Sembelih satu ekor kuda, ambil hatinya dan serahkan pada bapak ini untuk obat putranya”.

“Baik, kanjeng syech” jawab Ali. Ali adalah salah satu santri senior kanjeng syech yang sudah berpuluh tahun menyantri disitu. Ali segera menggandeng tangan si bapak dan mengajak beliau ke kandang. Sampai di kandang si bapak terkagum-kagum melihat kandang kuda yang bisa dikatakan lebih baik dari rumahnya. Semuanya berisi kuda-kuda pilihan yang bulu dan buntutnya berbulu emas. Ali dan para santri yang lain segera melaksanakan amanat dari kanjeng syekh. Satu kuda disembelih kemudian hatinya diambil dan diserahkan kepada bapak si Somad.

” Terimakasih, nak Ali. Saya merepotkan nak Ali saja”

“Sama-sama, pak. Ini sudah tugas saya. Sebaiknya bapak segera pulang dan mengobati putra bapak. Mereka sudah menunggu. Nanti jika sudah waktunya pengobatan, bapak segera menghadap kanjeng syech dan jangan segan-segan karena kalau bapak segan terus bapak mengurungkan niat berarti bapak terkena cobaan demikian pula kanjeng syech . Semoga bapak bisa memahami ini ” kata Ali ; santri senior kanjeng syech.

“Ya, nak, terimakasih atas nasehatnya”. Si bapak segera pulang. Dia lewat belakang yaitu jalan yang dilalui putranya;Somad. Si bapak menghitung kandang kuda ternyata ada sepuluh kandang kuda berisi semua kecuali satu kandang sebelah paling kanan, kosong, karena hatinya sudah dibawa oleh si bapak. Sampai di rumah ibu si pemuda ternyata sudah menunggu-nunggu kepulangan suaminya.


Pengobatan dengan hati kuda berbulu emas

“Bagaimana, pak, berhasil ? bapak bertemu kanjeng syech ? beliau bilang apa ? “ si ibu mendera si bapak dengan pertanyaan. Bapak tidak menjawab melainkan beliau bersungkur sujud kepada Tuhannya sebagai tanda terimakasih atas petunjuk dan anugrahNya. Kemudian si bapak menceritakan perjalanannya hingga kembali. Ibu si pemuda menangis terharu karena mendapat perlakuan begitu baiknya dari kanjeng syech. Bertambah yakin mereka kalau kanjeng syech bukanlah orang biasa. Tanpa menunda-nunda hati kuda segera dimasak kemudian disuapkan ke putra mereka yang lumpuh. Satu hati kuda dihabiskan selama satu minggu. Setelah seminggu perubahan terjadi pada si pemuda. Dia bisa menggerakkan telapak dan jari kakinya. Tapi hanya itu saja yang bisa dia gerakkan. Dua minggu sudah berlalu, si bapak teringat pesan Ali; santri kanjeng syech agar segera menghadap kanjeng syech jika sudah waktunya. “Sepertinya aku harus menghadap kanjeng syech untuk pengobatan yang kedua” kata si bapak. Pagi-pagi si bapak berangkat dan sampai diluar pintu gerbang dia dihampiri salah seorang santri kanjeng syekh seperti kedatangannya yang pertama. “Mari, pak, bapak sudah ditunggu ole kanjeng syekh”. Benar saja, begitu si bapak masuk pintu gerbang kanjeng syekh sudah berdiri di pintu sambil tersenyum lebar. “Bagaimana perjalananya, pak? Bapak pasti lelah,mari silahkan masuk dan beristirahat sejenak” sambut kanjeng syech dengan ramah. Setelah istirahat kanjeng syech bertanya “ Bagaimana keadaan putranya ?”

“Terimakasih atas kebaikan kanjeng syech, sekarang dia sudah bisa menggerakkan telapak kaki dan jari kakinya” jawab si bapak berbinar-binar.“Syukurlah, semoga terus ada perkembanganya. Ali, setelah cukup beristirahat antar bapak ke kandang dan segera ambilkan hati kuda yang kedua”

“Sendiko dawuh , kanjeng syech”. Setelah cukup beristirahat, Ali menggandeng tangan si bapak dan mengajak beliau ke kandang. Bapak Somad terheran-heran, dia merasa seakan-akan tidak ada perubahan apa-apa pada diri kanjeng syekh dan santri-santri beliau, biasa-biasa saja. Kanjeng syekh sama sekali tidak terlihat seperti orang yang kehilangan harta benda. Ekspresi wajah beliau tetap tenang, datar dan biasa-biasa saja. Luar biasa….kuda semahal ini seperti tidak berharga pada diri beliau dan kehilangannya pun sama sekali tidak berpengaruh apa-apa pada diri kanjeng syekh.

“Ini ,pak, hati kudanya, segera bapak bawa pulang karena keluarga bapak sudah menunggu di rumah. Jika sudah waktunya segera bapak kesini untuk pengobatan berikutnya. Bapak jangan segan atau sungkan. Jika bapak segan kemudian mengurungkan niat bapak, itu tandanya bapak kena coba dan kanjeng syech pun demikian”

“Baiklah ,nak, terimakasih” jawab si bapak sambil mengingat-ingat nasehat itu. Si bapak merasa bahwa nasehat itu persis seperti nasehat Ali yang pertama. Dia lewat jalan belakang lagi. Sekarang dia melihat sudah dua istal/kandang kuda yang kosong. Si bapak menghela napas pertanda berat pada batinnya. Sesampai di rumah hati yang kedua segera diberikan. Selang satu minggu tampak si pemuda menaikkan betisnya sedikit demi sedikit. Itu perubahan kedua yang dia dapat. Tampak wajah si pemuda berseri-seri dan ibunya tidak henti-henti berucap sukur. Kini sudah tiga minggu berlalu sepertinya sudah saatnya si bapak untuk kembali lagi mengambil hati yang ketiga. Pagi-pagi beliau berangkat dan sampai diluar pintu gerbang, seperti biasa seorang santri menghampiri beliau: “Mari, pak, silahkan. Kanjeng syekh sudah menunggu bapak” . Benar saja, seperti biasa kanjeng syekh sudah menunggu didepan pintu sambil tersenyum lebar. Si bapak segera mencium tangan kanjeng syech ketika bersalaman.

“Bagaimana, pak, perjalanannya ? Bapak pasti lelah. Silahkan istirahat dulu”.

“Terimakasih kanjeng syekh”

“Bagaimana kabar putranya, sudah ada kemajuan ?”

“Berkat doa dan pertolongan kanjeng syekh anak saya sudah bisa menggerakkan betisnya”

“Syukurlah kalau begitu. Ali….setelah cukup istirahatnya segera ambilkan hati kuda yang ketiga”

“Sendiko dawuh, kanjeng syech”. Kanjeng syech masuk kedalam. Setelah beberapa saat ,Ali menggandeng tangan bapak si Somad dan mengajak beliau ke kandang. Hati ketiga segera diserahkan kepada bapak. “Ini hati yang ketiga,pak, mohon segera dibawa pulang untuk diberikan pada putra bapak karena mereka sudah menunggu bapak. Dan jika sudah waktunya, bapak segera kembali kesini untuk menerima obat yang ke empat. Bapak tidak boleh segan atau sungkan. Jika bapak segan kemudian bapak mengurungkan niat bapak berarti bapak terkena cobaan dan kanjeng syech pun demikian. Semoga selamat sampai di rumah” pesan Ali; santri senior kanjeng syekh.

“Baiklah,nak, terimakasih”. Si bapak segera pulang lewat pintu belakang. Sekarang tiga kandang yang kosong. Bapak Somad menghela napas. Dia berpikir bahwa Ali selalu mengingatkan dia ketika pulang dengan nasehat yang sama. Pasti ada sesuatu dalam ucapan Ali dan tidak mungkin Ali bicara sembarangan kata bapak dalam hatinya. Sampai di rumah hati ketiga segera diberikan. Pada minggu berikutnya, Somad sudah bisa menggerakkan kakinya keseluruhan. Tapi masih belum bisa menggerakkan badannya bagian atas. Demikianlah seterusnya yang dilakukan si bapak untuk putranya. Hati keempat Somad bisa menggerakkan pinggulnya. Hati kelima dia bisa menggerakkan badannya bagian atas. Hati keenam untuk lengan bagian atas. Hati ketujuh untuk lengan bagian bawah. Hati kedelapan untuk telapak tangan dan jari-jarinya. Hati kesembilan Somad bisa menggerakkan bahunya. Kini Somad sudah mampu menggerakkan seluruh anggota badannya hanya tinggal leher yang tidak bisa dia tegakkan. Obat terakhir barangkali yang bisa mengatasi ini kata hati Somad.

“Bapak berangkat besok?”

“Ya, besok ini bapak berangkat. Semoga tidak ada halangan apa-apa karena ini obat terakhir”.

Besok harinya si bapak berangkat. Perjalanan terakhir ini terasa berat sekali, tidak seperti biasanya. Perut si bapak terus terasa lapar dan tenggorokan selalu haus minta minum. Badan lemas dan kaki pegal-pegal. Bertemu dengan orang aneh-aneh dan mendapati pemandangan yang kurang nyaman.Berkali-kali si bapak ingin mengurungkan niatnya dan kembali ke rumah, tapi pada saat itu juga dia teringat pesan Ali yang selalu diulang-ulang ketika dia hendak pulang. Akhirnya sampai juga si bapak di samping pintu gerbang dan seperti biasa seorang santri menyamperi si bapak: “Mari silahkahkan ,pak, kanjeng syech sudah lama menunggu bapak” . Sampai depan pintu kanjeng syech menyambut bapak seperti biasa . Si bapak melirik ke dalam ruang tamu ternyata tamu yang hadir banyak sekali namun kanjeng syech masih menyempatkan diri untuk menyambut si bapak.’ Kedatanganku ini sebenarnya merepotkan kanjeng syech tapi mengapa kanjeng syech mau berkorban demikian besar untuk aku dan putraku padahal kami ini hanya orang miskin dan tidak punya apa-apa. Apa sebenarnya rahasia dibalik semua ini dan apa maksud kanjeng syech sendiri ?’ kata si bapak dalam hati.

“Bagaimana, pak, perjalanannya ? bapak pasti lelah, mari silahkan istirahat sejenak. Oh..iya, bagaimana keadaan putra bapak ? sudah banyak perkembangannya ?”. Bapak tidak menjawab justru malah menangis tersedu-sedu. “Maapkan kami, kanjeng syekh, kami telah banyak sekali merepotkan kanjeng syekh. Bagaimana kami harus membalasnya sedangkan kami tidak punya apa-apa selain nyawa yang ada di badan kami” kata si bapak sambil tersedu-sedu. “Sudah sembilan kuda yang dikorbankan sekarang akan ditambah satu lagi jadi sepuluh. Ya Tuhan……bagaimana kami ini , kanjeng syech, bagaimana kami ini…?” kata si bapak mengiba tidak berdaya.

Kanjeng syech tetap duduk tegak. Tidak tampak perubahan pada wajah beliau selain keteduhan, bagai pohon yang rindang tempat orang berlindung dari sengatan panasnya matahari. Bibir beliau tersungging senyuman dan senyum itu jika dilihat orang yang keras hatinya seperti apapun akan tunduk khusyuk.

“Tidak…tidak ada yang direpotkan. Kami dan para santri semua rela menolong putra bapak. Harapan kami nantinya putra bapak bisa sembuh kelak menjadi anak yang soleh, itu saja”

“Terikasih atas pertolongan kanjeng syech. Putra saya sekarang sudah semakin membaik. Tinggal leher yang belum bisa dia gerakkan” jawab si bapak terbata-bata sambil menyeka air mata.

“Syukurlah kalau begitu. Semoga dengan hati yang kesepuluh ini putra bapak pulih seperti sedia kala. Ali, jika sudah cukup istirahatnya segera antar bapak ke kandang dan ambil hati kuda yang kesepuluh”

“ Sendiko dawuh, kanjeng syech”. Setelah dirasa cukup Ali segera menggandeng tangan si bapak dan mengantarnya ke kandang. Kuda kesepuluh pun disembelih kemudian hatinya dan diserahkan ke bapak Somad.

“Ini hati kesepuluh, pak, segera bapak bawa pulang dan berikan ke putra bapak semoga dia segera pulih seperti sediakala. Dan nantinya jika masih ada hal-hal yang perlu bapak sampaikan kepada kanjeng syech segera bapak kemari dan jangan segan atau sungkan. Jika bapak segan kemudian mengurungkan niat bapak , berarti bapak kena coba dan begitu pula kanjeng syekh”

“Baik, nak, akan selalu saya ingat pesan anak”. Bapak itu segera pulang lewat jalan biasanya, sekarang dia melihat sepuluh kandang kuda yang kosong. Si bapak menangis melihat pemandangan itu. Ini semua karena aku jerit hatinya. Ibu si pemuda sudah menunggu di depan pintu. “Kok lama sekali pulangnya, pak, nggak kayak biasanya ? ada apa , pak ? kanjeng syech bilang apa ?” tanya ibu cemas. Si bapak tidak menjawab, dia langsung bersungkur sujud sebagai tanda syukur karena lulus dari satu perjalanan berat. Pulang pergi yang biasanya dia tempuh selama 5 hari kini harus dilaluinya dua kali lipat alias sepuluh hari perjalanan. Kalau bukan karena pertolongan Tuhan, perjalanan ini tidak mungkin berhasil ia lalui.

“Kanjeng syech menyampaikan salam kepada kalian semua dan ini hati kuda yang kesepuluh segera berikan pada Somad” jawab bapak singkat. Hati itu segera dimasak kemudian diberikan pada Somad selama satu minggu.

“Wahai Tuhan, apa sebenarnya yang akan Engkau berikan pada Somad sehingga Engkau beri cobaan seberat ini pada dia. Wahai Tuhan , Engkau Maha tahu ,Maha Kuasa, aku pasrahkan urusan ini kepadaMu sebab Engkaulah Sang Pencipta dan dalam genggaman tanganMu langit bumi ini berada” jerit hati si bapak dalam doanya. Tiba-tiba…

“Kreek…” si bapak terkejut mendengar suara itu. Tengah malam begini siapa yang membuka pintu. Si bapak bangkit dan menuju arah suara. “Kricik…kricik….kricik…” sekarang berganti suara air gemericik. Perlahan-lahan si bapak mengintip……..ternyata si Somad; putranya; sedang bersih-bersih mengambil air wudlu. Somad sudah bisa berjalan sekarang karena dia sudah bisa menggerakkan dan menegakkan lehernya. Pada pagi harinya Somad keluar menghirup udara segar. Tetangga kanan kiri menyapa Somad dan menanyakan kesehatannya. Somad sangat bersukur dia bisa sembuh dari lumpuhnya. Hampir satu tahun dia terbaring. Setelah sarapan pagi dia menemui bapak dan ibunya.

“Bapak… Ibu…, Somad sekarang sudah sembuh. Apa yang akan kita lakukan untuk membalas kebaikan kanjeng syech ?”

“Sebaiknya kita semua sowan menghadap kanjeng syekh. Disanalah nanti kita tahu apa yang akan kita lakukan untuk membalas budi kanjeng syech. Sekarang kita berkemas-kemas besok kita berangkat menuju kediaman kanjeng syekh”.

Esok harinya mereka berangkat . Selama dalam perjalan Somad teringat bagaimana dia setahun yang lalu melalui jalan ini menuju kediaman kanjeng syech. Dia menyadari bahwa persangkaannya selama ini kepada kanjeng syeh tidak benar hanya saja dia masih bingung dan belum mengerti kenapa kanjeng syech hidup dengan kemewahan. Dia berharap semoga nantinya dia mendapat penjelasan dari apa yang ia alami selama ini. Sampai di depan pintu gerbang seorang santri menghampiri mereka : “ Salam sejahtera, mari silahkan , kanjeng syech sudah menunggu bapak sekalian”. Si bapak tidak heran dengan sambutan ini karena sudah sepuluh kali dia mengalaminya tetapi lain halnya dengan Somad dan ibunya. Mereka terheran-heran seperti bapak Somad pada awalnya. Benar saja begitu mereka masuk dan mendekat, tampak kanjeng syech berdiri di depan pintu menyambut mereka. “Salam sejahtera semuanya, mari silahkan masuk dan beristirahat” sapa kanjeng syech. Ibu si pemuda terkagum-kagum melihat keelokan kediaman kanjeng syech. Ruang tamu itu begitu indah dengan taman di depan rumah nan asri. “Salam sejahtera, kanjeng syech, puji sukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa putra saya sudah sembuh dari lumpuhnya. Atas bantuan kanjeng syech kami sekeluarga mengucapkan banyak terimakasih dan kami tidak tahu dengan apa kami harus membalas kebaikan kanjeng syech yang tidak terhingga ini”

“Wah…bapak ini…. jangan melebih-lebihkan sesuatu yang sudah jadi kewajiban. Hanya itu yang bisa saya lakukan dan sumbangkan kepada bapak. Semua itu bukan milik saya, ini hanyalah titipan Tuhan yang nantinya akan kembali kepadaNya. Oh…ini putra bapak…siapa namanya ?”

“Saya Somad, kanjeng syech”, jawab Somad sambil menunduk. Dia tidak berani memandang kanjeng syech karena rasa malu pada dirinya. Somad merasa bersalah karena dia sudah berprasangka buruk pada kanjeng syech. Hanya saja sampai sekarang dia belum mengerti, belum paham betul bagaimana yang sebenarnya.

“Berapa umurmu ?”

“Saya 19 tahun, kanjeng syech”.

“Apa pekerjaanmu ?”

“Saya belum bekerja, kanjeng syech, mohon petunjuknya”

“Sudilah kiranya kanjeng syech membimbing putra saya” bapak si pemuda menyela.

“Kamu mau jadi santri disini ?” kanjeng syech menawarkan.

“Mau, kanjeng syech, jika kanjeng syech berkenan” jawab si pemuda.

“Jika kamu aku terima jadi santri, aku tugaskan memelihara kuda kamu mau ?”

“Mau, kanjeng syech, jika itu membuat ridlo hati kanjeng syech”, jawab si pemuda mantap. Si bapak heran, kuda yang mana ? bukankah kuda kanjeng syech sudah disembelih semuanya karena hatinya diambil untuk obat anaknya ?

“Bagaimana, bu ?” tanya kanjeng syech kepada ibu si Somad.

“Saya rela, kanjeng syech, semoga nantinya putra saya jadi anak yang soleh” jawab ibu.

“Baiklah kalau begitu mulai sekarang kamu nyantri disini dan kamu aku tugaskan memelihara kuda bersama santri-santri yang lain”

“Terimakasih ,kanjeng syech” jawab si pemuda kegirangan. Hatinya senang sekali karena harapannya menjadi seorang santri kini terwujud. Dia berjanji akan melayani kanjeng syech dengan sebaik-baiknya dan dia yakin pertanyaan yang selama ini mengendap dalam dirinya akan segera terjawab.

“Bapak dan ibu menginaplah disini barang satu atau dua malam baru pulang”

“Terimakasih kanjeng syech, semoga kebaikan kanjeng syech mendapat balasan dari Tuhan Yang Maha Pengasih”

“Aaa…miii….n” gemuruh suara para santri, para tamu dan jama’ah yang hadir mengaminkan doa si bapak.

“Ali, antar Somad ke kamar santri untuk istirahat. Bapak dan ibu silahkan istirahat, anggap ini rumah sendiri dan jangan sungkan-sungkan. Semoga Alloh merahmati kita semuanya”.

“Aaa…miii….n” suara membahana dari para santri, tamu dan jama’ah yang hadir mengaminkan doa kanjeng syech.

Esok harinya bapak dan ibu Somad berpamitan.

“Kami titip putra kami, kanjeng syech, semoga berguna dan bisa berbakti kepada kanjeng syech dengan sebaik-baiknya dan mendapat ilmu yang manfaat”.

“Amin, amin. Jangan lupa doakan si Somad nantinya kerasan disini. Bapak dan ibu hati-hati di jalan, semoga selamat sampai rumah. Jika bapak dan ibu kangen putranya silahkan datang kemari untuk menjenguknya”

“Kanjeng syech, bolehkah kami menemui putra kami sebelum kami pulang ?”

“Oh..boleh,boleh, silahkan. Ali, antar bapak dan ibu ke kamar Somad”. Setelah keduanya bersalaman dengan kanjeng syech, Ali segera mengantar mereka menemui Somad. Ternyata Somad tidak berada di kamar.“Somad di kandang” kata salah satu santri yang ada disitu. Mereka pun segera menuju kandang kuda. Tampak Somad sedang memandikan kuda. Si bapak tercengang karena dia melihat semua kandang sudah berisi kuda lagi, kuda yang sama dengan yang kemarin. Bulunya berwarna keemasan begitu juga buntutnya. Tidak terasa mulutnya komat-kamit : “Maha suci Tuhan, maha suci Tuhan” akalnya sudah tidak lagi mampu untuk memikirkan semua ini. Begitu pula dengan si ibu dia terheran-heran melihat bagusnya kandang dan isinya. Belum pernah dia melihat kuda sebagus itu. Apakah kuda seperti ini yang dikorbankan kanjeng syech untuk Somad ? pikirnya. Jika iya, alangkah besar pengorbanan syech untuk putranya itu.

“Pak…,Bu…” sapa Somad, “sudah mau pulang ?”

“E..e..,i..i..ya, iya , nak. Bapak dan ibu mau pulang. Kamu baik-baik ya disini. Layani kanjeng syekh dengan sebaik-baiknya. Bapak dan ibu yakin kamu akan mendapatkan ilmu yang manfaat disini”.

“Iya, pak. Doakan Somad ya, Bu, Somad bisa jadi santri”

“Iya, nak, pasti ibu doakan. Jaga kesehatanmu” pesan ibu.

Somad mengantar kedua orang tuanya ke pintu gerbang dengan menenteng beberapa bungkusan oleh-oleh yang dititipkan kanjeng syech untuk orang tuanya.

Malam harinya santri berkumpul untuk mendengarkan nasehat dan bimbingan dari kanjeng syech. Pada akhir wejangannya kanjeng syech berkata :

“Tidaklah bijaksana jika menilai hamba Tuhan dari lahirnya karena tampilan lahir hanyalah sebatas penglihatan mata luar saja. Ingatlah firman Tuhan bahwa ’ Dia tidak melihat kepada jasadmu juga tidak melihat kepada bentukmu tetapi Tuhan melihat hatimu’. Sesuaikanlah penglihatan kamu sekalian dengan penglihatan Dzat yang tidak pernah salah yaitu penglihatan Tuhan, dengan demikian kamu tidak akan salah dalam melihat dan menilai seseorang. Tuhan tidak melihat apa yang kamu punya karena semua ini milikNya tetapi Tuhan melihat apa yang kamu beri sebab dengan memberi hatimu merasa tidak memiliki. Sebutan untuk orang kaya dan berada bukan dinilai dari apa yang dia punya melainkan dari apa yang sudah ia beri untuk ditukar dengan Ridlo Tuhannya. Semoga kamu sekalian ; para santri; bisa memahami ini”.Somad mendengarkan dengan seksama, sekarang sudah terjawab apa yang selama ini menjadi ganjalan hatinya. Dia sudah makan sepuluh hati kuda berbulu emas ini sebagai symbol bahwa dia harus merubah hatinya menjadi hati yang mulia seperti emas. Dia bertekad akan belajar sungguh-sungguh, bekerja sungguh-sungguh agar nantinya dia bisa jadi orang kaya berhati emas seperti Kanjeng Syech.

Hikayat Ketika Abu Nawas Berdoa Minta Jodoh

Ada saja cara Abu Nawas berdoa agar dirinya mendapatkan jodoh dan menikah. Karena kecerdasan dan semangat dalam dirinya, akhirnya Abu Nawas mendapatkan istri yang cantik dan shalihah. Sehebat apapun kecerdasan Abu Nawas, ia tetaplah manusia biasa. Kala masih bujangan, seperti pemuda lainnya, ia juga ingin segera mendapatkan jodoh lalu menikah dan memiliki sebuah keluarga. Pada suatu ketika ia sangat tergila-gila pada seorang wanita. Wanita itu sungguh cantik, pintar serta termasuk wanita yang ahli ibadah. Abu Nawas berkeinginan untuk memperistri wanita salihah itu. Karena cintanya begitu membara, ia pun berdoa dengan khusyuk kepada Allah SWT.

“Ya Allah, jika memang gadis itu baik untuk saya, dekatkanlah kepadaku. Tetapi jika memang menurutmu ia tidak baik buatku, tolong Ya Allah, sekali lagi tolong pertimbangkan lagi ya Allah,” ucap doanya dengan menyebut nama gadis itu dan terkesan memaksa kehendak Allah.

Abu Nawas melakukan doa itu setiap selesai shalat lima waktu. Selama berbulan-bulan ia menunggu tanda-tanda dikabulkan doanya. Berjalan lebih 3 bulan, Abu Nawas merasa doanya tak dikabulkan Allah. Ia pun introspeksi diri.

“Mungkin Allah tak mengabulkan doaku karena aku kurang pasrah atas pilihan jodohku,” katanya dalam hati.

Kemudian Abu Nawas pun bermunajat lagi. Tapi kali ini ganti strategi, doa itu tidak diembel-embeli spesifik pakai nama si gadis, apalagi berani “maksa” kepada Allah seperti doa sebelumnya.

“Ya Allah berikanlah istri yang terbaik untukku,” begitu bunyi doanya.

Berbulan-bulan ia terus memohon kepada Allah, namun Allah tak juga mendekatkan Abu Nawas dengan gadis pujaannya. Bahkan Allah juga tidak mempertemukan Abu Nawas dengan wanita yang mau diperistri. Lama-lama ia mulai khawatir juga. Takut menjadi bujangan tua yang lapuk dimakan usia. Ia pun memutar otak lagi bagaimana caranya berdoa dan bisa cepat terkabul. Abu Nawas memang cerdas. Tak kehabisan akal, ia pun merasa perlu sedikit “diplomatis” dengan Allah. Ia pun mengubah doanya.

“Ya Allah, kini aku tidak minta lagi untuk diriku. Aku hanya minta wanita sebagai menantu Ibuku yang sudah tua dan sangat aku cintai Ya Allah. Sekali lagi bukan untukku Ya Tuhan. Maka, berikanlah ia menantu,” begitu doa Abu Nawas.

Barangkali karena keikhlasan dan “keluguan” Abu Nawas tersebut, Allah pun menjawab doanya.

Akhirnya Allah menakdirkan wanita cantik dan salihah itu menjadi istri Abu Nawas. Abu Nawas bersyukur sekali bisa mempersunting gadis pujaannya. Keluarganya pun berjalan mawaddah warahmah.

Kisah Nabi Daud A.S Dan Sekor Ulat

Dalam sebuah kitab Imam Al-Ghazali menceritakan pada suatu ketika tatkala Nabi Daud a.s sedang duduk dalam suraunya sambil membaca kitab Az-Zabur, dengan tiba-tiba dia melihat seekor ulat merah. Lalu Nabi Daud a.s. berkata pada dirinya, “Apa yang dikehendaki Allah dengan ulat ini?”


Setelah Nabi Daud berkata seperti itu, maka Allah pun mengizinkan ulat merah itu berkata-kata. “Wahai Nabi Allah! Allah s.w.t telah mengilhamkan kepadaku untuk membaca ‘Subhanallahu walhamdulillahi wala ilaha illallahu wallahu akbar’ setiap hari sebanyak 1000 kali dan pada malamnya Allah mengilhamkan kepadaku supaya membaca ‘Allahumma solli ala Muhammadin annabiyyil ummiyyi wa ala alihi wa sohbihi wa sallim’ setiap malam sebanyak 1000 kali.

Setelah ulat merah itu berkata demikian, maka dia pun bertanya kepada Nabi Daud a.s. “Apakah yang dapat kamu katakan kepadaku agar aku dapat faedah darimu?” Akhirnya Nabi Daud menyadari akan kesalahannya karena memandang remeh akan ulat tersebut, dan dia sangat takut kepada Allah s.w.t. maka Nabi Daud a.s. pun bertaubat dan menyerahkan diri kepada Allah s.w.t. Begitulah sikap para Nabi a.s. apabila mereka menyadari kesalahan yang telah dilakukan maka dengan segera mereka akan bertaubat dan menyerah diri kepada Allah s.w.t.

Ibnu Battutah Sang Penemu Peta Dunia Pertama

“Dan Kami jadikan antara mereka (penduduk Saba’) dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam dan siang hari dengan aman.”(Qs. Saba’ [34]: 18)

Hanya dengan berbekal peralatan seadanya, Ibnu Battutah merupakan orang pertama yang melakukan petualangan mengelilingi dunia. Abu Abdullah Muhammad Ibnu Battutah (1304-1377 M) yang lahir di Tangier memulai perjalanan panjangnya pada usia 20 tahun. Awalnya, Ia melakukan perjalanan darat dan menyusuri pantai utara Afrika melewati Aljazair Tunisia, Tripoli, Alexandria, Kairo, Jerusalem, singgah di Damaskus, dan kemudian menuanaikan ibadah haji di Mekkah. Perjalanannya kemudian dilanjutkan menuju wilayah – saat ini – Iran dan Irak, dan diteruskan ke Pantai Timur Afrika hingga ke Kota Kilwa, sekarang Tanzania, melalui jalur laut ke Teluk Persia.

Pengambaaran beliau ke wilayah Asia Tengah diteruskan melalui Anatolia ke Turki. Singgah di Konstantinopel – sekarang Istambul- sebelum kemudian berlayar menyeberangi Laut Hitam dan dilanjutkan ke dekat wilayah Afghanistan sekarang. Dari wilayah Sungai Volga, Ia melintasi Afghanistan melalui Kabul hingga ke Delhi, India. Pada tahun 1342, Sultan Delhi mengutus Battutah melakukan perjalanan ke Cina sebagai Duta Besar. Ia berlayar melalui Kepulauan Maladewa, Sri Lanka, Bangladesh, Myanmar, Kepulauan Andaman, Aceh, Selat Malaka, Singapura, mengarungi Laut Cina Selatan dan meneruskan perjalanan darat hingga ke Beijing di bagian utara Cina. Sekembali dari pengembaraannya, beliau diminta oleh Sultan Maroko untuk menceritakan kisah perjalanannya, yang kemudian dibukukan dengan judul “Rihlah Ibnu Battutah al-Musammah Tuhfah al-Nuzzar fi Ghara’ib al-Amsar wa ‘Ajaib al-Asfar”. Kisah ini amat kaya dengan penggambaran dunia di bidang geografi, sejarah, antropologi dan juga kebudayaan pada saat itu.

Wallahu a’lam bish-shawab

Kisah Anak Sholeh Pada Zaman Nabi Sulaiman A.S

Pada suatu hari Nabi Allah Sulaiman telah menerima wahyu daripada Allah supaya pergi ke tepi pantai untuk menyaksikan suatu benda yang ajaib yang akan ditunjukkan kepada Nabi Sulaiman. Setelah bersiap sedia, Nabi Sulaiman berangkat ke tepi pantai yang di nyatakan di dalam wahyu. Baginda di iringi oleh kaum jin, manusia dan binatang. Setibanya di pantai, Nabi Sulaiman terus mengintai-ngintai untuk mencari sesuatu seperti yang dikatakan oleh Allah. Setelah lama mencari ,baginda belum lagi menjumpai apa-apa. Kata salah seorang daripada mereka “Mungkin salah tempat”. Tetapi baginda menjawab “Tidak, di sinilah tempatnya”. Nabi Sulaiman mengarahkan Jin Ifrit supaya menyelam ke dalam laut untuk meninjau apa-apa yang pelik atau ajaib. Jin Ifrit menyelam agak lama juga barulah ia kembali kepada Nabi Sulaiman dan memaklumkan bahwa dia tidak menjumpai apa-apa benda yang ajaib. Tanya Nabi Sulaiman “Apakah kamu menyelam sehingga dasar laut” Jawab Jin Ifrit “Tidak”. Nabi Sulaiman pun mengarahkan Jin Ifrit yang kedua supaya menyelam sehingga ke dasar laut. Setelah puas menyelam dan mencari benda-benda yang di katakan oleh Nabi Sulaiman, Jin Ifrit yang kedua juga tidak menjumpai apa-apa yang ajaib dan ia melaporkan kepada Nabi Sulaiman.

Perdana Menterinya yang bernama Asif bin Barkhiya telah berbisik ke telinga Nabi Sulaiman dan memohon kebenaran untuk menolongnya. Setelah mendapat izin Nabi Sulaiman, dia membaca sesuatu dan terus menyelam ke dalam laut. Tidak lama kemudian Asif menjumpai sebuah kubah yang sangat cantik. Kubah tersebut mempunyai empat penjuru, setiap penjuru mempunyai pintu. Pintu pertama diperbuat daripada mutiara, pintu kedua diperbuat daripada zamrud berwarna merah, pintu ketiga diperbuat daripada jauhar dan pintu keempat diperbuat daripada zabarjad. Pintu-pintu tersebut terbuka luas, tetapi yang peliknya air tidak masuk ke dalam kubah tersebut walaupun pintunya terbuka luas.

Dengan kuasa yang diberikan oleh Allah, Asif dapat membawa kubah tersebut naik ke darat dan diletakkan di hadapan Nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman melihat kubah tersebut dengan penuh takjub di atas kebesaran Allah. Baginda berangkat untuk melihat kubah tersebut, setelah menjenguk ke dalam di dapati ada seorang pemuda berada di dalamnya. Pemuda tersebut masih belum sedar walaupun kubahnya telah diangkat ke darat kerana asyik bermunajat kepada Allah. Nabi Sulaiman memberi salam kepada pemuda tersebut. Pemuda tersebut menyambut salam dengan perasaan terkejutnya apabila melihat orang ramai sedang berada di situ. Nabi Sulaiman memperkenalkan dirinya kepada pemuda itu bahawa beliau adalah Nabi Allah Sulaiman. Pemuda itu bertanya “Dari manakan mereka ini dan bagaimana mereka datang?”. Pemuda itu merasa hairan dan setelah menjenguk keluar dia mendapati bahawa kubahnya telah berada di darat. Nabi Sulaiman memberitahu pemuda itu bahawa mereka datang karana diperintahkan oleh Allah untuk melihat keajaiban yang dikurniakan Allah kepadanya.

Setelah mendapat izin dari pemuda itu Nabi Sulaiman meninjau ke dalamnya untuk melihat benda yang ajaib yang dihiasi di dalamnya. Keindahan yang terdapat di dalam kubah itu sungguh menakjubkan. Nabi Sulaiman bertanya kepada pemuda tersebut bagaimana dia boleh berada di dalam kubah ini yang terletak di dasar laut. Pemuda tersebut menceritakan bahawa dia telah berkhidmat kepada kedua ibu bapanya selama 70 tahun. Bapanya seorang yang lumpuh manakala ibunya pula seorang yang buta. Suatu hari ketika ibunya hendak meninggal dunia, ibunya memanggilnya dan memaklumkan bahawa ibunya telah rela di atas khidmat yang diberikan olehnya. Ibunya berdoa kepada Allah supaya anaknya dipanjangkan umur dan sentiasa taat kepada Allah. Setelah ibunya meninggal dunia, tidak lama kemudian bapanya pula meninggal dunia. Sebelum bapanya meninggal dunia, bapanya juga telah memanggilnya dan memaklumkan bahawa dia juga telah rela di atas khidmat yang diberikan olehnya. Bapanya telah berdoa sebelum meninggal dunia supaya anaknya di letakkan di suatu tempat yang tidak dapat diganggu oleh syaitan.

Doa kedua dua orang tuanya telah dimakbulkan oleh Allah. Pada suatu hari ketika pemuda tersebut bersiar-siar di tepi pantai ia terlihat sebuah kubah yang sedang terapung-apung di tepi pantai. Ketika pemuda tadi menghampiri kubah tersebut .

Ada suara menyeru supaya pemuda itu masuk ke dalam kubah tersebut. Sebaik sahaja ia masuk kubah dan meninjau di dalamnya tiba-tiba ia bergerak dengan pantas dan tenggelam ke dasar laut. Tidak lama kemudian muncul satu lembaga seraya memperkenalkan bahawa dia adalah malaikat yang di utuskan Allah. Malaikat itu memaklumkan bahawa kubah itu adalah kurniaan Allah kerana khidmatnya kepada orang tuannya dan beliau boleh tinggal di dalamnya selama mana dia suka, segala makan dan minum akan dihidangkan pada bila-bila masa ia memerlukannya. Malaikat itu memaklumkan bahawa dia diperintahkan Allah untuk membawa kubah tersebut ke dasar laut. Semenjak dari itu pemuda tersebut terus bermunajat kepada Allah sehingga hari ini.

Nabi Sulaiman bertanya kepada pemuda itu “Berapa lamakah kamu berada di dalam kubah ini” Pemuda itu menjawab “Saya tidak menghitungnya tetapi mulai memasukinya semasa pemerintahan Nabi Allah Ibrahim a.s lagi”. Nabi Sulaiman menghitung “. Ini bermakna kamu telah berada di dalam kubah ini selama dua ribu empat ratus tahun”. Nabi Sulaiman berkata “Rupa mu tidak berubah malah sentiasa muda walaupun sudah dua ribu empat ratus tahun lamanya”. Nabi Sulaiman bertanya pemuda itu apakah dia mahu pulang bersamanya”. Jawab pemuda tadi “Nikmat apa lagi yang harus aku pinta selain daripada nikmat yang dikurniakan oleh Allah kepada ku ini”. Nabi Sulaiman bertanya”Adakah kamu ingin pulang ke tempat asal mu” Jawab pemuda itu “Ya, silalah hantar aku ke tempat asalku”. Nasi Sulaiman pun memerintahkan Perdana Menterinya membawa kubah tersebut ke tempat asalnya.

Setelah kubah tersebut diletakkan ke tempat asal, Nabi Sulaiman berkata kepada kaumnya “Kamu semua telah melihat keajaiban yang dikurniakan oleh Allah. Lihatlah betapa besar balasan yang Allah berikan kepada orang yang taat kepada orang tuanya dan betapa seksanya orang yang menderhaka kepada kedua ibu bapanya”. Nabi Sulaiman pun berangkat pulang ke tempatnya dan bersyukur kepada Allah Taala kerana telah memberi kesempatan kepadanya untuk menyaksikan perkara yang ajaib.

Kisah Nabi Ibrahim A.S Dan Orang Majusi

Pernah suatu hari Nabi Ibrahim Alaihissalam menolak seorang tamu yang berkunjung ke rumahnya. Nabi Ibrahim berkata “Aku tidak menerima tamu seperti engkau selagi engkau tidak meninggalkan agamamu dan ajaran orang-orang Majusi”. Orang Majusi itu meninggalkan rumah Nabi Ibrahim dengan perasaan dukacita sekali. Sikap Nabi Ibrahim Alaihissalam tidak disenangi Allah sehingga turunlah wahyu yang bermaksud “Apa kerugianmu jika engkau menerima tamu itu, walaupun dia mengingkari dan mengkafiri Ku. Allah akan menggantikan makanan dan minuman yang engkau berikan kepadanya selama 70 tahun.”

Setelah menerima wahyu tersebut Nabi Ibrahim sungguh menyesal atas tindakannya dan keesokan harinya Nabi Ibrahim Alaihissalam pergi mencari orang Majusi itu dan merayunya supaya sudi datang ke rumahnya sekali lagi. Kata orang Majusi itu “Sungguh, semalam engkau mengusirku, tetapi hari ini engkau mengajak aku pergi ke rumahmu”. Nabi Ibrahim menceritakan tentang wahyu yang diterimanya setelah mengusir orang Majusi itu. Orang Majusi itu berkata “Sungguh baik Tuhanmu memperlakukan aku seperti itu, walaupun aku ini orang kafir”. Orang Majusi itu berkata lagi “Ulurkanlah tanganmu, (sambil berjabat tangan) aku bersaksi bahawa tiada tuhan melainkan Allah dan engkau adalah pesuruh Allah”. Semenjak itu orang Majusi itu mengikuti ajaran Nabi Ibrahim Alaihissalam. Subhaanallah

Bagaimana Rasanya Dua Hari Bersama Malaikat Maut?

Nabi Idris atau bernama asli Akhnukh adalah keturunan keenam dari Nabi Adam. Dipanggil Idris karena kepandaiannya dalam berbagai disiplin ilmu dan kemahiran lainnya. Karena kepandaiannya itu, Nabi Idris ramai menjadi perbincangan di kalangan makhluk Allah, termasuk malaikat pencabut nyawa, Izrail. Dengan izin Allah SWT, Malaikat Izrail diperbolehkan untuk mengunjungi Nabi Idris, namun dengan berpura-pura menjadi manusia biasa. “Assalamualaikum,” kata malaikat sambil mengetuk pintu rumah Nabi Idris dengan membawakan oleh-oleh dari surga. Mendengar ketukan itu, Nabi Idris yang sehari-hari banyak menghabiskan waktunya menjahit kemeja sambil bertasbih, menjawab salam dan mempersilakan masuk tamu.

Setelah berkenalan dengan tamu, mereka berdua terlibat dalam diskusi hangat seputar Islam dan kepandaian Nabi Idris dalam berbagai disiplin ilmu. Hingga tidak terasa matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Karena malam hari, Nabi Idris mempersilakan tamu menginap di rumahnya. Keduanya bersama-sama asyik beribadah hingga datang waktu makan malam. Sebagai tuan rumah yang baik, Nabi Idris menyuguhkan menu makan malam dan mengajak sang tamu untuk menyantap makan malam bersama. Namun si tamu menolak dan lebih memilih melanjutkan ibadah sendiri. Setelah selesai makan, Nabi Idris kembali beribadah dengan si tamu bersama-sama hingga larut malam. Rasa ngantuk menyergap Nabi Idris, dengan berat hati Nabi Idris menawarkan si tamu untuk istirahat dan melanjutkan ibadah pada esoknya. Tetapi, si tamu menolak ajakan, dan mempersilakan Nabi Idris untuk istirahat terlebih dahulu.

Kondisi yang sama juga terjadi pada malam berikutnya, hingga akhirnya Nabi Idris menanyakannya kepada si tamu. “Siapakah Anda sebenarnya?, kenapa Anda tidak mau makan dan tidur?” “Saya adalah Malaikat Izrail,” jawab si tamu. Mendengar jawaban itu, Nabi Idris kaget bukan kepalang. “Anda mau mencabut nyawa saya?” tanya Nabi Idris. Sejurus kemudian malaikat pencabut nyawa itu menggeleng. Tujuan dia bertamu hanya ingin mengetahui lebih dalam lagi keseharian makhluk Allah SWT yang selalu menjadi pembicaraan karena amal kebaikannya itu. Dari situ Nabi Idris mulai memahami dan sadar tentang kebiasaan para malaikat yang selalu berdoa tanpa henti, dan kebiasaannya mendekati orang-orang beriman.

“Bagaimana rasanya saat nyawa dicabut?” tanya Nabi Idris kepada Malaikat Izrail. Tidak menunggu waktu lama, Malaikat Izrail mencabut nyawa Nabi Idris dan mengembalikannya kembali dengan izin Allah SWT. Namun Nabi Idris tidak merasakan apa-apa ketika nyawanya dicabut. “Karena saya melakukannya dengan lemah lembut, begitulah yang saya lakukan kepada orang-orang beriman,” jawab Malaikat Izrail.

Janggut Nabi Harun Menjadi Dua Warna

Nabi Musa Alaihisalam telah diperintahkan oleh Allah Subhanahu Wataala supaya pergi ke bukit Sinai untuk menerima wahyu. Semasa kepergian Nabi Musa, segala urusan telah diserahkan kepada saudaranya Nabi Harun a.s. Kepergian Nabi Musa selama 40 hari dan 40 malam. Ketiadaan Nabi Musa a.s telah menggembirakan musuh dalam selimut bernama Samiri. Dia telah memanfaatkan masa ini untuk menyesatkan kaum Nabi Musa yang selama ini telah bersusah payah membentuk keimanan kepada mereka. Sewaktu Nabi Musa menyeberangi Laut Merah setelah pulang dari Mesir, kaki kuda yang ditunggangi oleh Nabi Musa telah tenggelam dalam pasir di tengah lautan yang kering itu. Dengan segala usaha yang dilakukan oleh Nabi Musa, kuda yang ditungganginya tetap tidak mau meneruskan perjalanan untuk menyeberangi Laut Merah.

Karena itu Allah telah mengutus malaikat Jibril dengan menunggang kuda betina. Melihat lawan sejenisnya kuda yang ditunggangi oleh Nabi Musa mengejar kuda yang ditunggangi oleh Malaikat Jibril. Samiri yang ikut serta dalam rombongan tersebut telah mengambil segenggam pasir bekas tapak kaki kuda yang ditunggangi oleh Jibril dan disimpannya untuk dijadikan jimat. Apabila tiba masa yang diinginkan yaitu Nabi Musa pergi ke Bukit Sinai, Samiri membuat patung seekor lembu daripada emas murni. Setelah siap, patung itu diisinya dengan pasir yang di ambil dari bekas tapak kaki kuda Jibril. Dalam waktu yang singkat saja patung lembu tersebut dapat mengeluarkan suara. Melihat keadaan tersebut, umat Nabi Musa datang berduyun-duyun kepada Samiri. Samiri memimpin mereka menyembah patung lembu yang menakjubkan itu. Nabi Harun sangat marah setelah melihat umatnya menyembah berhala, lalu berusaha mencegah umatnya syirik kepada Allah bahkan umatnya mengancam Nabi Harun untuk membunuhnya jika Nabi Harun terus melarang mereka menyembah patung lembu tersebut. Nabi Harun tidak dapat berbuat apa-apa untuk melarang mereka untuk terus menyembah patung tersebut. Setelah kembali dari Bukit Sinai, Nabi Musa sangat marah karena melihat umatnya telah murtad.

Nabi Harun di salahkan dalam hal ini. Dalam keadaan marah yang tidak dapat dikendalikan Nabi Musa menarik janggut Nabi Harun yang menyebabkan janggut yang dipegang oleh Nabi Musa telah bertukar menjadi putih dan janggut yang tidak kena tangan Nabi Musa tetap berwarna hitam. Sejak itu janggut Nabi Harun mempunyai dua warna yaitu putih dan hitam.

Riya, Penghapus Catatan Amal Kebaikan

Pada waktu sahur, seorang Abid (orang yang sedang beribadah) membaca surat ‘Thaa Haa’ di biliknya yang berdekatan dengan jalan raya. Selesai membaca, dia merasa sangat mengantuk. Lalu ia putuskan untuk tidur. Dalam tidurnya, dia bermimpi melihat seorang laki-laki turun dari langit dan membawa Alquran. Lelaki itu datang menemuinya dan segera membuka kitab suci itu di depannya. Dijelaskannya surat ‘Thaa Haa’, dan diperlihatkannya halaman demi halaman agar terlihat jelas oleh Abid. Abid melihat setiap kalimat surat itu dicatat sepuluh amal kebajikan sebagai pahala bacaannya, kecuali satu kalimat saja yang catatannya dihapus. Lalu Abid bertanya, “Demi Allah, sesungguhnya aku telah membaca seluruh surat ini tanpa meninggalkan satu kalimat pun. Tetapi mengapa catatan pahala untuk kalimat ini dihapus?”

Benar seperti katamu, engkau memang tidak meninggalkan satu kalimat pun dalam bacaanmu tadi, dan untuk kalimat itu sudah dicatatkan pahalanya, tetapi tiba-tiba kami mendengar perintah dari arah Arasy, ‘ Hapuskan catatan itu dan gugurkan pahala untuk kalimat itu!’ karena itulah kami segera menghapusnya,” jawab lelaki itu

Dalam mimpinya Abid menangis dan berkata, “Kenapa tindakan itu dilakukan?

Semua ini karena engkau sendiri, ketika membaca surat Thaa Haa tadi, seorang hamba Allah melewati jalan dekat rumahmu, engkau sadar akan hal itu, lalu engkau meninggikan suara bacaanmu agar terdengar oleh hamba Allah tersebut. Kalimat yang tiada catatan pahala itulah yang telah engkau baca dengan suara tinggi.” jelas si lelaki. Si ABid terjaga dalam tidurnya, “Astagfirullahal’adzim! sungguh licin virus riya menyusup ke dalam hatiku, dan sungguh besar bahayanya. Dalam sekejap mata, ibadahku dimusnahkan,” tuturnya.

Keutamaan Umat Nabi Muhammad dalam Kitab Taurat

Ketika Nabi Musa ‘as bermunajat di Gunung Thursina untuk “bertemu” Allah swt, Nabi Musa as mengajukan beberapa permintaan terkait isi dalam lauh-lauh (Kitab Taurat) yang diterimanya. Nabi Musa as berkata, “Ya Tuhanku, aku melihat di lauh-lauh itu disebutkan suatu umat yang menjadi umat terbaik yang pernah terlahir ke dunia, mereka menyuruh sesamanya untuk berbuat kebaikan dan mencegah sesamanya berbuat kemungkaran. Ya Tuhanku, jadikanlah mereka itu sebagai umatku.”
Allah swt menjawab, “Itu adalah umat Muhammad.”
Nabi Musa as berkata lagi, “Ya Tuhanku, aku melihat di lauh-lauh itu disebutkan suatu umat yang menjadi umat terakhir yang diciptakan namun mereka adalah umat yang paling dahulu masuk surga. Ya Tuhanku, jadikanlah mereka itu sebagai umatku.”
Allah swt menjawab, “Itu adalah umat Muhammad.”
Nabi Musa as berkata lagi, “Ya Tuhanku, aku melihat di lauh-lauh itu disebutkan suatu umat yang memiliki anak-anak yang sudah dapat menghapal kitab suci mereka, sedangkan umat-umat sebelum itu membaca kitab suci mereka dengan melihat. Apabila kitab itu disingkirkan, mereka tidak dapat membacanya dan tidak mengetahuinya. Engkau juga memberikan mereka daya hafal yang tinggi yang tidak diberikan pada umat-umat lainnya. Ya Tuhanku, jadikanlah mereka itu sebagai umatku.”
Allah swt menjawab, “Itu adalah umat Muhammad.”
Nabi Musa as berkata lagi, “Ya Tuhanku, aku melihat di lauh-lauh itu disebutkan suatu umat yang beriman pada kitab suci yang pertama kali diturunkan hingga kitab suci yang terakhir diturunkan, mereka senantiasa memerangi kesesatan, bahkan mereka juga memerangi makhluk paling pendusta yang bermata satu (Dajjal). Ya Tuhanku, jadikanlah mereka itu sebagai umatku.”
Allah swt menjawab, “Itu adalah umat Muhammad.”
Nabi Musa as berkata lagi, “Ya Tuhanku, aku melihat di lauh-lauh itu disebutkan suatu umat yang dapat memakan hasil dari zakat yang dikeluarkan oleh sesama mereka, namun tetap diberi ganjaran yang berlipat-lipat. Engkau mewajibkan zakat itu pada orang-orang kaya di antara mereka dan menyalurkannya pada orang-orang miskin. Sementara ketika umat-umat lain berzakat, jika diterima maka zakat itu akan dimakan api, dan jika ditolak maka zakat itu akan dimakan hewan buas dan burung-burung. Ya Tuhanku, jadikanlah mereka itu sebagai umatku.”
Allah swt menjawab, “Itu adalah umat Muhammad.”
Nabi Musa as berkata lagi, “Ya Tuhanku, aku melihat di lauh-lauh itu disebutkan suatu umat yang ketika berniat untuk berbuat baik namun mereka tidak melaksanakan niat tersebut, maka akan tertulis satu kebaikan. Dan jika mereka melaksanakan niat tersebut, maka akan tertulis bagi mereka 10 hingga 700 kali lipat. Ya Tuhanku, jadikanlah mereka itu sebagai umatku.”
Allah swt menjawab, “Itu adalah umat Muhammad.”
Nabi Musa as berkata lagi, “Ya Tuhanku, aku melihat di lauh-lauh itu disebutkan suatu umat yang dapat memberikan syafaat sekaligus menerima syafaat. Ya Tuhanku, jadikanlah mereka itu sebagai umatku.”
Allah swt menjawab, “Itu adalah umat Muhammad.”
Setelah mendegar semua itu, Nabi Musa as melemparkan lauh-lauh yang dipegangnya sembari berkata, “Ya Tuhanku, jadikanlah aku salah satu umat Muhammad.”

Wallaahu a’lam..

Al-Malikah, Kisah Pelacur yang Menjadi Ahli Surga

Suatu ketika di suatu negeri, hiduplah seoarang wanita bernama Al-Malikah. Dia adalah wanita tunasusila keturunan Bani Israil. Al-Malikah dikenal di negerinya sebagai pelacur kelas atas. Bayaran yang ia peroleh juga cukup tinggi. Kecantikannya sangat terkenal sehingga banyak pemuda yang menyukainya. Tidak terkecuali seorang pemuda bernama Abid. Abid sebenarnya pemuda miskin yang taat ibadah. Namun kepopuleran paras cantik Al-Malikah di seantero negeri rupanya telah menggoda keimanan sang pemuda untuk mencoba menikmati kecantikan Al-Malikah. Sayangnya untuk bisa bertemu Al-Malikah, Abid harus mengeluarkan biaya sebesar 100 dinar. Karena besarnya uang bayaran itu, Abid harus bekerja sekuat tenaga untuk mengumpulkan uang. Dia ingin bertemu dengan ‘pujaan’ hatinya. Setelah uang terkumpul, datanglah Abid menemui Al-Malikah.

Namun sesuatu yang mengejutkan terjadi. Ketika Abid telah berada di hadapan Al-Malikah, tiba-tiba tubuhnya menjadi gemetar. Keringat bercucuran keluar dari sekujur tubuhnya. Yang terjadi, sang pemuda justru ingin lari dari tempat itu. Al-Malikah malah menjadi heran dengan tingkah Abid yang mendadak berubah. Ketika Al-Malikah sudah berada di depannya, Abid justru teringat akan Rab-nya. “Aku takut kepada Allah, bagaimana aku mempertanggungjawabkan perbuatan maksiatku nanti,” kata Abid. Ucapan Abid yang spontan malah membuat Al-Malikah terkejut. Entah bagaimana, ucapan Abid seakan menjadi wasilah yang memberi kesadaran kepada Al-Malikah. Di luar dugaan, hati Al-Malikah tersentuh oleh ucapan Abid yang polos itu. Abid pun lantas pergi menjauh meninggalkan Al-Malikah. Kakinya langsung berjalan seribu langkah. Namun tanpa diduga, belum jauh Abid meninggalkan tempat itu, Al-Malikah mengejar dan menghentikan langkah Abid. Al-Malikah mencegah Abid. Tapi bukan untuk memaksa Abid untuk berzina. Yang dilakukan Al-Malikah justru meminta Abid menikahinya. Perempuan itu tiba-tiba menangis di depan Abid, sambil memohon-mohon. Tentu saja kini giliran tingkah Al-Malikah yang membuat heran Abid.

Bahkan dengan nada mengancam, Al-Malikah tidak akan melepaskan langkah Abid sebelum pemuda itu benar-benar berjanji menikahinya. Namun usaha Al-Malikah sia-sia. Abid berhasil menjauh hingga menghilang dari pandangan Al-Malikah. Keteguhan iman sang pemuda rupanya telah menawan hati Al-Malikah. Kata-kata keimanan yang keluar dari mulut Abid benar-benar telah membuka hati, mata dan pikiran sang wanita. Usai pertemuan yang awalnya untuk bertransaksi maksiat kepada Allah itu, Al-Malikah bertekad untuk memperbaiki diri dan segera keluar ‘lembah hitam’ pekerjaannya. Tujuannya tak lain, menyempurnakan benih iman yang mulai tumbuh karena disiram ucapan sang pemuda. Dia pun mencari sang pemuda hingga ke pelosok. Bertahun-tahun Al-Malikah berjalan keluar masuk kampung hanya untuk mencari sosok pemuda teguh iman yang pernah ditemuinya itu. Namun usaha yang dilakukan Al-Malikah kandas. Abid mengetahui jika sang wanita pelacur mencari-cari dirinya. Karena ketakutannya kepada Allah, maka Abid selalu menghindar dan bersembunyi. Karena ketakutannya yang luar biasa kepada Tuhannya itu, hingga membuat Abid pingsan lalu meninggal.

Kabar meninggalnya Abid ini rupanya sampai juga ke telinga Al-Malikah. Tentu saja kabar itu membuat Al-Malikah syok dan bersedih. Usahanya untuk dapat bersuamikan lelaki saleh harus kandas, sementara benih iman di hatinya baru saja tumbuh. Al-Malikah lalu bergegas ke rumah tempat disemayamkannya Abid untuk bertakziyah. Tekadnya sudah bulat, memperbaiki diri dan keimanannya. Karena tekadnya itu, Al-Malikah lalu berniat menikahi saudara Abid. Dalam pandangannya, jika ucapan dan perilaku Abid dapat mempengaruhi dirinya, apalagi terhadap saudaranya yang lebih dekat itu. Pastilah, menurut Al-Malikah, saudara Abid juga memiliki keteguhan iman yang tak kalah kokohnya dengan Abid. Ternyata saudara Abid menerima permintaan dari sang wanita paras cantik ini. Keduanya pun menikah, meskipun sebenarnya Al-Malikah tahu jika baik Abid maupun saudaranya adalah pemuda miskin. Bagi Al-Malikah yang sudah bertekad kuat, hal itu bukan penghalang. Iman di hati yang telah disiram Abid kini menjadi kekayaannya yang baru. Karena kekayan iman baginya lebih besar dari sekadar kekayaan duniawi. Al-Malikah lalu hidup berbahagia dengan lelaki saleh, saudara Abid. Dikabarkan, Al-Malikah menjadi salah satu perempuan bani Israil calon penghuni surga.

Berkenalan sosok Zulkarnain, manusia ‘penyegel’ Ya’juj Ma’juj

Allah SWT menjelaskan salah satu tanda kiamat adalah keluarnya Ya’juj dan Ma’juj dari tembok besi berlapis timah, yang dibangun oleh Zulkarnain dengan mengapit dua gunung. Tuhan menakdirkan bangunan besi tersebut tidak akan berkarat atau berlubang, meskipun dirusak dengan berbagai cara. Sampai akhirnya Allah sendiri yang memerintahkan bangunan itu hancur, sehingga kaum Ya’juj dan Ma’juj keluar berhamburan seperti gelombang besar menerjang permukaan rendah untuk membuat keonaran dan kerusakan. Siapakah sebenarnya Zulkarnanin tersebut? Tidak banyak riwayat menunjukkan secara pasti Zulkarnain. Bahkan Allah SWT hanya menjelaskan Zulkarnain sebagai manusia yang diberi kekuasaan, dan kekuatan untuk menaklukkan sesuatu di bumi. Seperti tertuang dalam surrah Al-kahfi ayat 84.


Dalam buku mengungkap misteri perjalanan Zulkarnain ke Cina tulisan Hamdi bin Hamzah Abu Zaid dikatakan, berdasarkan bukti sejarah, diduga kuat Zulkarnain merupakan seorang raja Muslim yang bernama asli Akhnaton seperti yang kami kutip dari www.merdeka.com. “Melalui proses penemuan tersebut, terungkap salah satu output penelitian ini dan tercermin pada keberhasilan memperoleh bukti kuat bahwa Zulkarnain adalah seorang raja Mukmin yang bernama Akhnaton,” kata Hamdi. Akhnaton salah satu raja Mesir kuno dari Dinasti XVIII. Akhnaton berkuasa memimpin rakyat Mesir dari tahun 1370-1352 sebelum Masehi. Berdasarkan temuan itu, maka kepemimpinan Akhnaton juga se zaman dengan Nabi Musa sewaktu berdakwah di Mesir.

Sedangkan secara silsilah, Akhnaton merupakan anak dari Raja Amnahotib III yang menolak seruan Nabi Musa. Kemudian Raja Amnahotib III mengejar Nabi Musa bersama pengikutnya, akhirnya Allah SWT menenggelamkan raja Mesir itu bersama pasukannya di laut Merah. Karena Akhnaton beriman, Allah SWT menyelamatkan jiwanya dan menjadikannya pemimpin Mesir yang beriman

Mengenang Sejarah Ka’bah

Ka’bah awalnya dibangun oleh Adam dan kemudian anak Adam, Syist, melanjutkannya. Saat terjadi banjir Nabi Nuh, Ka’bah ikut musnah dan Allah memerintahkan Nabi Ibrahim membangun kembali. Al-Hafiz Imaduddin Ibnu Katsir mencatat riwayat itu berasal dari ahli kitab (Bani Israil), bukan dari Nabi Muhammad. Ka’bah yang dibangun Ibrahim pernah rusak pada masa kekuasaan Kabilah Amaliq. Ka’bah dibangun kembali sesuai rancangan yang dibuat Ibrahim tanpa ada penambahan ataupun pengurangan. Saat dikuasai Kabilah Jurhum, Ka’bah juga mengalami kerusakan dan dibangun kembali dengan meninggikan fondasi. Pintu dibuat berdaun dua dan dikunci. Di masa Qusai bin Kilab, Hajar Aswad sempat hilang diambil oleh anak-anak Mudhar bin Nizar dan ditanam di sebuah bukit. Qusai adalah orang pertama dari bangsa Quraisy yang mengelola Ka’bah selepas Nabi Ibrahim. Di masa Qusai ini, tinggi Ka’bah ditambah menjadi 25 hasta dan diberi atap. Setelah Hajar Aswad ditemukan, kemudian disimpan oleh Qusai, hingga masa Ka’bah dikuasai oleh Quraisy pada masa Nabi Muhammad.

Dari masa Nabi Ibrahim hingga ke bangsa Quraisy terhitung ada 2.645 tahun. Pada masa Quraisy, ada perempuan yang membakar kemenyan untuk mengharumkan Ka’bah. Kiswah Ka’bah pun terbakar karenanya sehingga juga merusak bangunan Ka’bah. Kemudian, terjadi pula banjir yang juga menambah kerusakan Ka’bah. Peristiwa kebakaran ini yang diduga membuat warna Hajar Aswad yang semula putih permukaannya menjadi hitam. Untuk membangun kembali Ka’bah, bangsa Quraisy membeli kayu bekas kapal yang terdampar di pelabuhan Jeddah, kapal milik bangsa Rum. Kayu kapal itu kemudian digunakan untuk atap Ka’bah dan tiga pilar Ka’bah. Pilar Ka’bah dari kayu kapal ini tercatat dipakai hingga 65 H. Potongan pilarnya tersimpan juga di museum. Empat puluh sembilan tahun sepeninggal Nabi (yang wafat pada 632 Masehi atau tahun 11 Hijriah), Ka’bah juga terbakar. Kejadiannya saat tentara dari Syam menyerbu Makkah pada 681 Masehi, yaitu di masa penguasa Abdullah bin Az-Zubair, cucu Abu Bakar, yang berarti juga keponakan Aisyah.

Untuk membangun kembali, seperti masa-masa sebelumnya, Ka’bah diruntuhkan terlebih dulu. Abdullah AzZubair membangun Ka’bah dengan dua pintu. Satu pintu dekat Hajar Aswad, satu pintu lagi dekat sudut Rukun Yamani, lurus dengan pintu dekat Hajar Aswad. Abdullah bin Az-Zubair memasang pecahan Hajar Aswad itu dengan diberi penahan perak. Yang terpasang sekarang adalah delapan pecahan kecil Hajar Aswad bercampur dengan bahan lilin, kasturi, dan ambar. Jumlah pecahan Hajar Aswad diperkirakan mencapai 50 butir. 


Pada 693 Masehi, Hajjaj bin Yusuf Ath-Taqafi berkirim surat ke Khalifah Abdul Malik bin Marwan (khalifah kelima dari Bani Umayyah yang mulai menjadi khalifah pada 692 Masehi), memberitahukan bahwa Abdullah bin Az-Zubair membuat dua pintu untuk Ka’bah dan memasukkan Hijir Ismail ke dalam bangunan Ka’bah. Hajjaj ingin mengembalikan Ka’bah seperti di masa Quraisy; satu pintu dan Hijir Ismail berada di luar bangunan Ka’bah. Maka, oleh Hajjaj, pintu kedua–yang berada di sebelah barat dekat Rukun Yamani–ditutup kembali dan Hijir Ismail dikembalikan seperti semula, yakni berada di luar bangunan Ka’bah. Akan tetapi, Khalifah Abdul Malik belakangan menyesal setelah mengetahui Ka’bah di masa Abdullah bin AzZubair dibangun berdasarkan hadis riwayat Aisyah. Di masa berikutnya, Khalifah Harun Al-Rasyid hendak mengembalikan bangunan Ka’bah serupa dengan yang dibangun Abdullah bin Az-Zubair karena sesuai dengan keinginan Nabi. Namun, Imam Malik menasihatinya agar tidak menjadikan Ka’bah sebagai bangunan yang selalu diubah sesuai kehendak setiap pemimpin. Jika itu terjadi, menurut Imam Malik, akan hilang kehebatannya di hati kaum Mukmin.

Pada 1630 Masehi, Ka’bah rusak akibat diterjang banjir. Sultan Murad Khan IV membangun kembali, sesuai bangunan Hajjaj bin Yusuf hingga bertahan 400 tahun lamanya pada masa pemerintahan Sultan Abdul Abdul Aziz. Sultan inilah yang memulai proyek pertama pelebaran Masjidil Haram.
 
DMCA.com
*Layanan ini disediakan oleh PT Globalj4v4 Sdn. | Halaman Awal ini juga disediakan oleh PT Globalj4v4 Sdn. | Semua layanan lain yang tidak memiliki tanda “*” akan menuju ke situs web pihak ketiga, yang kontennya mungkin tidak sesuai dengan undang-undang di wilayah Anda. Anda, bukan PT Globalj4v4 Sdn, bertanggung jawab penuh atas akses ke dan penggunaan situs web pihak ketiga.
Hak Cipta © 2020 PT Globalj4v4 Sdn (Co. Reg. BlogID. 2825584887500486077). Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.
Kampus Wong Sinting | Globalj4v4 | Globalw4r3 | Google