Tuahnya :

Mpu Gandring
Mpu Gandring adalah tokoh dalam Pararaton yang dikisahkan sebagai seorang pembuat senjata ampuh. ...

Tanda Pencapaian Neng, Ning, Nung, Nang
Neng: sembah ragaJumeneng, menjalankan “syariat”. Namun makna syariat di sini mempunyai dimens...

Memilih Bakalan Perkutut Yang baik dan Berkualitas
Untuk mendapatkan burung perkutut yang mampu berkicau dengan baik tentu harus dipilih yang jantan...

Tips Analysis Google Analytics
Google Analytics telah memperbarui cara anda mengukur media sosial seperti Facebook, Twitter, Pin...

Rahasia SEO Untuk Meningkatkan Traffic
Secara umum, prinsip kerja SEO di Google adalah sebuah metode untuk meningkatkan kualitas algorit...
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Pusaka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pusaka. Tampilkan semua postingan
Kayu Tengsek
Kayunya amat keras dan awet, banyak ditemukan dilereng gunung berapi dengan tinggi mencapai 40 m dan diameter 50 cm, batangnya lurus dan bulat. Karena banyak diburu orang, sekarang makin langka, dibedakan antara Tesek biasa dan Tesek Wulung, yang pertama kayunya putih, disana sini diwarnai cerat-cerat atau poleng hitam. Tesek lainnya wulung, kulitnya berwarna coklat tapi lama lama menjadi hitam. Menurut kepustakaan, kayu ini tenggelam di air dan jika diletakan diair mengalir maka ia akan berjalan melawan arus, kayu ini bagus disimpan orang yang sabar dan tidak mudah marah karena bila digunakan untuk memukul walau hanya digunakan sebagai mata cincin, bahayanya tetap ada, orang bisa pingsan sampai mati. Kayu ini biasa dibuat cincin, pipa, tangkai tombak, gantungan kunci dll.
Tuahnya :
Tuahnya :
Tahan lama dalam air, diwaktu banjir mengamuk ia bisa tahan jika memakai kayu ini, juga dipercaya anti tanah sangar, anti hama tumbuhan dan anti ilmu hitam, anti upas atau entup (sengatan lebah). Wanita dan Pria boleh memakai kayu ini dan kayu ini bersifat laki-laki, jodoh kayu ini adalah kayu setigi. Kayu Setigi yang terkenal dari Gunung Lawu atau Merapi.
Sodo Lanang/Saren
Lidi daun aren dipercaya memiliki khasiat menghalau jin/setan dan melumpuhkan orang-orang yang memiliki kesaktian karena ilmu hitam. Mereka akan hilang kesaktiannya bila dipukul dengan lidi daun aren, jangan sekali-kali memukul anak dengan lidi daun aren karena salah-salah bisa kena penyakit jiwa yang sulit disembuhkan.
Rumah yang angker atau banyak dihuni hewan pengganggu seperti tikus, ular, kelabang dll, bisa dibersihkan dengan satu ikat lidi aren yang dikebutkan keseluruh penjuru ruangan, lebih baik lagi bila disertai dengan membakar daun trembesi (johar, Cassia siamea Lamk) yang kering dicampur sedikit belerang, biasanya dalam beberapa waktu sudah bebas dari segala gangguan. Sodo Saren disebut juga sodo lanang, penamaan ini juga diberikan kepada lidi daun kelapa yang jatuh menancap ditanah secara alamiah. Khasiatnya sama dengan lidi pohon aren.
Bila sodo lanang tidak digunakan, taruhlah diatas pintu masuk rumah sebagai penolak bala.
Rumah yang angker atau banyak dihuni hewan pengganggu seperti tikus, ular, kelabang dll, bisa dibersihkan dengan satu ikat lidi aren yang dikebutkan keseluruh penjuru ruangan, lebih baik lagi bila disertai dengan membakar daun trembesi (johar, Cassia siamea Lamk) yang kering dicampur sedikit belerang, biasanya dalam beberapa waktu sudah bebas dari segala gangguan. Sodo Saren disebut juga sodo lanang, penamaan ini juga diberikan kepada lidi daun kelapa yang jatuh menancap ditanah secara alamiah. Khasiatnya sama dengan lidi pohon aren.
Bila sodo lanang tidak digunakan, taruhlah diatas pintu masuk rumah sebagai penolak bala.
Gadha Pancanaka
Ini adalah Pusaka langka dan jarang ditemui di kalang masyarakat kita. Karena pusaka ini hanya dikhususkan untuk golongan bangsawan atau darah biru. Pusaka ageman yang di buat untuk pegangan kalangan pejabat dan panglima perang di era mataram kuno.
Pusaka ini hanya boleh dimiliki dan digunakan oleh pria saja. Pusaka ini banyak digunakan untuk :
Pusaka ini hanya boleh dimiliki dan digunakan oleh pria saja. Pusaka ini banyak digunakan untuk :
- Meningkatkan derajat dan pangkat.
- Kharisma wibawa tingkat tinggi.
- Pusaka ageman untuk para pejabat dan calon pejabat.
- Pembuka pintu rejeki dan kehormatan di masyarakat.
- Sarana naik pangkat dan jabatan.
- Perisai ghaib dari serangan lawan yg sirik dan iri kepada kita.
Cemeti Pringgondani/Tolak Sengkolo
Dahulu kala para empu dan ahli kebatinan, membuat sebuah pakem cemeti yang maksudnya akan digunakan untuk perlindungan dan pegangan. Tak ubahnya seperti keris, tombak dan senjata kuno lainnya, pusaka cemeti inipun bertuah dan berfungsi untuk berbagai keperluan.
Tuah pusaka cemeti ini antaranya untuk :
- Pemagaran ghaib dari serangan energi negatif.
- Mentralisir tempat wingit dan angker.
- Membersihkan jin/khodam jahat di rumah ruko ataupun toko.
- Baik digunakan untuk perlindungan saat perjalanan malam.
- Pelindung keluarga dan keturuan kita dari sake/penyakit ghaib turun temurun.
Keris Taming Sari
Keris Tamingsari adalah salah satu dari keris yang pernah dimilikki oleh Panglima Islam Tamingsari yang melayani dan mengabdi kepada kerajaan Majapahit yang bukan islam, beliau adalah seorang anggota pertapaan khusus untuk menuntut ilmu materi. Keris milik Empu sipolan dari perguruan tanah jawa adalah milik pribadi guru Si Tamingsari si Empu sipolan. Keris ini telah diwariskan kepada anak murid kesayangan Empu sipolan yakni Si Tamingsari agar dijaga dan dipelihara oleh Tamingsari. Keris tersebut mengandung hikmah kekuatan untuk dibawa berperang seperti kebanyakan keris keris lain yang bisa mengebalkan tubuh dari dapat penyiksaan yang dilakukan oleh senapan besi dan lain lain.
Keris Tamingsari telah diwafa'kan dengan cara rahasia untuk diisi dengan pemuda jin perang dari bangsa khadam jin perang yang kebal seperti yang ada pada kebanyakan batu batu tertentu atau peralatan senjata lain di zaman dahulu. Senjata ini telah dirancang khusus oleh Empu sipolan yang menjadi guru Tamingsari dengan pengisian hikmah kebal kulit yang bisa di cubakan setiap saat tanpa menunggu saat darurat. Wafa 'ini sedikit berbeda dengan wafa' tulisan kertas atau huruf huruf biasa, dampaknya tidak hanya saat darurat saja. Keris Tamingsari adalah satu satunya senjata yang bisa menyebabkan si pemakainya menjadi kebal dengan merasakan resapan halus dan kebas di seluruh tubuh serta menambah kekuatan tubuh untuk bergerak aktif dan tangkas selama berjam jam tanpa henti. Hal ini tidak dapat diperoleh melalui latihan jasmani kebanyakan tetapi hanya dapat di peroleh melalui meditasi tertentu yang dapat menyatukan gelombang gelombang tertentu sehingga dapat disatukan ke bilah senjata terpilih.
Keris Tamingsari bukanlah sebuah keris yang dibuat dari besi sehingga ada yang mengabarkan terbuat dari 99 jenis besi termasuk besi yang diambil dari kaabah, seperti sangkaan kita dan saya sendiri sebelum ini. Sebenarnya keris Tamingsari terbuat dari 'Inti Kayu Kelor', orang jawa menyebutnya dengan panggilan 'Galeh Kelor'. Pokok 'kelor' sebenarnya menghasilkan buah yang bisa digunakan untuk merawat beberapa penyakit serius tertentu, dan ia sangat dikenal oleh kebanyakan orang jawa dan india mamak, malbariperubatan tradisional yang sangat penting. Galeh atau Teras kayu ini jika umurnya telah matang dan berpuluhan tahun hidup akan memiliki inti yang keras dan berbisa jika terkena kulit manusia maupun binatang dengan menggunakan beberapa metode tertentu. Teras kayu ini berwarna hitam pekat dan sedikit warna kekayuan. sebagai bahan
Di kalangan orang jawa, kayu galeh kelor ini banyak yang memilikkinya karena terpercaya sangat disukai oleh bangsa khadam jin timbulan perang, pemuda jin kebal perang dan khadam jin perang yang bersifat permanen selama pemilik masih menerapkan ritual tertentunya.
Banyak kanuragan dan paranormal yang mengetahui khasiat kayu ini pasti memakainya dijari sebagai cincin kecil berwarna hitam dalam bentuk empat segi tepat. Pemakai biasanya sangat merahasiakan jenis dan khasiat batu cincin dari galeh kelor. Kisah tentang khasiat dan rahasia kayu teras kelor ini sangat dimengerti oleh orang majapahit dan kanuragan serta paranormal dari kepulauan Indonesia. Maka tidak heran jika Empu si fulan tidak menyia nyiakan galeh kelornya untuk dijadikan sebilah keris yang mengguncang Tanah Melayu diakhirnya nanti. Teras kelor atau galeh kelor memiliki sejarah mistiknya yang tersendiri. Pernahkah saudara sidang pengunjung mendengar sapi lando ..? Maka sejarah sangat erat dengan sapi lando dan sekalian isi perut sapi lando. Biar sahabat sahabat kita dari Marang, pewaris kesultanan Demak Bintara memberikan komennya tentang sapi lando.
Biasanya si pemakai yang diserang, jika dapat membalas balik dengan satu pukulan ke penyerangnya dan tepat pada sasaran pasti akan menggelepar dan berbuih mulutnya akibat terkena bisa galeh kelor yang sangat terkenal sebagai senjata pukulan bersarung cincin di jari. Ia menyamai bisanya dengan kekuatan bisa Kelabang sayuta yang di pakai oleh pewaris ilmu hitam zaman dahulu. Kayu ini sangat mahal harganya dan jika ada dijual di pasar sekalipun hanya sebesar kuku jari. Kayu galeh kelor yang sudah matang dan tua sangat jarang tersedia.
Adapun keris Tamingsari itu pula berwarna hitam. Pangkal kerisnya hanya selebar 1 inci setengah. Keris ini panjangnya hanya sejengkal lebih saja, tidak kurang dari itu dan tidak lebih dari yang demikian sebutnya dan tidak jua ia sama seperti keris yang lain. Oleh itu keris Tamingsari sering tidak terlihat saat diselit akan dia di pinggang pahlawan.
Keris Tamingsari berwarna hitam mirip seperti warna Keris Tamingsari dalam hayalan M. Nasir cerita Puteri Gunung Ledang. Telah dikabarkan oleh mereka bahwa Hulu keris dan sarungnya berwarna kekuning kuningan seperti warna kayu jua. Wallaahu a'lam bissawab.
Keris Tamingsari dirancang oleh Empu Si polan khususnya untuk membocorkan perut panglima panglima yang kebal, dimana mereka memakai khadam jin kebal kebanyakan. Jika mereka menerima penghargaan kekebalan tubuh akibat kersani dibawah kulit dan didarah kembali jadinya, maka Keris Tamingsari tidak dapat menembusnya karena khadamnya lebih tinggi kedudukannya pada dari khadam jin kebal yang kebanyakan. Artinya khadamnya itu lebih kuat.
Adapun klaim mereka bahwa keris Tamingsari itu telah di buang ke sungai adalah suatu berita yang terkhilaf. Bahwa keris tersebut telah menjadi rebutan di kemudian hari oleh para kerabat di raja sultandirekakan cerita agar tidak lagi dicari orang tertentu termasuk tentara dari Majapahit yang menginginkan kembali keris tersebut.Perintah itu di peroleh dari Patih Gajah Mada yang ternyata bukan islam. sehingga
Pada hari Bentara menyerahkan keris Tamingsari ke Hang Tuah sebagai ucapan terimakasih karena akhirnya Tamingsari terbunuh juga sebenarnya mereka tidak tahu bahwa keris itu memiliki pengaruh besar pada si pemakainya. Adalah bahwa Tamingsari handal sehandalnya serta kebal pula tubuhnya dari senjata, tidak pernah walau sekali beliau membukakan akan segala rahasianya. Jika jika mereka menyadari hal ini pasti keris itu akan jadi milik kerajaan Majapahit itu sendiri pada sifat keluarbiasaannya. Pada waktu itu jarang sekali diketemukan pahlawan yang kebal tubuhnya tidak lut senjata, sangat jarang sekali. pada waktu itu juga sangat sulit menemukan senjata kebal. Jika ada sekalipun pasti mulut tidak senang bicara. Khawatir terlalu banyak perampok. Sedangkan keris Nagasasra dan Sabukinten yang dijaga dengan baik sanggup dirampok orang. Nagasasra Sabukinten adalah salah satu keris yang mewarisi ilmu kebal dan memiliki sinar pancaran cahaya tiga warna yang sangat menakutkan jin segala khadam perang. (Sesuai dgn nama kawulo gusti) dan (muhibbah). Ini adalah informasi dari alam sana.
Keris Tamingsari tidak berapa terlihat bila diselipkan dipinggang. Karena ukurannya yang lebih kecil dan pendek dibandingkan ia dengan keris pahlawan pahlawan jawa yang lain.
Hang Tuah telah menerima sinyal spiritual yang dikenal orang sebagai ilmu firasat batin. Dengan pengetahuan itu beliau sendiri dapat mengenal kesaktian keris yang digenggam erat oleh pahlawan islam siTamingsari. Sampai akhirnya Hang Tuah mengabarkan perihal keris itu di Jakarta. maka banyak yang menginginkannya. Khadam keris Tamingsari telah kembali ke tempat asalnya sejak berada di lain negeri. Kini ia keris itu bersemayam di salah sebuah negeri di Tanah Melayu sampai tahun 2009. Setelah itu dikabarkan bahwa keris Tamingsari telah dibawa keluar dari simpanannya dan tercecer katanya sehingga tahun ini ia tidak dikembalikan. Begitu menurut kabarnya.
Maka mereka menambahkan bahwa keris itu sudah tidak akan kembali lagi kecuali mungkin akan ditemukan orang pilihan tuhan, raja segala raja. Mohon Ampun, Sembah patik harap diampun. Bukan hamba berniat tetapi inilah kebenaran yang patik dengar di balik awan mahkota yang merinin. Ampun Tuanku. Keris puaka itu dahulu menjadi buruan raja dan segala panglima. Maka diserahkan kembali oleh Hang Tuah kepada Sultan karena itulah rahasia agungnya kota Melaka di zaman Tuah. Hang Tuah lalu berkelana membawa diri. Pertemuannya dengan khidir as lebih berharga dari keris Tamingsari ...
Wallahu a'lam bissawaab.
Keris Tamingsari telah diwafa'kan dengan cara rahasia untuk diisi dengan pemuda jin perang dari bangsa khadam jin perang yang kebal seperti yang ada pada kebanyakan batu batu tertentu atau peralatan senjata lain di zaman dahulu. Senjata ini telah dirancang khusus oleh Empu sipolan yang menjadi guru Tamingsari dengan pengisian hikmah kebal kulit yang bisa di cubakan setiap saat tanpa menunggu saat darurat. Wafa 'ini sedikit berbeda dengan wafa' tulisan kertas atau huruf huruf biasa, dampaknya tidak hanya saat darurat saja. Keris Tamingsari adalah satu satunya senjata yang bisa menyebabkan si pemakainya menjadi kebal dengan merasakan resapan halus dan kebas di seluruh tubuh serta menambah kekuatan tubuh untuk bergerak aktif dan tangkas selama berjam jam tanpa henti. Hal ini tidak dapat diperoleh melalui latihan jasmani kebanyakan tetapi hanya dapat di peroleh melalui meditasi tertentu yang dapat menyatukan gelombang gelombang tertentu sehingga dapat disatukan ke bilah senjata terpilih.
Keris Tamingsari bukanlah sebuah keris yang dibuat dari besi sehingga ada yang mengabarkan terbuat dari 99 jenis besi termasuk besi yang diambil dari kaabah, seperti sangkaan kita dan saya sendiri sebelum ini. Sebenarnya keris Tamingsari terbuat dari 'Inti Kayu Kelor', orang jawa menyebutnya dengan panggilan 'Galeh Kelor'. Pokok 'kelor' sebenarnya menghasilkan buah yang bisa digunakan untuk merawat beberapa penyakit serius tertentu, dan ia sangat dikenal oleh kebanyakan orang jawa dan india mamak, malbariperubatan tradisional yang sangat penting. Galeh atau Teras kayu ini jika umurnya telah matang dan berpuluhan tahun hidup akan memiliki inti yang keras dan berbisa jika terkena kulit manusia maupun binatang dengan menggunakan beberapa metode tertentu. Teras kayu ini berwarna hitam pekat dan sedikit warna kekayuan. sebagai bahan
Di kalangan orang jawa, kayu galeh kelor ini banyak yang memilikkinya karena terpercaya sangat disukai oleh bangsa khadam jin timbulan perang, pemuda jin kebal perang dan khadam jin perang yang bersifat permanen selama pemilik masih menerapkan ritual tertentunya.
Banyak kanuragan dan paranormal yang mengetahui khasiat kayu ini pasti memakainya dijari sebagai cincin kecil berwarna hitam dalam bentuk empat segi tepat. Pemakai biasanya sangat merahasiakan jenis dan khasiat batu cincin dari galeh kelor. Kisah tentang khasiat dan rahasia kayu teras kelor ini sangat dimengerti oleh orang majapahit dan kanuragan serta paranormal dari kepulauan Indonesia. Maka tidak heran jika Empu si fulan tidak menyia nyiakan galeh kelornya untuk dijadikan sebilah keris yang mengguncang Tanah Melayu diakhirnya nanti. Teras kelor atau galeh kelor memiliki sejarah mistiknya yang tersendiri. Pernahkah saudara sidang pengunjung mendengar sapi lando ..? Maka sejarah sangat erat dengan sapi lando dan sekalian isi perut sapi lando. Biar sahabat sahabat kita dari Marang, pewaris kesultanan Demak Bintara memberikan komennya tentang sapi lando.
Biasanya si pemakai yang diserang, jika dapat membalas balik dengan satu pukulan ke penyerangnya dan tepat pada sasaran pasti akan menggelepar dan berbuih mulutnya akibat terkena bisa galeh kelor yang sangat terkenal sebagai senjata pukulan bersarung cincin di jari. Ia menyamai bisanya dengan kekuatan bisa Kelabang sayuta yang di pakai oleh pewaris ilmu hitam zaman dahulu. Kayu ini sangat mahal harganya dan jika ada dijual di pasar sekalipun hanya sebesar kuku jari. Kayu galeh kelor yang sudah matang dan tua sangat jarang tersedia.
Adapun keris Tamingsari itu pula berwarna hitam. Pangkal kerisnya hanya selebar 1 inci setengah. Keris ini panjangnya hanya sejengkal lebih saja, tidak kurang dari itu dan tidak lebih dari yang demikian sebutnya dan tidak jua ia sama seperti keris yang lain. Oleh itu keris Tamingsari sering tidak terlihat saat diselit akan dia di pinggang pahlawan.
Keris Tamingsari berwarna hitam mirip seperti warna Keris Tamingsari dalam hayalan M. Nasir cerita Puteri Gunung Ledang. Telah dikabarkan oleh mereka bahwa Hulu keris dan sarungnya berwarna kekuning kuningan seperti warna kayu jua. Wallaahu a'lam bissawab.
Keris Tamingsari dirancang oleh Empu Si polan khususnya untuk membocorkan perut panglima panglima yang kebal, dimana mereka memakai khadam jin kebal kebanyakan. Jika mereka menerima penghargaan kekebalan tubuh akibat kersani dibawah kulit dan didarah kembali jadinya, maka Keris Tamingsari tidak dapat menembusnya karena khadamnya lebih tinggi kedudukannya pada dari khadam jin kebal yang kebanyakan. Artinya khadamnya itu lebih kuat.
Adapun klaim mereka bahwa keris Tamingsari itu telah di buang ke sungai adalah suatu berita yang terkhilaf. Bahwa keris tersebut telah menjadi rebutan di kemudian hari oleh para kerabat di raja sultandirekakan cerita agar tidak lagi dicari orang tertentu termasuk tentara dari Majapahit yang menginginkan kembali keris tersebut.Perintah itu di peroleh dari Patih Gajah Mada yang ternyata bukan islam. sehingga
Pada hari Bentara menyerahkan keris Tamingsari ke Hang Tuah sebagai ucapan terimakasih karena akhirnya Tamingsari terbunuh juga sebenarnya mereka tidak tahu bahwa keris itu memiliki pengaruh besar pada si pemakainya. Adalah bahwa Tamingsari handal sehandalnya serta kebal pula tubuhnya dari senjata, tidak pernah walau sekali beliau membukakan akan segala rahasianya. Jika jika mereka menyadari hal ini pasti keris itu akan jadi milik kerajaan Majapahit itu sendiri pada sifat keluarbiasaannya. Pada waktu itu jarang sekali diketemukan pahlawan yang kebal tubuhnya tidak lut senjata, sangat jarang sekali. pada waktu itu juga sangat sulit menemukan senjata kebal. Jika ada sekalipun pasti mulut tidak senang bicara. Khawatir terlalu banyak perampok. Sedangkan keris Nagasasra dan Sabukinten yang dijaga dengan baik sanggup dirampok orang. Nagasasra Sabukinten adalah salah satu keris yang mewarisi ilmu kebal dan memiliki sinar pancaran cahaya tiga warna yang sangat menakutkan jin segala khadam perang. (Sesuai dgn nama kawulo gusti) dan (muhibbah). Ini adalah informasi dari alam sana.
Keris Tamingsari tidak berapa terlihat bila diselipkan dipinggang. Karena ukurannya yang lebih kecil dan pendek dibandingkan ia dengan keris pahlawan pahlawan jawa yang lain.
Hang Tuah telah menerima sinyal spiritual yang dikenal orang sebagai ilmu firasat batin. Dengan pengetahuan itu beliau sendiri dapat mengenal kesaktian keris yang digenggam erat oleh pahlawan islam siTamingsari. Sampai akhirnya Hang Tuah mengabarkan perihal keris itu di Jakarta. maka banyak yang menginginkannya. Khadam keris Tamingsari telah kembali ke tempat asalnya sejak berada di lain negeri. Kini ia keris itu bersemayam di salah sebuah negeri di Tanah Melayu sampai tahun 2009. Setelah itu dikabarkan bahwa keris Tamingsari telah dibawa keluar dari simpanannya dan tercecer katanya sehingga tahun ini ia tidak dikembalikan. Begitu menurut kabarnya.
Maka mereka menambahkan bahwa keris itu sudah tidak akan kembali lagi kecuali mungkin akan ditemukan orang pilihan tuhan, raja segala raja. Mohon Ampun, Sembah patik harap diampun. Bukan hamba berniat tetapi inilah kebenaran yang patik dengar di balik awan mahkota yang merinin. Ampun Tuanku. Keris puaka itu dahulu menjadi buruan raja dan segala panglima. Maka diserahkan kembali oleh Hang Tuah kepada Sultan karena itulah rahasia agungnya kota Melaka di zaman Tuah. Hang Tuah lalu berkelana membawa diri. Pertemuannya dengan khidir as lebih berharga dari keris Tamingsari ...
Wallahu a'lam bissawaab.
Pusaka Golek Kencana
Pusaka Golek Kencono ini sudah tidak asing lagi bagi anda para pecinta dunia supranatural. Pusaka jenis ini banyak ragam dan bentuk serta pola. Benda bertuah jenis ini rata-rata hasil penarikan dari alam ghoib
Golok Kencono ini berfungsi untuk:
Golok Kencono ini berfungsi untuk:
- Menetralisir energi negatif didalam rumah dan memberikan ketenangan juga kedamaian.
- Pagar rumah yang sangat ampuh.
- Penarik rejeki dari berbagai arah.
- Penunjang untuk yang ingin belajar kebatinan/ilmu ghaib.
Keris Kalamunyeng
Alkisah Prabu Brawijaya murka. Pengaruh Sunan Giri salah satu dari sembilan
Wali Songo- dianggap sudah mengancam eksistensi Kerajaan Majapahit. Patih
Gajahmada dan pasukannya lalu dikirim ke Giri. Penduduk Giri pun panik dan
menghambur ke Kedaton Giri. Sunan yang saat itu sedang menulis,terkejut dan
pena (kalam) yang tengah digunakannya terlontar. Atas kehendak Sang Pencipta
pena yang terlontar itu menjelma menjadi keris ampuh dan keris inilah yang
memporakporandakan pasukan Majapahit.
Wali Songo- dianggap sudah mengancam eksistensi Kerajaan Majapahit. Patih
Gajahmada dan pasukannya lalu dikirim ke Giri. Penduduk Giri pun panik dan
menghambur ke Kedaton Giri. Sunan yang saat itu sedang menulis,terkejut dan
pena (kalam) yang tengah digunakannya terlontar. Atas kehendak Sang Pencipta
pena yang terlontar itu menjelma menjadi keris ampuh dan keris inilah yang
memporakporandakan pasukan Majapahit.
Keris Pamor Udan Mas
Bila ingin gampang memperoleh rezeki, miliki keris pamor Udan Mas. Ituiah mitos yang berkembang di kalangan masyarakat. Tak heran, keris pamor Udan Mas banyak diburu banyak kalangan, mulai dari pedagang kaki lima hingga kaum pebisnis kelas kakap.
Secara khusus, pamor Udan Mas mempunyai cir-cirl motif seperli titik-titik air hujan yang jatuh ke genangan air. Titik-titik air hujan emas. Atau secara gampang, seperti bulatan obat nyamuk, yang menggerombol dengan pola lima-lima. Antar bulatan lima itu ada jeda atau ruang sela, sehmgga secara keseluruhan pamor ini memang memiliki desain yang nilai estetikanya tmggi.
Secara khusus, pamor Udan Mas mempunyai cir-cirl motif seperli titik-titik air hujan yang jatuh ke genangan air. Titik-titik air hujan emas. Atau secara gampang, seperti bulatan obat nyamuk, yang menggerombol dengan pola lima-lima. Antar bulatan lima itu ada jeda atau ruang sela, sehmgga secara keseluruhan pamor ini memang memiliki desain yang nilai estetikanya tmggi.
Mengenal Bagian-Bagian Pada Keris dan Kegunaannya
Keris adalah sejenis pedang pendek yang berasal dari pulau Jawa, Indonesia.
Keris purba telah digunakan antara abad ke-9 dan 14. Selain digunakan sebagai senjata,keris juga sering dianggap memiliki kekuatan supranatural. Keris terbagi menjadi tiga bagian yaitu mata, hulu, dan sarung. Beberapa jenis keris memiliki mata pedang yang berkelok-kelok. Senjata ini sering disebut-sebut dalam berbagai legenda tradisional, seperti keris Mpu Gandring dalam legenda Ken Arok dan Ken Dedes.
Keris sendiri sebenarnya adalah senjata khas yang digunakan oleh daerah-daerah yang memiliki rumpun Melayu atau bangsa Melayu.Pada saat ini, Keberadaan Keris sangat umum dikenal di daerah Indonesia terutama di daerahpulau Jawa dan Sumatra, Malaysia, Brunei, Thailand dan Filipina khususnya di daerah Filipina selatan (PulauMindanao). Namun, bila dibandingkan dengan Indonesia dan Malaysia, keberadaan keris dan pembuatnya di Filipina telah menjadi hal yang sangat langka dan bahkan hampir punah.
Tata cara penggunaan keris juga berbeda di masing-masing daerah. Di daerah Jawa dan Sunda misalnya, keris ditempatkan di pinggang bagian belakang. Sementara di Sumatra, Malaysia, Brunei dan Filipina, keris ditempatkan di depan. Sebenarnya keris sendiri memiliki berbagai macam bentuk, ada yang bermata berkelok kelok (7, 9 bahkan 13), ada pula yang bermata lurus seperti di daerah Sumatera. Selain itu masih ada lagi keris yang memliki kelok tunggal seperti halnya rencong di Aceh atau Badik di Sulawesi.
Bagian-bagian keris
Sebagian ahli tosan aji mengelompokkan keris sebagai senjata tikam, sehingga bagian utama dari sebilah keris adalah wilah (bilah) atau bahasa awamnya adalah seperti mata pisau. Tetapi karena keris mempunyai kelengkapanlainnya, yaitu wrangka (sarung) dan bagian pegangan keris atau ukiran, maka kesatuan terhadap seluruh kelengkapannya disebut keris.
Pegangan keris
Pegangan keris ini bermacam-macam motifnya , untuk keris Bali ada yang bentuknya menyerupai patung dewa, patung pedande, patung raksaka, patung penari , pertapa, hutan ,dan ada yang diukir dengan kinatah emas dan batu mulia .Pegangan keris Sulawesi menggambarkan burung laut. Hal itu sebagai perlambang terhadap sebagian profesi masyarakat Sulawesi yang merupakan pelaut, sedangkan burung adalah lambang dunia atas keselamatan. Seperti juga motif kepala burung yang digunakan pada keris Riau Lingga, dan untuk daerah-daerah lainnya sebagai pusat pengembangan tosan aji seperti Aceh, Bangkinang (Riau) , Palembang, Sambas, Kutai, Bugis, Luwu, Jawa, Madura dan Sulu, keris mempunyai ukiran dan perlambang yang berbeda. Selain itu, materi yang dipergunakan pun berasal dari aneka bahan seperti gading, tulang, logam, dan yang paling banyak yaitu kayu. Untuk pegangan kerisJawa, secara garis besar terdiri dari sirah wingking ( kepala bagian belakang ) , jiling, cigir, cetek, bathuk (kepala bagian depan) ,weteng dan bungkul.
Wrangka atau Rangka
Wrangka, rangka atau sarung keris adalah bagian (kelengkapan) keris yang mempunyai fungsi tertentu, khususnya dalam kehidupan sosial masyarakat Jawa, karena bagian wrangka inilah yang secara langsung dilihat oleh umum . Wrangka yang mula-mula (sebagian besar) dibuat dari bahan kayu (jati , cendana, timoho , kemuning, dll) , kemudian sesuai dengan perkembangan zaman maka terjadi perubahan fungsi wrangka (sebagai pencerminan status sosial bagi penggunanya ). Kemudian bagian atasnya atau ladrang-gayaman sering diganti dengan gading. Secara garis besar terdapat dua macam wrangka, yaitu jenis wrangka ladrang yang terdiri dari bagian-bagian : angkup, lata, janggut, gandek, godong (berbentuk seperti daun), gandar, ri serta cangkring. Dan jenis lainnya adalah jenis wrangka gayaman (gandon) yang bagian-bagiannya hampir sama dengan wrangka ladrang tetapi tidak terdapat angkup, godong dan gandek. Aturan pemakaian bentuk wrangka ini sudah ditentukan, walaupun tidak mutlak. Wrangka ladrang dipakai untuk upacara resmi , misalkan menghadap raja, acara resmi keraton lainnya (penobatan, pengangkatan pejabat kerajaan, perkimpoian, dll) dengan maksud penghormatan. Tata cara penggunaannya adalah dengan menyelipkan gandar keris di lipatan sabuk (stagen) pada pinggang bagian belakang (termasuk sebagai pertimbangan untuk keselamatan raja ). Sedangkan wrangka gayaman dipakai untuk keperluan harian, dan keris ditempatkan pada bagian depan (dekat pinggang) ataupun di belakang (pinggang belakang). Dalam perang, yang digunakan adalah keris wrangka gayaman , pertimbangannya adalah dari sisi praktis dan ringkas, karena wrangka gayaman lebih memungkinkan cepat dan mudah bergerak, karena bentuknya lebih sederhana. Ladrang dan gayaman merupakan pola-bentuk wrangka, dan bagian utama menurut fungsi wrangka adalah bagian bawah yang berbentuk panjang ( sepanjang wilah keris ) yang disebut gandar atau antupan ,maka fungsi gandar adalah untuk membungkus wilah (bilah) dan biasanya terbuat dari kayu ( dipertimbangkan untuk tidak merusak wilah yang berbahan logam campuran ) Karena fungsi gandar untuk membungkus , sehingga fungsi keindahannya tidak diutamakan, maka untuk memperindahnya akan dilapisi seperti selongsong-silinder yang disebut pendok . Bagian pendok ( lapisan selongsong ) inilah yang biasanya diukir sangat indah , dibuat dari logam kuningan, suasa ( campuran tembaga emas ) , perak, emas . Untuk daerah diluar Jawa (kalangan raja-raja Bugis , Goa, Palembang, Riau, Bali ) pendoknya terbuat dari emas , disertai dengan tambahan hiasan seperti sulaman tali dari emas dan bunga yang bertaburkan intan berlian. Untuk keris Jawa , menurut bentuknya pendok ada tiga macam, yaitu (1) pendok bunton berbentuk selongsong pipih tanpa belahan pada sisinya , (2) pendok blewah (blengah) terbelah memanjang sampai pada salah satu ujungnya sehingga bagian gandar akan terlihat , serta (3) pendok topengan yang belahannya hanya terletak di tengah . Apabila dilihat dari hiasannya, pendok ada dua macam yaitu pendok berukir dan pendok polos (tanpa ukiran).
Wilah
Wilah atau wilahan adalah bagian utama dari sebuah keris, dan juga terdiri dari bagianbagian tertentu yang tidak sama untuk setiap wilahan, yang biasanya disebut dapur, atau penamaan ragam bentuk pada wilah-bilah (ada puluhan bentuk dapur). Sebagai contoh, bisa disebutkan dapur jangkung mayang, jaka lola , pinarak, jamang murub, bungkul , kebo tedan, pudak sitegal, dll. Pada pangkal wilahan terdapat pesi , yang merupakan ujung bawah sebilah keris atau tangkai keris. Bagian inilah yang masuk ke pegangan keris ( ukiran) . Pesi ini panjangnya antara 5 cm sampai 7 cm, dengan penampang sekitar 5 mm sampai 10 mm, bentuknya bulat panjang seperti pensil. Di daerahJawa Timur disebut paksi, di Riau disebut puting, sedangkan untuk daerah Serawak, Brunei dan Malaysia disebut punting.
Pada pangkal (dasar keris) atau bagian bawah dari sebilah keris disebut ganja (untuk daerah semenanjung Melayu menyebutnya aring). Di tengahnya terdapat lubang pesi (bulat) persis untuk memasukkan pesi, sehingga bagian wilah dan ganja tidak terpisahkan. Pengamat budaya tosan aji mengatakan bahwa kesatuan itu melambangkan kesatuan lingga dan yoni, dimana ganja mewakili lambang yoni sedangkan pesi melambangkan lingganya. Ganja ini sepintas berbentuk cecak, bagian depannya disebut sirah cecak, bagian lehernya disebut gulu meled , bagian perut disebut wetengan dan ekornya disebut sebit ron. Ragam bentuk ganja ada bermacammacam, wilut , dungkul , kelap lintah dan sebit rontal.
Luk, adalah bagian yang berkelok dari wilah-bilah keris, dan dilihat dari bentuknya keris dapat dibagi dua golongan besar, yaitu keris yang lurus dan keris yang bilahnya berkelok-kelok atau luk. Salah satu cara sederhana menghitung luk pada bilah , dimulai dari pangkal keris ke arah ujung keris, dihitung dari sisi cembung dan dilakukan pada kedua sisi seberang-menyeberang (kanan-kiri), maka bilangan terakhir adalah banyaknya luk pada wilah-bilah dan jumlahnya selalu gasal ( ganjil) dan tidak pernah genap, dan yang terkecil adalah luk tiga (3) dan terbanyak adalah luk tiga belas (13). Jika ada keris yang jumlah luk nya lebih dari tiga belas, biasanya disebut keris kalawija ,atau keris tidak lazim .
Sejarah Asal keris
Sejarah Asal keris yang kita kenal saat ini masih belum terjelaskan betul. Relief candi di Jawa lebih banyak menunjukkan ksatria-ksatria dengan senjata yang lebih banyak unsur Indianya. Keris Budha dan pengaruh India-Tiongkok Kerajaan-kerajaan awal Indonesia sangat terpengaruh oleh budaya Budha dan Hindu. Candi di Jawa tengah adalah sumber utama mengenai budaya zaman tersebut. Yang mengejutkan adalah sedikitnya penggunaan keris atau sesuatu yang serupa dengannya. Relief di Borobudur tidak menunjukkan pisau belati yang mirip dengan keris. Dari penemuan arkeologis banyak ahli yang setuju bahwa proto-keris berbentuk pisau lurus dengan bilah tebal dan lebar. Salah satu keris tipe ini adalah keris milik keluarga Knaud, didapat dari Sultan Paku Alam V. Keris ini relief di permukaannya yang berisi epik Ramayana dan terdapat tahun Jawa 1264 (1342Masehi), meski ada yang meragukan penanggalannya. Pengaruh kebudayaan Tiongkok mungkin masuk melalui kebudayaan Dongson (Vietnam) yang merupakan penghubung antara kebudayaan Tiongkok dan dunia Melayu. Terdapat keris sajen yang memiliki bentuk gagang manusia sama dengan belati Dongson.
Keris purba telah digunakan antara abad ke-9 dan 14. Selain digunakan sebagai senjata,keris juga sering dianggap memiliki kekuatan supranatural. Keris terbagi menjadi tiga bagian yaitu mata, hulu, dan sarung. Beberapa jenis keris memiliki mata pedang yang berkelok-kelok. Senjata ini sering disebut-sebut dalam berbagai legenda tradisional, seperti keris Mpu Gandring dalam legenda Ken Arok dan Ken Dedes.
Keris sendiri sebenarnya adalah senjata khas yang digunakan oleh daerah-daerah yang memiliki rumpun Melayu atau bangsa Melayu.Pada saat ini, Keberadaan Keris sangat umum dikenal di daerah Indonesia terutama di daerahpulau Jawa dan Sumatra, Malaysia, Brunei, Thailand dan Filipina khususnya di daerah Filipina selatan (PulauMindanao). Namun, bila dibandingkan dengan Indonesia dan Malaysia, keberadaan keris dan pembuatnya di Filipina telah menjadi hal yang sangat langka dan bahkan hampir punah.
Tata cara penggunaan keris juga berbeda di masing-masing daerah. Di daerah Jawa dan Sunda misalnya, keris ditempatkan di pinggang bagian belakang. Sementara di Sumatra, Malaysia, Brunei dan Filipina, keris ditempatkan di depan. Sebenarnya keris sendiri memiliki berbagai macam bentuk, ada yang bermata berkelok kelok (7, 9 bahkan 13), ada pula yang bermata lurus seperti di daerah Sumatera. Selain itu masih ada lagi keris yang memliki kelok tunggal seperti halnya rencong di Aceh atau Badik di Sulawesi.
Bagian-bagian keris
Sebagian ahli tosan aji mengelompokkan keris sebagai senjata tikam, sehingga bagian utama dari sebilah keris adalah wilah (bilah) atau bahasa awamnya adalah seperti mata pisau. Tetapi karena keris mempunyai kelengkapanlainnya, yaitu wrangka (sarung) dan bagian pegangan keris atau ukiran, maka kesatuan terhadap seluruh kelengkapannya disebut keris.
Pegangan keris
Pegangan keris ini bermacam-macam motifnya , untuk keris Bali ada yang bentuknya menyerupai patung dewa, patung pedande, patung raksaka, patung penari , pertapa, hutan ,dan ada yang diukir dengan kinatah emas dan batu mulia .Pegangan keris Sulawesi menggambarkan burung laut. Hal itu sebagai perlambang terhadap sebagian profesi masyarakat Sulawesi yang merupakan pelaut, sedangkan burung adalah lambang dunia atas keselamatan. Seperti juga motif kepala burung yang digunakan pada keris Riau Lingga, dan untuk daerah-daerah lainnya sebagai pusat pengembangan tosan aji seperti Aceh, Bangkinang (Riau) , Palembang, Sambas, Kutai, Bugis, Luwu, Jawa, Madura dan Sulu, keris mempunyai ukiran dan perlambang yang berbeda. Selain itu, materi yang dipergunakan pun berasal dari aneka bahan seperti gading, tulang, logam, dan yang paling banyak yaitu kayu. Untuk pegangan kerisJawa, secara garis besar terdiri dari sirah wingking ( kepala bagian belakang ) , jiling, cigir, cetek, bathuk (kepala bagian depan) ,weteng dan bungkul.
Wrangka atau Rangka
Wrangka, rangka atau sarung keris adalah bagian (kelengkapan) keris yang mempunyai fungsi tertentu, khususnya dalam kehidupan sosial masyarakat Jawa, karena bagian wrangka inilah yang secara langsung dilihat oleh umum . Wrangka yang mula-mula (sebagian besar) dibuat dari bahan kayu (jati , cendana, timoho , kemuning, dll) , kemudian sesuai dengan perkembangan zaman maka terjadi perubahan fungsi wrangka (sebagai pencerminan status sosial bagi penggunanya ). Kemudian bagian atasnya atau ladrang-gayaman sering diganti dengan gading. Secara garis besar terdapat dua macam wrangka, yaitu jenis wrangka ladrang yang terdiri dari bagian-bagian : angkup, lata, janggut, gandek, godong (berbentuk seperti daun), gandar, ri serta cangkring. Dan jenis lainnya adalah jenis wrangka gayaman (gandon) yang bagian-bagiannya hampir sama dengan wrangka ladrang tetapi tidak terdapat angkup, godong dan gandek. Aturan pemakaian bentuk wrangka ini sudah ditentukan, walaupun tidak mutlak. Wrangka ladrang dipakai untuk upacara resmi , misalkan menghadap raja, acara resmi keraton lainnya (penobatan, pengangkatan pejabat kerajaan, perkimpoian, dll) dengan maksud penghormatan. Tata cara penggunaannya adalah dengan menyelipkan gandar keris di lipatan sabuk (stagen) pada pinggang bagian belakang (termasuk sebagai pertimbangan untuk keselamatan raja ). Sedangkan wrangka gayaman dipakai untuk keperluan harian, dan keris ditempatkan pada bagian depan (dekat pinggang) ataupun di belakang (pinggang belakang). Dalam perang, yang digunakan adalah keris wrangka gayaman , pertimbangannya adalah dari sisi praktis dan ringkas, karena wrangka gayaman lebih memungkinkan cepat dan mudah bergerak, karena bentuknya lebih sederhana. Ladrang dan gayaman merupakan pola-bentuk wrangka, dan bagian utama menurut fungsi wrangka adalah bagian bawah yang berbentuk panjang ( sepanjang wilah keris ) yang disebut gandar atau antupan ,maka fungsi gandar adalah untuk membungkus wilah (bilah) dan biasanya terbuat dari kayu ( dipertimbangkan untuk tidak merusak wilah yang berbahan logam campuran ) Karena fungsi gandar untuk membungkus , sehingga fungsi keindahannya tidak diutamakan, maka untuk memperindahnya akan dilapisi seperti selongsong-silinder yang disebut pendok . Bagian pendok ( lapisan selongsong ) inilah yang biasanya diukir sangat indah , dibuat dari logam kuningan, suasa ( campuran tembaga emas ) , perak, emas . Untuk daerah diluar Jawa (kalangan raja-raja Bugis , Goa, Palembang, Riau, Bali ) pendoknya terbuat dari emas , disertai dengan tambahan hiasan seperti sulaman tali dari emas dan bunga yang bertaburkan intan berlian. Untuk keris Jawa , menurut bentuknya pendok ada tiga macam, yaitu (1) pendok bunton berbentuk selongsong pipih tanpa belahan pada sisinya , (2) pendok blewah (blengah) terbelah memanjang sampai pada salah satu ujungnya sehingga bagian gandar akan terlihat , serta (3) pendok topengan yang belahannya hanya terletak di tengah . Apabila dilihat dari hiasannya, pendok ada dua macam yaitu pendok berukir dan pendok polos (tanpa ukiran).
Wilah
Wilah atau wilahan adalah bagian utama dari sebuah keris, dan juga terdiri dari bagianbagian tertentu yang tidak sama untuk setiap wilahan, yang biasanya disebut dapur, atau penamaan ragam bentuk pada wilah-bilah (ada puluhan bentuk dapur). Sebagai contoh, bisa disebutkan dapur jangkung mayang, jaka lola , pinarak, jamang murub, bungkul , kebo tedan, pudak sitegal, dll. Pada pangkal wilahan terdapat pesi , yang merupakan ujung bawah sebilah keris atau tangkai keris. Bagian inilah yang masuk ke pegangan keris ( ukiran) . Pesi ini panjangnya antara 5 cm sampai 7 cm, dengan penampang sekitar 5 mm sampai 10 mm, bentuknya bulat panjang seperti pensil. Di daerahJawa Timur disebut paksi, di Riau disebut puting, sedangkan untuk daerah Serawak, Brunei dan Malaysia disebut punting.
Pada pangkal (dasar keris) atau bagian bawah dari sebilah keris disebut ganja (untuk daerah semenanjung Melayu menyebutnya aring). Di tengahnya terdapat lubang pesi (bulat) persis untuk memasukkan pesi, sehingga bagian wilah dan ganja tidak terpisahkan. Pengamat budaya tosan aji mengatakan bahwa kesatuan itu melambangkan kesatuan lingga dan yoni, dimana ganja mewakili lambang yoni sedangkan pesi melambangkan lingganya. Ganja ini sepintas berbentuk cecak, bagian depannya disebut sirah cecak, bagian lehernya disebut gulu meled , bagian perut disebut wetengan dan ekornya disebut sebit ron. Ragam bentuk ganja ada bermacammacam, wilut , dungkul , kelap lintah dan sebit rontal.
Luk, adalah bagian yang berkelok dari wilah-bilah keris, dan dilihat dari bentuknya keris dapat dibagi dua golongan besar, yaitu keris yang lurus dan keris yang bilahnya berkelok-kelok atau luk. Salah satu cara sederhana menghitung luk pada bilah , dimulai dari pangkal keris ke arah ujung keris, dihitung dari sisi cembung dan dilakukan pada kedua sisi seberang-menyeberang (kanan-kiri), maka bilangan terakhir adalah banyaknya luk pada wilah-bilah dan jumlahnya selalu gasal ( ganjil) dan tidak pernah genap, dan yang terkecil adalah luk tiga (3) dan terbanyak adalah luk tiga belas (13). Jika ada keris yang jumlah luk nya lebih dari tiga belas, biasanya disebut keris kalawija ,atau keris tidak lazim .
Sejarah Asal keris
Sejarah Asal keris yang kita kenal saat ini masih belum terjelaskan betul. Relief candi di Jawa lebih banyak menunjukkan ksatria-ksatria dengan senjata yang lebih banyak unsur Indianya. Keris Budha dan pengaruh India-Tiongkok Kerajaan-kerajaan awal Indonesia sangat terpengaruh oleh budaya Budha dan Hindu. Candi di Jawa tengah adalah sumber utama mengenai budaya zaman tersebut. Yang mengejutkan adalah sedikitnya penggunaan keris atau sesuatu yang serupa dengannya. Relief di Borobudur tidak menunjukkan pisau belati yang mirip dengan keris. Dari penemuan arkeologis banyak ahli yang setuju bahwa proto-keris berbentuk pisau lurus dengan bilah tebal dan lebar. Salah satu keris tipe ini adalah keris milik keluarga Knaud, didapat dari Sultan Paku Alam V. Keris ini relief di permukaannya yang berisi epik Ramayana dan terdapat tahun Jawa 1264 (1342Masehi), meski ada yang meragukan penanggalannya. Pengaruh kebudayaan Tiongkok mungkin masuk melalui kebudayaan Dongson (Vietnam) yang merupakan penghubung antara kebudayaan Tiongkok dan dunia Melayu. Terdapat keris sajen yang memiliki bentuk gagang manusia sama dengan belati Dongson.